Jumat, 14 Desember 2018

Ngaji Ngopi Hepi Ajak Warga Singorojo Ngaji Budaya



Majlis Taklim Ngaji Ngopi Hepi (NNH) bergeser menyambangi daerah Kendal atas kemarin (13/12) tepatnya di Desa Singorojo Kecamatan Singorojo Kendal. Warga Singorojo malam itu tumpah ruah di Aula Balai Desa. Jamaah tak hanya yang sarungan dan berpeci, namun jamaah berambut gimbal dan bertato pun turut serta khidmat melebur bersama Gus Basyarrahman.

Gus Basyar mengawali cerita mengenai tajuk Ngaji Budaya. Begitu banyaknya budaya yang ada di Indonesia hingga tak dapat dihitung jari. Budaya-budaya asing pun dengan mudah diterima. Orang Indonesia yang cenderung lebih terbuka, khususnya orang Jawa. Gus Basyarrahman menuturkan bahwa Agama dan budaya merupakan hal yang saling berkaitan dan berkesinambungan. "Dua sisi yang tidak bisa dibelah adalah agama dan budaya, jika keduanya terpisah maka akan bertemu pada satu titik yaitu norma." terang Gus Basyar, panggilan akrabnya.

Melalui budaya sangat tepat untuk media dakwah. Beberapa Wali (Walisongo) bersyiar menggunakan budaya. Gus Basyar menegaskan kembali bahwa pendahulu orang jawa sangat mencintai budaya lokal. "Para Wali memasukkan budaya baru tidak menggerus budaya lokal, beliau-beliau malah mencintai budaya asli masyarakat seperti syiar yang dilakukan oleh Sunan Ampel, Sunan Kalijaga dan Sunan lainnya".

Sunan Kalijaga menggunakan metode dakwah wayang yang notabene masyarakat Jawa sangat mengaguminya. Melalui budaya lokal, beliau dengan cepat dicintai oleh masyarakat. Namun jika hal tersebut terjadi pada masa sekarang ini mungkin saja apa yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan mudahnya akan disebut Bid'ah. Pemahaman-pemahaman seperti ini lah yang kiranya akan sedikit diluruskan melalui Ngaji Budaya ini.



Ketika Gus Basyar bertemu ahli sanad hadits-hadits Musalsal dari Sudan, beliau bertanya, "Syaikh Awad, apakah maulidan seperti ini merupakan Bid'ah?" Kebetulan hari senin kemarin Pondok Pesantren yang diasuh beliau disambangi Syaikh Awad Kareem Al-Aqli As-Sudani, ulama dari Sudan. Disambut dengan lantunan-lantunan sholawat dari Majlis Sholawat Ahlus-Sunnah Wal Jamaah Al-Muqorrobin Kendal, Syaikh Awad menjawab "Ini Bid'ah khasanah (Bid'ah yang baik)" sambil ikut melambai-lambaikan tangan bersama Al-Muqorrobin sebagai tanda beliau sangat menyukai hal ini. Tak lupa Syaikh Awad pun memasukkan budayanya dengan berjabat tangan saling merekatkan jari-jemari ala Sudan.

Deretan acara yang begitu santai namun khidmat. Tiap penjelasan Gus Basyar dapat bersinergi dengan tepat kepada masyarakat. Sisipan lagu "Sholawat Ayo Sholawat" dengan alat musik rebana semakin meriuhkan suasana. Ditambah  pertunjukan musik akustik dari dua pemuda bertato dan gimbal yang menggetarkan hati para jamaah. Bagaimana tidak, dua personel Daun Bambu band ini menyanyikan lagu Tombo Ati dengan begitu khusyuk. Ibarat mereka berdua memang sedang tabarruk (mengharapkan berkah Allah SWT) melalui sang kiai. Mencari jalan yang lebih terang daripada sebelumnya.



"Mungkin Bapak-bapak disini bingung kenapa tampilan kami seperti ini (gimbal dan bertato). Kami sudah terlanjur seperti ini namun kami masih percaya karena Tuhan maha baik, maha welas asih sesuai dawuh guru kami, Gus Basyar." Tutur Supri sebelum menyanyikan lagu.

Rencananya kedepan Ngaji Ngopi Hepi juga akan menyambangi daerah-daerah lain yang ada di Kendal ***(BDWN)

Senin, 10 Desember 2018

Launching Gubug Seni, Karang Taruna di Patean Undang Penyair Nusantara





Karang Taruna Tunas Muda 28 di Patean Kendal Jawa Tengah, tepatnya di Desa Mlatiharo meresmikan sanggar kesenian yang mereka namai Gubug Seni Karya Kita, Minggu (9/12).

Dalam peresmiannya, mereka mengundang para penyair nusantara diantaranya Hadi Lempe, Bambang Eka P, Slamet, Hugo, Arintoko Robert, Imam RRI, Wahyu Ranggati, Luqni Maulana dan Venny Zega. Tak hanya Penyair Nusantara, beberapa komunitas dan perguruan tinggi juga turut hadir dalam persemian tersebut, diantaranya Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), Teater Atmosfer, Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Univeritas Tidar (UNTIDAR).

Acara dimulai pada pukul 14.00 wib waktu setempat dengan beberapa penampilan dari Karang Taruna Tunas Muda 28 dan beberapa sekolah yang ada di Patean, salah satunya SMK N 7 Kendal. Setelah itu dilanjut oleh beberapa penampilan dari Penyair Nusantara dan komunitas yang hadir dalam acara tersebut.

Launching Gubug Seni Karya Kita ini sebagai ikhtiar dari pegiat seni yang ada di Patean Kendal untuk megenerasi pegiat seni yang ada disana. Kebanyakan remaja sekarang yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersamai gawai juga turut melatarbelakangi terbentuknya Gubub Seni tersebut.

“Kami membentuk Gubug Seni ini supaya anak-anak disini punya kreativitas. Karena sekarang kan banyak remaja yang lebih seneng main hp daripada berproses kreatif” kata Dhiyah Endarwati, salah satu pegiat seni di Patean.


Dhiyah yang juga merupakan penyair tersebut berharap dengan adanya Gubug Seni ini laku kesenian yang ada di Patean khususnya di Desa Mlatiharjo akan terus hidup dan menghasilkan karya-karya yang dapat dinikmati oleh semua orang.

“Minta doanya, Mas. Semoga anak-anak disini istiqomah dalam berkesenian di Gubug ini dan karya-karya mereka bisa dinikmati siapapun” tambahnya.

Senada dengan Dhiyah, Hadi Sulistyono, yang juga merupakan salah satu pencetus Gubug Seni menyadari bahwa masih kurangnya ruang-ruang berkesenian yang ada di Patean ini.

“Kesenian saat ini digandrungi remaja. Namun yang menjadi persoalan adalah kurangnya ruang berkenian yang dapat menampung kreativitas mereka dan sulitnya menemukan ruang dengan pembinaan secara benar. Maka dari itu lewat Gubub Seni Karya Kita ini semoga mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut” kata Hadi Lempe, panggilan akrabnya.


Pria yang merupakan seorang Jurnalis tersebut menjelaskan bahwa Gubug Seni Karya Kita ini nantinya tidak hanya di fokuskan kepada Karang Taruna Tunas Muda 28 saja, namun juga masyarakat umum.

“Gubug Seni ini tidak hanya Karang Taruna saja yang boleh ikut. Namun kami juga akan mengajak anak-anak sekolah dari TK sampai SMA, dan juga Mahasiswa. Bahkan nanti masyarakat umum seperti petani yang ada disini boleh untuk bergabung disini” tambahnya.

Keberadaan Gubug Seni Karya Kita ini mungkin akan menjadi stimulus bagi para pegiat seni yang ada di Patean dan sekitarnya. Meskipun Patean merupakan daerah atas Kabupaten Kendal yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung, namun para pegiat seni dan para remaja yang ada disini tetap semangat untuk terus berkontribusi untuk Kendal. ***(CDR)




Selasa, 04 Desember 2018

Buku Antologi Puisi Tuna Asmara, Eksistensi Jomblo di Kendal


Oleh Chadori Ichsan



Berbicara soal jomblo, tentu semua orang mengetahuinya. Entah itu sebagi pelaku, mantan, pemerhati atau yang lainnya. Beberapa orang di Kendal menyebut seorang jomblo dengan sebutan Tuna Asmara, yaitu seseorang yang tidak punya cinta, dalam konteks ini adalah pasangan. Sering kita jumpai pula, seorang Jomblo biasanya agak sedikit dipandang sebelah mata oleh kawannya yang telah mempunyai pasangan. Beberapa justifikasi tentang jomblo seperti kurang tampan, tidak laku, dan yang lain melekat didadanya. Padahal seseorang memutuskan untuk menjadi jomblo bukan hanya karena itu saja. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit pula yang memang menjomblo karenanya.

Ada banyak cara yang kita lakukan untuk menunjukan eksistensi kita. Olahraga, bernyanyi, atau bermain musik misalnya. Namun ada hal berbeda yang dilakukan oleh 23 jomblo asal Kendal. Mereka mengekspresikan dan menasbihkan diri sebagai seorang jomblo dengan berproses kreatif menerbitkan buku antologi puisi yang bertajuk Tuna Asmara. Sontak saja, hal itu membuat kaget para pihak yang selama ini mendiskreditkan seorang jomblo. Serius? Kok bisa seorang jomblo menerbitkan buku?. Namun hal itu nyata adanya.

Perjalanan ke-23 jomblo Kendal menerbitkan buku antologi puisi Tuna Asmara dimulai dari hal yang bisa kita katakan sangat sederhana. Bahkan beberapa orang dan lainnya tak menyangka dari hal sesederhana itu bisa menjadi laku kreatif. Ya, hal itu dimulai saat acara diskusi mingguan Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang digelar di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Suatu ketika, peserta Jurasik yang telah berkeluarga dan yang telah mempunyai pasangan menyebut beberapa jomblo yang ada di dalam forum Jurasik dengan sebutan kaum Tuna Asmara.

Sebutan kaum Tuna Asmara terus melekat pada jomblo yang hadir di acara yang digelar setiap Jumat sore tersebut. Hingga beberapa episode Jurasik akhirnya sebutan Tuna Asmara menjadi sebuah kebiasaan. Hal semacam itu mungkin bisa dikatakan sebagai ledekan untuk jomblo yang hinggap di Jurasik. Namun bedanya, ledekan itu disikapi dengan istimewa oleh jomblo disitu. Bukan minder atau balas meledek, mereka malah bangga dengan kejombloannya dan membalas ledekan yang disematkan padannya dengan rencana menerbitkan sebuah buku. Bahkan karena rasa bangganya mereka sempat menamakan perkumpulannya tersebut sebagai KETAKS (Kerabat Tuna Asmara Kendal dan Sekitarnya). Meskipun anggota yang ada disitu yaitu beberapa jomblo yang sering hadir di BKR saja. Perekrutan anggota Ketaks pun tak perlu syarat apapun. Jika seorang jomblo yang datang ke Jurasik, maka secara otomatis, sadar atau tidak, ia adalah bagian dari Ketaks.

Rencana yang diinisiasi oleh Ketaks nyatanya bukan rencana kaleng-kaleng. Meski berangkat dari hal yang tak begitu serius, malah terkesan guyonan, namun mereka sangat serius dalam berlaku kreatif. Mungkin jika tak berlebihan, anggota Ketaks ini bisa dikatakan adalah jomblo-jomblo yang berkelas. Karena ia mampu mengonversi hal-hal kecil, di kota yang kecil pula, menjadi sebuah rencana karya yang besar.

Dalam menerbitkan buku Tuna Asmara ini Ketaks tidak sendirian. Beberapa hari berselang setelah rencana penerbitan buku diumumkan oleh Ketaks, mreka langsung menyebar info penerbitan buku ke seluruh jagad raya Kendal dan sekitarnya. Ketaks membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi jomblo yang ada di Kendal entah itu muda atau tua, sebentar atau lama mereka menjomblo, yang hendak ikut berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut. Alhasil setelah melewati berbagai rintangan, sebanyak 23 penyair jomblo asal Kendal dan sekitarnya berhasil terjaring, yang kemudian mengirimkan karya-karya tentang ketuna asmaraannya.

Dalam puisi-puisi yang ditulisnya, para jomblo Kendal ini pun unik-unik dan menggemaskan. Salah satunya yaitu puisi yang berjudul Tertinggal karya Abdullah Khanif. Seperti ini puisinya,“Dalam rangka mengejar cintamu, aku terlambat kasih. Aku baru sampai Palimanan, sedang kau telah sampai pelaminan”. Meski Khanif seorang musisi beraliran Metal yang kesehariannya berpenampilan sangar, namun ketika dihadapkan pada realita percintaan yang dialaminya, Khanif seolah-olah tak berdaya. Selain puisi Tertinggal karya Khanif tersebut, masih banyak lagi puisi-puisi yang unik dan menggemaskan lainnya.

Fenomena peluncuran buku yang digawangi oleh Ketaks ini seakan-akan menjadi tamparan keras bagi mereka yang mendiskreditkan jomblo sebagai orang yang kekurangan cinta dari lawan jenisnya. Lewat beberapa syair yang dituangkannya kedalam buku tersebut, seketika mereka mampu untuk menghadirkan sosok yang diimpikannya, meskipun hanya dalam tulisan. Seperti apa yang disampaikan oleh pengantar buku antologi puisi Tuna Asmara, Muslichin, S. S., M.Pd. Ia menyebut beberapa puisi dari penyair tuna asmara menggambarkan bahwa penyair sedang bermasturbasi cinta dengan menghadirkan sosok yang seakan-akan ada dalam hatinya. Padahal sebenarnya, ia hening, seperti halnya hati Abdullah Khanif tadi.

Sungguh, apa yang dilakukan oleh Ketaks ini menjadi suatu peristiwa yang begitu mengharukan. Bahwa meskipun mereka sulit mengungkapkan perasaannya kepada seseorang, namun ia mampu mengungkapkan perasaannya menjadi sebuah puisi dan diterbitkan dalam sebuah buku antologi puisi. Kini mereka hanya perlu belajar satu hal saja, yaitu bagaimana cara mereka mengungkapkan rasa kepada orang yang dicintainya dengan tepat dan sampai ke hati. Karena hal itulah sebenarnya yang menjadi kelemahan para penyair jomblo asal Kendal ini. Seperti pada puisinya “Aku paling bisa menulis kata tentang cinta. Namun dalam hal mengungkapkan rasa kepada seseorang, aku merasa yang paling bodoh didunia ini”.

Mereka patut bersyukur, karena predikat kejombloanya mereka mampu melahirkan sebuah karya yang tak main-main seperti ini. Mungkin jika saat Jurasik tidak ada ledekan kaum tuna asmara tersebut, Ketaks tidak mulai merencakan itu menjadi sebuah karya, mungkin guyonan itu hanya menjadi guyonan belaka dan buku antologi puisi Tuna Asmara ini tidak akan tercipta. Andaikan pula, waktu itu mereka mempunyai pasangan dan terlalu nyaman dengan pasangannya. Belum tentu mereka mampu berproses kreatif seperti ini. Jadi untukmu yang kini punya pasangan dan belum berproses kreatif, boleh coba untuk jomblo sejenak. Siapa tahu pacarmu nanti bakal pacaran dengan penyair tuna asmara ini. Hehehe...

Dilihat dari kualitas puisi, tentu kita tak bisa membandingkan kualitas puisi penyair jomblo ini dengan puisi-puisi karya penyair nasional semacam Djoko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, ataupun yang lain. Terlepas dari itu semua, kita bisa belajar dari Ketaks dan penyair tuna asmara ini. Bahwa sebuah karya yang besar, belum tentu dimulai dari hal yang besar pula. Bisa jadi lewat guyonan, ledekan, atau apapun hal yang begitu sederhana, mampu melahirkan karya yang besar. Asalkan kita serius dan tulus dari dalam lubuk hati kita. Namun jika buku antologi puisi Tuna Asmara ini dikatakan jelek, kurang tepat juga. Nyatanya hanya dalam 2 minggu, buku antologi puisi Tuna Asmara tersebut telah terjual habis. Bahkan, mereka berencana untuk melakukan penerbitan ke-2. Wow!

Rencana, buku antologi puisi Tuna Asmara ini akan dibedah di acara Kendali Seni Kendal 2018 yang akan digelar di Kantor Kecamatan Kaliwungu, 22-23 Desember mendatang.

Semoga dengan terbitnya buku antologi Tuna Asmara ini menjadi stimulus bagi kita semua untuk tetap breproses kreatif. Sesederhana apapun caranya. Semoga pula Ketaks dan penyair jomblo Kendal ini mampu melahirkan karya-karya barunya.

Salam..

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan. Bermukim di pinggiran Kota Kendal dan chadoriichsan.blogspot.com. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”. Dapat disapa melalui ig @superchadori dan wa 08979112799

Minggu, 02 Desember 2018

Begini Cara PSK Rayakan Ulang Tahun



Setiap orang, organisasi, maupun komunitas mempunyai caranya tersendiri dalam merayakan hari ulang tahunnya. Ada yang merayakannya dengan tumpengan, doa bersama, atau yang lainnya.

Pelataran Sastra Kaliwungu atau yang kerap disingkat PSK, merayakan ulang tahunnya dengan proses kreatif yaitu dengan cara mengadakan pelatihan menulis puisi dengan mendatangkan narasumber Heri Condro Santoso atau yang akrab disapa Heri CS.

Heri CS merupakan penyair dan jurnalis yang giat bergerak dalam bidang literasi. Beberapa karyanya pernah dibukukan, salah satunya dalam antologi esai "Ramadan di Kampung Halaman" yang diinisiasi oleh Lembaga Seni dan Budaya (Lesbumi) NU Kendal.

Selain sebagi penulis, Heri CS juga merupakan pegiat komunitas yang ada di Kendal. Ia merupakan koordinator Komunitas Lereng medini Kendal. Komunitas yang bergerak dalam bidang literasi tersebut mempunyai beberapa program. Salah satunya acara tahunan yang bertajuk Kemah Sastra. Sebuah wadah diskusi literasi dengan mendatangkan penyair kelas nasional.

Acara Pelatihan Menulis Puisi yang adakan dalam rangka ulang tahun PSK ke-7 tersebut disambut baik oleh beberapa peserta. Tercatat, sebanyak 26 peserta antusias mengikuti pelatihan yang diadakan di MI NU 04 Kumpulrejo Kaliwungu pada minggu pagi, 2 Desember 2018. Tak hanya dari Kendal, beberapa mahasiswa dari Semarang pun turut hadir mengikuti pelatihan.

Presiden PSK, Bahrul Ulum Amalik, menuturkan bahwa pelatihan menulis ini sebagai ikhtiar PSK untuk terus bergerak dalam dunia literasi, khususnya di Kabupaten Kendal. "Pelatihan ini adalah salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari lahir PSK. Pelatihan ini juga sebagai ikhtiar kami dalam meningkatkan laku kreatif dalam hal sastra"

Pria yang akrab disapa Ulum tersebut juga menambahkan, dalam kiprahnya selama 7 tahun ini PSK telah mengadakan beberapa program. "PSK lahir pada tanggal 9 Desember 2011, waktu itu para pegiat sastra di Kaliwungu ini ingin ada sebuah wadah yang bisa memberikan ruang untuk bergerak dalam bidang sastra. Makanya dari obrolan satu sama lain kami sepakat membentuk Pelataran Sastra Kaliwungu. Kami mempunyai 2 sub program. Program yang sifatnya diskusi, masuk dalam sub ngopi sastra. Sedangkan yang sifatnya apresiasi sastra masuk dalam sub D'Ruang"

Dalam pelatihan, Heri CS menjelaskan beberapa kiat-kiat menulis puisi. Menurutnya salah satu hal yang paling mendasar dalam menulis entah itu puisi, esai, atau yang lain adalah SPOK. "Sebagai penulis, hendaknya kita menguasai beberapa teknik. Salah satunya yaitu bahasa dan SPOK. Bahasa adalah alat kita dalam menulis. Sama halnya seperti kuli bangunan yang mempunyai alat semacam palu untuk membangun sebuah rumah, sastrawan juga harus mempunyai alat untuk membangun sebuah tulisan". Ungkap pria yang merupakan alumni Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang tersebut.

Ia juga menambahkan, bahwa membaca puisi dari penyair lokal maupun nasional sangat membantu dalam menulis puisi. "Untuk menulis puisi, hendaknya kita membaca puisi-puisi orang lain agar kita bisa tahu gaya penyair dalam menulis puisi. Misalnya Sapardi Djoko Darmono dengan gaya puisinya yang sederhana namun sangat mengena, puisi WS Rendra yang kebanyakan menceritakan tentang kehidupan sosial, ataupun Wiji Tukul yang puisinya merupakan bentuk kritik terhadap pemerintahan".

Selain itu, Heri CS juga meminjam salah metode Ki Hajar Dewantara dalam menulis puisi. Menurut Ki Hajar Dewantara, ada metode 3N dalam menulis puisi, Niteni (membaca), Nirokke (menirukan), dan Nambahi yaitu (Menambahkan, Mengarang)


Tidak hanya sekedar materi yang disampaikan oleh narasumber, para peserta pun dituntut untuk menulis puisi pada pelatihan tersebut. Beberapa karya dari peserta diapresiasi oleh narasumber dengan diberikan buku.

Rencana puisi-puisi yang telah ditulis oleh peserta pelatihan menulis puisi yang diadakan PSK tersebut akan dibukukan.

***(CDR)