Selasa, 04 Desember 2018

Buku Antologi Puisi Tuna Asmara, Eksistensi Jomblo di Kendal


Oleh Chadori Ichsan



Berbicara soal jomblo, tentu semua orang mengetahuinya. Entah itu sebagi pelaku, mantan, pemerhati atau yang lainnya. Beberapa orang di Kendal menyebut seorang jomblo dengan sebutan Tuna Asmara, yaitu seseorang yang tidak punya cinta, dalam konteks ini adalah pasangan. Sering kita jumpai pula, seorang Jomblo biasanya agak sedikit dipandang sebelah mata oleh kawannya yang telah mempunyai pasangan. Beberapa justifikasi tentang jomblo seperti kurang tampan, tidak laku, dan yang lain melekat didadanya. Padahal seseorang memutuskan untuk menjadi jomblo bukan hanya karena itu saja. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit pula yang memang menjomblo karenanya.

Ada banyak cara yang kita lakukan untuk menunjukan eksistensi kita. Olahraga, bernyanyi, atau bermain musik misalnya. Namun ada hal berbeda yang dilakukan oleh 23 jomblo asal Kendal. Mereka mengekspresikan dan menasbihkan diri sebagai seorang jomblo dengan berproses kreatif menerbitkan buku antologi puisi yang bertajuk Tuna Asmara. Sontak saja, hal itu membuat kaget para pihak yang selama ini mendiskreditkan seorang jomblo. Serius? Kok bisa seorang jomblo menerbitkan buku?. Namun hal itu nyata adanya.

Perjalanan ke-23 jomblo Kendal menerbitkan buku antologi puisi Tuna Asmara dimulai dari hal yang bisa kita katakan sangat sederhana. Bahkan beberapa orang dan lainnya tak menyangka dari hal sesederhana itu bisa menjadi laku kreatif. Ya, hal itu dimulai saat acara diskusi mingguan Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang digelar di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Suatu ketika, peserta Jurasik yang telah berkeluarga dan yang telah mempunyai pasangan menyebut beberapa jomblo yang ada di dalam forum Jurasik dengan sebutan kaum Tuna Asmara.

Sebutan kaum Tuna Asmara terus melekat pada jomblo yang hadir di acara yang digelar setiap Jumat sore tersebut. Hingga beberapa episode Jurasik akhirnya sebutan Tuna Asmara menjadi sebuah kebiasaan. Hal semacam itu mungkin bisa dikatakan sebagai ledekan untuk jomblo yang hinggap di Jurasik. Namun bedanya, ledekan itu disikapi dengan istimewa oleh jomblo disitu. Bukan minder atau balas meledek, mereka malah bangga dengan kejombloannya dan membalas ledekan yang disematkan padannya dengan rencana menerbitkan sebuah buku. Bahkan karena rasa bangganya mereka sempat menamakan perkumpulannya tersebut sebagai KETAKS (Kerabat Tuna Asmara Kendal dan Sekitarnya). Meskipun anggota yang ada disitu yaitu beberapa jomblo yang sering hadir di BKR saja. Perekrutan anggota Ketaks pun tak perlu syarat apapun. Jika seorang jomblo yang datang ke Jurasik, maka secara otomatis, sadar atau tidak, ia adalah bagian dari Ketaks.

Rencana yang diinisiasi oleh Ketaks nyatanya bukan rencana kaleng-kaleng. Meski berangkat dari hal yang tak begitu serius, malah terkesan guyonan, namun mereka sangat serius dalam berlaku kreatif. Mungkin jika tak berlebihan, anggota Ketaks ini bisa dikatakan adalah jomblo-jomblo yang berkelas. Karena ia mampu mengonversi hal-hal kecil, di kota yang kecil pula, menjadi sebuah rencana karya yang besar.

Dalam menerbitkan buku Tuna Asmara ini Ketaks tidak sendirian. Beberapa hari berselang setelah rencana penerbitan buku diumumkan oleh Ketaks, mreka langsung menyebar info penerbitan buku ke seluruh jagad raya Kendal dan sekitarnya. Ketaks membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi jomblo yang ada di Kendal entah itu muda atau tua, sebentar atau lama mereka menjomblo, yang hendak ikut berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut. Alhasil setelah melewati berbagai rintangan, sebanyak 23 penyair jomblo asal Kendal dan sekitarnya berhasil terjaring, yang kemudian mengirimkan karya-karya tentang ketuna asmaraannya.

Dalam puisi-puisi yang ditulisnya, para jomblo Kendal ini pun unik-unik dan menggemaskan. Salah satunya yaitu puisi yang berjudul Tertinggal karya Abdullah Khanif. Seperti ini puisinya,“Dalam rangka mengejar cintamu, aku terlambat kasih. Aku baru sampai Palimanan, sedang kau telah sampai pelaminan”. Meski Khanif seorang musisi beraliran Metal yang kesehariannya berpenampilan sangar, namun ketika dihadapkan pada realita percintaan yang dialaminya, Khanif seolah-olah tak berdaya. Selain puisi Tertinggal karya Khanif tersebut, masih banyak lagi puisi-puisi yang unik dan menggemaskan lainnya.

Fenomena peluncuran buku yang digawangi oleh Ketaks ini seakan-akan menjadi tamparan keras bagi mereka yang mendiskreditkan jomblo sebagai orang yang kekurangan cinta dari lawan jenisnya. Lewat beberapa syair yang dituangkannya kedalam buku tersebut, seketika mereka mampu untuk menghadirkan sosok yang diimpikannya, meskipun hanya dalam tulisan. Seperti apa yang disampaikan oleh pengantar buku antologi puisi Tuna Asmara, Muslichin, S. S., M.Pd. Ia menyebut beberapa puisi dari penyair tuna asmara menggambarkan bahwa penyair sedang bermasturbasi cinta dengan menghadirkan sosok yang seakan-akan ada dalam hatinya. Padahal sebenarnya, ia hening, seperti halnya hati Abdullah Khanif tadi.

Sungguh, apa yang dilakukan oleh Ketaks ini menjadi suatu peristiwa yang begitu mengharukan. Bahwa meskipun mereka sulit mengungkapkan perasaannya kepada seseorang, namun ia mampu mengungkapkan perasaannya menjadi sebuah puisi dan diterbitkan dalam sebuah buku antologi puisi. Kini mereka hanya perlu belajar satu hal saja, yaitu bagaimana cara mereka mengungkapkan rasa kepada orang yang dicintainya dengan tepat dan sampai ke hati. Karena hal itulah sebenarnya yang menjadi kelemahan para penyair jomblo asal Kendal ini. Seperti pada puisinya “Aku paling bisa menulis kata tentang cinta. Namun dalam hal mengungkapkan rasa kepada seseorang, aku merasa yang paling bodoh didunia ini”.

Mereka patut bersyukur, karena predikat kejombloanya mereka mampu melahirkan sebuah karya yang tak main-main seperti ini. Mungkin jika saat Jurasik tidak ada ledekan kaum tuna asmara tersebut, Ketaks tidak mulai merencakan itu menjadi sebuah karya, mungkin guyonan itu hanya menjadi guyonan belaka dan buku antologi puisi Tuna Asmara ini tidak akan tercipta. Andaikan pula, waktu itu mereka mempunyai pasangan dan terlalu nyaman dengan pasangannya. Belum tentu mereka mampu berproses kreatif seperti ini. Jadi untukmu yang kini punya pasangan dan belum berproses kreatif, boleh coba untuk jomblo sejenak. Siapa tahu pacarmu nanti bakal pacaran dengan penyair tuna asmara ini. Hehehe...

Dilihat dari kualitas puisi, tentu kita tak bisa membandingkan kualitas puisi penyair jomblo ini dengan puisi-puisi karya penyair nasional semacam Djoko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, ataupun yang lain. Terlepas dari itu semua, kita bisa belajar dari Ketaks dan penyair tuna asmara ini. Bahwa sebuah karya yang besar, belum tentu dimulai dari hal yang besar pula. Bisa jadi lewat guyonan, ledekan, atau apapun hal yang begitu sederhana, mampu melahirkan karya yang besar. Asalkan kita serius dan tulus dari dalam lubuk hati kita. Namun jika buku antologi puisi Tuna Asmara ini dikatakan jelek, kurang tepat juga. Nyatanya hanya dalam 2 minggu, buku antologi puisi Tuna Asmara tersebut telah terjual habis. Bahkan, mereka berencana untuk melakukan penerbitan ke-2. Wow!

Rencana, buku antologi puisi Tuna Asmara ini akan dibedah di acara Kendali Seni Kendal 2018 yang akan digelar di Kantor Kecamatan Kaliwungu, 22-23 Desember mendatang.

Semoga dengan terbitnya buku antologi Tuna Asmara ini menjadi stimulus bagi kita semua untuk tetap breproses kreatif. Sesederhana apapun caranya. Semoga pula Ketaks dan penyair jomblo Kendal ini mampu melahirkan karya-karya barunya.

Salam..

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan. Bermukim di pinggiran Kota Kendal dan chadoriichsan.blogspot.com. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”. Dapat disapa melalui ig @superchadori dan wa 08979112799

Tidak ada komentar:

Posting Komentar