Minggu, 12 Agustus 2018

Hari Jadi Kendal ke-413, Menjaga Kendal Sepenuh Hati


Oleh Chadori Ichsan


413 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah kota untuk memajukan daerahnya. Kendal telah mengalami beberapa perubahan seiring dengan peradaban zaman. Tata kota, pendidikan, kesenian, dan segala sesuatunya telah berbeda. Contoh kecil saja dulu rata-rata pendidikan masyarakat di Kendal mungkin hanya sampai pada SD maupun SMP saja. Namun saat ini banyak pelajar di Kendal yang sampai pada jenjang Perguruan Tinggi, bahkan banyak pula yang kuliah di Luar Negeri. Adanya pergeseran ini tentunya menimbulkan dampak yang postif dan negatif bagi Kendal.

Sekilas tentang kondisi sosiologis, masyarakat Kendal sebagian besar adalah masyarakat pedesaan yang masih memegang erat kearifan lokalnya. Entah itu dalam hal agama maupun kehidupan sosialnya. Diantaranya yaitu beberapa tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Kendal yaitu Ziarah ke Makam Wali, Weh-Wehan, Dugderan, Dundunan/Mudun Lemah, Syawalan dan masih banyak lagi. Dalam konteks komunikasi, masyarakat Kendal memiliki ciri khas sendiri yaitu dengan tambahan kosakata Ra dan Meni/Neni. Misalnya wingi awake dewe dolan ning Kendal, kotane apik neni ra (Kemarin kita main ke Kendal, kotanya bagus sekali kan). Selain Ra dan Meni/Neni ada juga kosakata ciri khas Kendal yaitu dengan menambahkan suku kata terakhir untuk menegaskan suatu hal. Misalnya Wong Kendal ki sangar-ngar, Kendal ki dalane apik-pik (Orang Kendal itu hebat sekali. Kendal itu jalannya sangat bagus).

Dalam hal perindustrian, kini Kendal sudah mulai dilirik oleh investor-investor baik dalam maupun luar negeri. Bahkan beberapa investor sudah menanamkan sahamnya di Kendal. Contoh terbaru adalah PT Jababeka Tbk dan skala kota asal Singapura, Sembcorp Development Indonesia Ltd yang telah membangun Kawasan Industri Kendal (KIK) dengan porsi kepemilikan saham 51:49 persen. KIK rencanannya akan menyerap sebanyak 500.000 tenaga kerja. Letak KIK sangat strategis, berada di Jalur Lingkar Kaliwungu Kendal, akses dari KIK ke Pelabuhan Kendal dapat ditempuh dengan hanya sekitar 10 menit saja. Pun dengan jarak KIK dengan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang yang dapat ditempuh hanya dengan waktu sekitar 1 jam. Maka tak heran, dengan luas 2700 ha2 KIK digadang-gadang akan menjadi Kawasan Industri terbesar di Jawa Tengah, bahkan akan menyaingi Kawasan Industri terbesar di Indonesia yang berada di Karawang Jawa Barat.

Berbicara soal masa depan, generasi muda Kendal sepertinya mempunyai tanggung jawab yang lebih dari yang lain. Dalam transisi menuju kiblat industri, banyak yang harus dipersiapkan oleh pemuda Kendal. KIK menjadi hembusan angin segar bagi seluruh masyarakat Kendal. Terutama bagi pemuda yang masih kesulitan mencari pekerjaan. Namun jangan sampai karena seringnya angin itu berhembus, masyarakat terlena dan angin itu hanya menjadi hembusan semata. Pemuda Kendal harus menyiapkan skill mereka dalam hal apapun untuk menyongsong kota industi Kendal. Tentu seorang manager akan memilih calon tenaga kerja yang skillnya bagus untuk dapat bekerja di perusahaannya.

Kendal sering disebut sebagai ruang antara karena posisi kota ini yang setengah-setengah. Maksudnya yaitu kota ini dikatakan maju belum sepenuhnya, karena masih kalah dari Semarang, dikatakan kota yang tertinggal juga tidak karena kota Kendal sudah mulai berbenah dalam berbagai hal. Tentunya kondisi ini menjadi perhatian bagi masyarakat Kendal khususnya para pemudanya. Generasi muda Kendal harus tahu apa yang harus mereka persiapkan. Mau dibawa kemana kota ini suatu saat nanti. Sebagai warga Kendal kita harus memiliki Kendal sepenuhnya. Tentu kita tak mau jika KIK nantinya terbangun megah, namun kita hanya dapat menikmati limbah dan asap industrinya saja. Pun dengan pariwisata yang ada di Kendal. Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi tukang parkir, penjual es, dan pedagang asongan di objek wisatanya. Sementara hasil wisata masuk ke dalam kantong kapitalis.

Dibalik hingar-bingar menuju kota Industri, Kendal masih mempunyai seniman-seniman yang secara konsisten melahirkan karya-karyanya untuk kota ini. Salah satunya adalah acara diskusi Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang dinaungi oleh Jarak Dekat Art Production. Acara yang digelar pada hari jumat sore di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal tersebut secara istiqomah menjadi wadah diskusi bagi seluruh komunitas yang ada di Kendal setiap minggunya. Baik komunitas seni, motor, olahraga, dan lain-lain. Jurasik disambut baik oleh seniman dan komunitas baik di dalam maupun luar kota. Tidak ada pendanaan dari pihak manapun, baik Pemda maupun Sponsor. Segala sesuatu yang menunjang acara Jurasik diperoleh dari patungan secara sukarela dari peserta Jurasik melalui koin kreatif. Meskipun beberapa ada yang menyayangkan kondisi gedung BKR yang kurang layak pakai, tetapi hal tersebut disikapi dengan dingin oleh seniman Kendal. Bagi mereka, melahirkan karya demi karya merupakan tujuan utama mereka daripada harus meributkan soal tempat. Selain Jurasik, seniman dan komunitas yang ada di Kendal setiap tahunnya juga mengadakan acara Kendali Seni Kendal (KSK). Yaitu sebuah acara yang mempertemukan seluruh seniman dan komunitas yang ada di Kendal beserta karya-karya yang ditampilkannya. Tahun 2018 ini merupakan gelarannya yang ke-3 kalinya. Rencana KSK #3 akan digelar pada bulan Oktober di Alun-Alun Kabupaten Kendal.

Disamping menggelar Jurasik dan KSK, beberapa tahun terakhir ini para pegiat seni di Kendal mencoba mencari tahu dan mencoba memperkenalkan salah satu suku yang ada di Kabupaten Kendal, yaitu Suku Kalang yang nantinya juga akan diangkat menjadi tema dalam Kendali Seni Kendal #3. Dalam kisah sejarahnya, Suku Kalang memiliki beberapa versi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Kendal, Muslichin, Suku Kalang sudah ada sejak zaman kerajaan hindu dahulu. Suku ini berasal dari Srilangka dan sekitarnya. Suku Kalang ini ada kaitannya dengan legenda sejarah Sangkuriang. Dulu orang-orang Kalang dikenal sebagai orang yang sangat gigih dalam melakukan suatu pekerjaan. Suku Kalang tersebar di beberapa desa yang ada di Kendal. Diantaranya Poncorejo Gemuh, Montongsari Weleri, dan Sendang Dawuhan Weleri. Suku kalang masih menjaga betul tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh Suku Kalang yaitu tradisi Mendak. Mendak dalam Bahasa Jawa berarti memperingati. Tradisi Mendak Suku Kalang yaitu memperingati orang yang telah meninggal dunia dengan melaksanakan beberapa prosesi diantaranya Weh-Wehan Mangan, Sesangonan, dan Kalang Obong. Acara mendak biasanya dilaksanakan oleh Suku Kalang 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 3 tahun setelah orang meninggal dunia. Suku Kalang merupakan salah satu kekayaan sejarah yang ada di Kendal yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kendal.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk meriwayatkan segala sesuatu yang ada di Kendal. Dengan berbagai kesibukan, mereka menyisihkan waktu mereka. Waktu untuk bekerja, untuk tidur, bahkan waktu berkumpul dengan anak dan istri, mereka ikhlaskan untuk terus menjaga kekayaan kota ini. Tak ada imbalan apapun dari itu semua. Tak jarang mereka mengorbankan uang pribadinya untuk keperluan tersebut yang terkadang tidak sedikit. Dalam hidup mereka mempunyai prinsip Sugih tanpa Bandha (Kaya tanpa Materi). Hal itu menjadi tamparan keras bagi sebagian orang di kota ini yang berkontribusi untuk Kendal hanya untuk mendapatkan uang ataupun kekuasaan. Tapi ya orang yang menggadaikan cintanya kepada Kendal memang harus ditampar, bahkan lebih.

Di usianya yang ke-413, Kendal pantas berterimakasih kepada seniman dan komunitas yang ada di Kendal. Bahkan mereka layak diberi penghargaan. Dibalik ramainya beberapa orang yang berebut proyek untuk pemilu yang sebentar lagi bergulir, mereka secara konsisten menjaga jatidiri dan kekayaan Kendal dengan tangan dingin dan ketulusan hati mereka.

Mencintai Kendal adalah bagaimana kita mengikhlaskan hati, pikiran, dan raga kita untuk memajukan kota ini. Sama seperti Tumenggung Bahurekso dulu yang mengikhlaskan segala yang ia punya untuk berperang melawan tentara VOC. Semangat dan ketulusan hati Bahurekso harus mampu diteladani oleh seluruh elemen yang ada di Kendal. Baik itu anak kecil, pemuda maupun orang tua. Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mempersembahkan sesuatu untuk kota yang telah melahirkan dan membesarkan kita ini.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk menjaga kekayaan di Kendal dan mencintai Kendal dengan sepenuh hati tanpa imbalan apapun. Lalu kita kapan akan berjuang bersama mereka?

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan dan mempunyai hobi berkesenian. Berasal dari pinggiran Kota Kendal. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”





Tidak ada komentar:

Posting Komentar