Minggu, 17 Februari 2019

Belajar Mencintai Kampung Halaman dari Mahasiswa KKN UPGRIS


Oleh: Chadori Ichsan


Setiap manusia, tentu mempunyai waktu dimana ia ingin mendedikasikan dirinya kepada kampung halamannya. Dimanapun seseorang pergi jauh, bayang-bayang kampung halaman tetaplah menjadi hal yang amat dirindukan. Desa maupun kota, ramai ataupun sepi, kampung halaman tetaplah tempat yang paling indah bagi hidup seseorang.

Dalam mencintai kampung halaman, mungkin sejenak kita bisa tengok bagaimana mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) yang bertempat di Kecamatan Kaliwungu Kendal merelakan jiwa dan raganya untuk kampung yang ia tempati. Mungkin, beberapa dari kita berfikir Halah paling kkn progamnya itu-itu aja, halah paling mereka kkn cuma untuk menggugurkan tugas, halah paling mereka cuma numpang liburan, dan halah halah lainnya. Kita semua boleh berasumsi apapun terkait apa yang dilakukan oleh mahasiswa KKN. Namun untuk sejenak saja, mari kita tengok apa yang telah mahasiswa KKN UPGRIS Kecamatan Kaliwungu berikan kepada kampung halaman yang mereka tempati.

Selama di Kaliwungu, Mahasiswa KKN UPGRIS telah melakukan banyak kegiatan. Baik program-progam di tingkat kelurahan seperti bimbingan belajar kepada anak-anak kecil, berbagai pemberdayaan kepada masyarakat, maupun di tingkat kecamatan seperti expo yang baru-baru ini sukses diselenggarakan.

Mungkin kita bersepakat, bahwa suatu kegiatan yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita kemudian kita lakukan lagi tanpa ada pembaruan inovasi merupakan hal yang sia-sia. Hal ini benar-benar diperhatikan oleh Mahasiswa KKN UPGRIS. Hal itu terlihat dari program yang dilakukan oleh mereka. Tak hanya melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan KKN di tempat lain, mereka membuat sebuah kegiatan yang mungkin akan membuat dada orang yang membacanya bergetar, yaitu Pemberdayaan Masyarakat melalui Literasi Digital berbasis Kampung Halaman. Sebuah program yang mencerminkan bahwa Mahasiswa KKN UPGRIS ingin menciptakan rasa bangga dan rasa memiliki masyarakat terhadap kampung halamannya.

Dewasa ini, banyak orang yang seakan melupakan tempat dimana ia berasal. Seseorang yang sukses di daerah lain, terkadang lupa dengan tempat yang telah membesarkannya. Bahkan untuk menengok saja, terkadang ia tak sempat. Ketika orang-orang hebat mencari ilmu di daerah lain dan tidak kembali, lalu siapa lagi yang akan membangun kampung yang telah membesarkan dirinya?

Tentu program yang digagas Mahasiswa KKN UPGRIS ini merupakan sebuah pengingat sekaligus tamparan keras bagi kita semua yang hidup dan besar di kampung, namun belum satupun yang mampu kita berikan kepada kampung kita. Padahal berkat doa-doa rumput dan bebatuan kampunglah sebagian orang dapat meraih kesuksesannya. Tentunya dengan kuasa Tuhan YME.

Seseorang yang telah sukses, namun belum bisa memberi apapun ke kampung halaman, rasanya kesuksesannya belum sepenuhnya tercapai. Karena kesuksesan yang sejati adalah manakala kita mampu untuk mendedikasikan diri kepada Tuhan dan Kampung Halaman.

Mari kita sejenak berandai-andai. Suatu ketika kita sukses di daerah orang lain. Kita menjadi orang terkenal dan disegani oleh banyak orang disana. Pada suatu hari teman kita yang berasal dari daerah yang kita tinggali hendak pergi ke rumah kita. Karena bingung, ia tanya kepada tetangga yang jarak rumahnya hanya 200m dari rumah kita. Tetangga tersebut tidak tahu nama kita. Kemudian teman kita bertanya lagi ke tetangga yang lain. Namun jawaban yang didapatnya tetap sama, tetangga tersebut tidak tahu nama kita. Dalam kasus ini siapa yang salah? Tetangga kita kah? Atau bahkan kita? Yang terkenal di daerah lain namun di kampung kita sendiri tak banyak orang yang mengenal. Kita bisa berargumen sesuai dengan analisa kita. Namun yang pasti, dedikasi kepada kampung halaman merupakan hal yang amat penting bagi hidup manusia.

Mahasiswa UPGRIS melalui program pemberdayaan Pemberdayaan Masyarakat melalui Literasi Digital berbasis Kampung Halaman, telah mengajari masyarakat setempat  dan kita semua untuk mulai menanamkan cinta kepada kampung halaman kita, selain juga meningkatkan jiwa literasi di era digital ini. Program tersebut telah banyak menuai pujian banyak pihak. Salah satunya adalah beberapa seniman Kendal yang turut hadir pada program tersebut.

Kaliwungu adalah puisi yang ditatah oleh banyak orang, baik yang hidup maupun yang telah mati. Apa yang telah ditorehkan Mahasiswa KKN UPGRIS ini tentunya akan menjadi bagian dari sejarah Kaliwungu. Bahwa pada suatu hari ada mahasiswa kampus yang mendedikasikan dirinya kepada Kaliwungu dan mengajak masyarakat untuk bersama-sama menanamkan rasa cinta dan bangga terhadap Kota Santri ini. Tentu saja, para pahlawan-pahlawan Kaliwungu yang telah gugur, akan bangga melihat ini semua. Jalan dan gang-gang di Kaliwungu telah mencatat nama-nama mahasiswa yang tulus tersebut didalam sanubarinya. Kelak suatu saat, jika ia menginjakkan kaki kembali ke Kaliwungu, jalan dan gang-gang tersebut akan tersenyum dan akan menyambut mereka dengan hangat.

Selamat melajutkan tugas, Mahasiswa KKN UPGRIS! Semoga semua yang telah kalian lakukan di Kota Santri ini akan membawa berkah di kemudian hari. Semoga ketulusanmu akan membawamu terbang tinggi diatas sana, meraih cita-cita yang kalian impikan. Aamiin.

Chadori Ichsan, lahir di Kendal 15 Agustus 1996. Pemuda yang mengidolakan Nella Kharisma dan Via Vallen. Mahasiswa Kesehatan Masyarakat UNNES. Salah satu penulis Buku Antologi Puisi Tuna Asmara. Bermukim di Kendal dan di rumah virtual chadoriichsan.blogspot.com. Dapat disapa melalui ig @superchadori atau melalui wa 08979112799           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar