Minggu, 12 Agustus 2018

Hari Jadi Kendal ke-413, Menjaga Kendal Sepenuh Hati


Oleh Chadori Ichsan


413 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah kota untuk memajukan daerahnya. Kendal telah mengalami beberapa perubahan seiring dengan peradaban zaman. Tata kota, pendidikan, kesenian, dan segala sesuatunya telah berbeda. Contoh kecil saja dulu rata-rata pendidikan masyarakat di Kendal mungkin hanya sampai pada SD maupun SMP saja. Namun saat ini banyak pelajar di Kendal yang sampai pada jenjang Perguruan Tinggi, bahkan banyak pula yang kuliah di Luar Negeri. Adanya pergeseran ini tentunya menimbulkan dampak yang postif dan negatif bagi Kendal.

Sekilas tentang kondisi sosiologis, masyarakat Kendal sebagian besar adalah masyarakat pedesaan yang masih memegang erat kearifan lokalnya. Entah itu dalam hal agama maupun kehidupan sosialnya. Diantaranya yaitu beberapa tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Kendal yaitu Ziarah ke Makam Wali, Weh-Wehan, Dugderan, Dundunan/Mudun Lemah, Syawalan dan masih banyak lagi. Dalam konteks komunikasi, masyarakat Kendal memiliki ciri khas sendiri yaitu dengan tambahan kosakata Ra dan Meni/Neni. Misalnya wingi awake dewe dolan ning Kendal, kotane apik neni ra (Kemarin kita main ke Kendal, kotanya bagus sekali kan). Selain Ra dan Meni/Neni ada juga kosakata ciri khas Kendal yaitu dengan menambahkan suku kata terakhir untuk menegaskan suatu hal. Misalnya Wong Kendal ki sangar-ngar, Kendal ki dalane apik-pik (Orang Kendal itu hebat sekali. Kendal itu jalannya sangat bagus).

Dalam hal perindustrian, kini Kendal sudah mulai dilirik oleh investor-investor baik dalam maupun luar negeri. Bahkan beberapa investor sudah menanamkan sahamnya di Kendal. Contoh terbaru adalah PT Jababeka Tbk dan skala kota asal Singapura, Sembcorp Development Indonesia Ltd yang telah membangun Kawasan Industri Kendal (KIK) dengan porsi kepemilikan saham 51:49 persen. KIK rencanannya akan menyerap sebanyak 500.000 tenaga kerja. Letak KIK sangat strategis, berada di Jalur Lingkar Kaliwungu Kendal, akses dari KIK ke Pelabuhan Kendal dapat ditempuh dengan hanya sekitar 10 menit saja. Pun dengan jarak KIK dengan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang yang dapat ditempuh hanya dengan waktu sekitar 1 jam. Maka tak heran, dengan luas 2700 ha2 KIK digadang-gadang akan menjadi Kawasan Industri terbesar di Jawa Tengah, bahkan akan menyaingi Kawasan Industri terbesar di Indonesia yang berada di Karawang Jawa Barat.

Berbicara soal masa depan, generasi muda Kendal sepertinya mempunyai tanggung jawab yang lebih dari yang lain. Dalam transisi menuju kiblat industri, banyak yang harus dipersiapkan oleh pemuda Kendal. KIK menjadi hembusan angin segar bagi seluruh masyarakat Kendal. Terutama bagi pemuda yang masih kesulitan mencari pekerjaan. Namun jangan sampai karena seringnya angin itu berhembus, masyarakat terlena dan angin itu hanya menjadi hembusan semata. Pemuda Kendal harus menyiapkan skill mereka dalam hal apapun untuk menyongsong kota industi Kendal. Tentu seorang manager akan memilih calon tenaga kerja yang skillnya bagus untuk dapat bekerja di perusahaannya.

Kendal sering disebut sebagai ruang antara karena posisi kota ini yang setengah-setengah. Maksudnya yaitu kota ini dikatakan maju belum sepenuhnya, karena masih kalah dari Semarang, dikatakan kota yang tertinggal juga tidak karena kota Kendal sudah mulai berbenah dalam berbagai hal. Tentunya kondisi ini menjadi perhatian bagi masyarakat Kendal khususnya para pemudanya. Generasi muda Kendal harus tahu apa yang harus mereka persiapkan. Mau dibawa kemana kota ini suatu saat nanti. Sebagai warga Kendal kita harus memiliki Kendal sepenuhnya. Tentu kita tak mau jika KIK nantinya terbangun megah, namun kita hanya dapat menikmati limbah dan asap industrinya saja. Pun dengan pariwisata yang ada di Kendal. Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi tukang parkir, penjual es, dan pedagang asongan di objek wisatanya. Sementara hasil wisata masuk ke dalam kantong kapitalis.

Dibalik hingar-bingar menuju kota Industri, Kendal masih mempunyai seniman-seniman yang secara konsisten melahirkan karya-karyanya untuk kota ini. Salah satunya adalah acara diskusi Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang dinaungi oleh Jarak Dekat Art Production. Acara yang digelar pada hari jumat sore di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal tersebut secara istiqomah menjadi wadah diskusi bagi seluruh komunitas yang ada di Kendal setiap minggunya. Baik komunitas seni, motor, olahraga, dan lain-lain. Jurasik disambut baik oleh seniman dan komunitas baik di dalam maupun luar kota. Tidak ada pendanaan dari pihak manapun, baik Pemda maupun Sponsor. Segala sesuatu yang menunjang acara Jurasik diperoleh dari patungan secara sukarela dari peserta Jurasik melalui koin kreatif. Meskipun beberapa ada yang menyayangkan kondisi gedung BKR yang kurang layak pakai, tetapi hal tersebut disikapi dengan dingin oleh seniman Kendal. Bagi mereka, melahirkan karya demi karya merupakan tujuan utama mereka daripada harus meributkan soal tempat. Selain Jurasik, seniman dan komunitas yang ada di Kendal setiap tahunnya juga mengadakan acara Kendali Seni Kendal (KSK). Yaitu sebuah acara yang mempertemukan seluruh seniman dan komunitas yang ada di Kendal beserta karya-karya yang ditampilkannya. Tahun 2018 ini merupakan gelarannya yang ke-3 kalinya. Rencana KSK #3 akan digelar pada bulan Oktober di Alun-Alun Kabupaten Kendal.

Disamping menggelar Jurasik dan KSK, beberapa tahun terakhir ini para pegiat seni di Kendal mencoba mencari tahu dan mencoba memperkenalkan salah satu suku yang ada di Kabupaten Kendal, yaitu Suku Kalang yang nantinya juga akan diangkat menjadi tema dalam Kendali Seni Kendal #3. Dalam kisah sejarahnya, Suku Kalang memiliki beberapa versi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Kendal, Muslichin, Suku Kalang sudah ada sejak zaman kerajaan hindu dahulu. Suku ini berasal dari Srilangka dan sekitarnya. Suku Kalang ini ada kaitannya dengan legenda sejarah Sangkuriang. Dulu orang-orang Kalang dikenal sebagai orang yang sangat gigih dalam melakukan suatu pekerjaan. Suku Kalang tersebar di beberapa desa yang ada di Kendal. Diantaranya Poncorejo Gemuh, Montongsari Weleri, dan Sendang Dawuhan Weleri. Suku kalang masih menjaga betul tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh Suku Kalang yaitu tradisi Mendak. Mendak dalam Bahasa Jawa berarti memperingati. Tradisi Mendak Suku Kalang yaitu memperingati orang yang telah meninggal dunia dengan melaksanakan beberapa prosesi diantaranya Weh-Wehan Mangan, Sesangonan, dan Kalang Obong. Acara mendak biasanya dilaksanakan oleh Suku Kalang 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 3 tahun setelah orang meninggal dunia. Suku Kalang merupakan salah satu kekayaan sejarah yang ada di Kendal yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kendal.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk meriwayatkan segala sesuatu yang ada di Kendal. Dengan berbagai kesibukan, mereka menyisihkan waktu mereka. Waktu untuk bekerja, untuk tidur, bahkan waktu berkumpul dengan anak dan istri, mereka ikhlaskan untuk terus menjaga kekayaan kota ini. Tak ada imbalan apapun dari itu semua. Tak jarang mereka mengorbankan uang pribadinya untuk keperluan tersebut yang terkadang tidak sedikit. Dalam hidup mereka mempunyai prinsip Sugih tanpa Bandha (Kaya tanpa Materi). Hal itu menjadi tamparan keras bagi sebagian orang di kota ini yang berkontribusi untuk Kendal hanya untuk mendapatkan uang ataupun kekuasaan. Tapi ya orang yang menggadaikan cintanya kepada Kendal memang harus ditampar, bahkan lebih.

Di usianya yang ke-413, Kendal pantas berterimakasih kepada seniman dan komunitas yang ada di Kendal. Bahkan mereka layak diberi penghargaan. Dibalik ramainya beberapa orang yang berebut proyek untuk pemilu yang sebentar lagi bergulir, mereka secara konsisten menjaga jatidiri dan kekayaan Kendal dengan tangan dingin dan ketulusan hati mereka.

Mencintai Kendal adalah bagaimana kita mengikhlaskan hati, pikiran, dan raga kita untuk memajukan kota ini. Sama seperti Tumenggung Bahurekso dulu yang mengikhlaskan segala yang ia punya untuk berperang melawan tentara VOC. Semangat dan ketulusan hati Bahurekso harus mampu diteladani oleh seluruh elemen yang ada di Kendal. Baik itu anak kecil, pemuda maupun orang tua. Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mempersembahkan sesuatu untuk kota yang telah melahirkan dan membesarkan kita ini.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk menjaga kekayaan di Kendal dan mencintai Kendal dengan sepenuh hati tanpa imbalan apapun. Lalu kita kapan akan berjuang bersama mereka?

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan dan mempunyai hobi berkesenian. Berasal dari pinggiran Kota Kendal. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”





Rabu, 08 Agustus 2018

Jurasik #20 (Suket Teki, PST Netra, Teater Soca, dan Peduli Lombok)


Jurasik #20

Suket Teki, PST Netra, Teater Soca, dan Peduli Lombok





JURASIK #20 bertepatan pada Jumat, 10 Agustus 2018. Seperti biasa, Jurasik (Jumat Sore Asik) tetap bergulir dan tetap mendatangkan pelaku-pelaku kreatif, asik dan sedikit rumpi menarik nan menggemaskan setiap minggunya. Berbagai pelaku seni yang singgah kali ini dari komunitas pecinta alam Suket Teki, tari PST Netra, Teater Soca dan kegiatan sosial yang dilakukan kawan-kawan BKR Peduli Lombok.

Komunitas pecinta alam Suket Teki mengawali obrolan setelah dibuka oleh grup musik BKR N' Friends. Duo MC kocak (Ulin & Sambas) bentukan dari Balai Kesenian Remaja Kendal menyapa hangat para pelaku seni yang hadir. Lagu pembuka dari Banda Neira berjudul Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti menjadi pemantik semangat para hadirin sekaligus menjadi prolog obrolan mengenai alam bersama komunitas pecinta alam Suket Teki.

Ulin sebagai moderator mencoba memantik beberapa obrolan mengenai alam dan kecintaan mereka terhadapnya. "Kami disatukan melalui kesukaan yang sama, hobi sebagai pecinta alam," tegas Fakhrur Ramadhani selaku penggagas komunitas Suket Teki. Rokhim menambahkan, "berawal dari hobi naik gunung, akhirnya terbentuk komunitas Suket Teki." Obrolan semakin menarik dengan dukungan  instalasi dari panitia memasang kain perca warna-warni yang bergelantungan layaknya chain flag pada acara pesta. Ibarat pelangi ketika kain-kain perca dibenturkan dengan cahaya lampu spotlight.

Sesi tanya-jawab dilontarkan moderator kepada para pelaku seni yang hadir untuk menanggapi beberapa hal terkait Suket Teki. Menurut Tanjung alim Sucahya, "Kebanyakan pecinta alam berpikir ke hulu daripada memikirkan hilir". Hal ini ditanggapi oleh Setia Naka Andrian mengenai banyak sungai di bawah yang berpotensi untuk dijadikan laku aktivitas yang elok, misalnya 'Kali Aji Festival' atau semacamnya. "Jika dijadikan festival (sungai), warga dengan sendirinya akan sadar untuk tidak membuang sampah di sungai daripada kita gencar membuat baliho besar-besaran tentang kelestarian lingkungan khusunya sungai," tutur Setia Naka Andrian yang kerap disapa Naka.

Sesi kedua dilanjutkan oleh komunitas tari dari PST Netra. Avita sebagai penari yang mengawali diskusi, melekuk tubuhnya dengan balutan lagu India yang di eksplor dengan gerakan selendang ala PST Netra. Menurut Etika Tiara selaku ketua komunitas PST Netra, "Avita mencoba mengeksplor tarian India dengan cara dia sendiri, permainan selendang dan lekuk tubuh mendominasi tariannya. Dibubuhi beberapa gerakan tangan ala tari India". Evita sendiri mengaku baru saja bergabung dengan komunitas. Sedikit canggung dan kurang totalitas ketika perform.

Sesi ketiga, yakni komunitas teater dari SMK Negeri 4 Kendal (Teater Soca) mementaskan deklamasi puisi yang di musikalisasikan. Dua puisi yang berlatar belakang kemelutnya politik di Indonesia dibawakan dengan tepat. Suasana getir, marah dan sendu komplit melengkapi musikalisasi mereka. Angin malam yang tidak seperti biasanya menambah suasana menjadi punya ruh dalam perform mereka. Tempat di teras Balai Kesenian Remaja, lampu sorot, kain perca dan instrumen mereka sekan menjadi satu. Tepuk tangan dari para pelaku seni menambah kesuksesan mereka dalam pertunjukannya.

Kemudian setelah telinga, mata dan jiwa digetirkan oleh Teater Soca, obrolan dilanjutkan dengan kegiatan sosial yang dilakukan pelaku seni dari BKR Peduli Lombok. Budiawan sebagai pemrakarsa acara, mencoba menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini murni dilakukan untuk saudara-saudara yang tertimpa musibah di Lombok, Nusa tenggara Barat. "Saat ini banyak saudara kita di Lombok yang kehilangan keluarga, rumah dan lainnya. TV sering menyiarkan berita duka, kitapun terketuk hatinya untuk melakukan hal yang bisa meringankan beban mereka, salahsatunya membantu penggalangan dana." Ungkap Budiawan. Kegiatan yang dilakukan dengan cara ngamen, musikalisasi puisi, jualan buku dan beberapa lukisan yang dijual, sepenuhnya untuk didonasikan. Acara diadakan sejak tanggal 7 hingga 11 agustus di seputaran alun-alun Kendal. Dadang Sjarifudin selaku panitia acara menambahkan, "Berapapun nominal yang disumbangkan, sangat berharga untuk mereka (korban bencana Lombok)." (JRSK/SBS)




BKR Kendal Peduli Lombok


BKR Kendal Peduli Lombok



BKR Kendal Peduli Lombok merupakan sebuah laku kecil yang dilakukan beberapa seniman dan pegiat komunitas di Kabupaten Kendal. Mereka, yang terbiasa berproses kreatif di sebuah gedung kecil di belakang GOR Bahurekso Kendal yang bernama Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Oleh sebab itu, mereka bersepakat untuk memberi nama aktivitas amalnya dengan nama BKR Kendal Peduli Lombok.

“Selama 3 hari, 8 hingga 10 Agustus, kami menyelenggarakan aktivitas ini, ngamen ini, untuk menggalang dana guna disumbangkan kepada saudara kita yang sedang tertimpa musibah di Lombok, NTB. Selain pementasan-pementasan seni dari para seniman, komunitas dan masyarakat umum, kami juga menyediakan lapak untuk berjualan buku, lukisan, dan karya seni lainnya untuk dijual dan sepenuhnya digunakan untuk disumbangkan kepada korban bencana di Lombok,” tutur Budiawan, penanggung jawab kegiatan,”

Ditambahkan oleh Budiawan, seorang ustaz muda di Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah tersebut menegaskan bahwasanya dana yang terkumpul nanti akan disumbangkan dengan ditransfer langsung kepada salah seorang kawan seniman dari Kendal yang kebetulan telah tinggal di Lombok, dan ia juga kini tengah menjadi relawan. Ia adalah Paox Iben, yang dalam beberapa waktu lalu pun sempat menyambangi BKR Kendal dan berdiskusi panjang lebar tentang seni dan budaya di forum Jurasik (Jumat Sore Asik).

“Hari pertama kami gelar panggung kecil-kecilan di alun-alun mini Kendal, alhamdulillah mampu memperoleh sekitar 500 ribu lebih. Kemudian hari kedua, di Taman Garuda Kendal, donasi yang terkumpulkan mencapai satu juta lebih. Alhamdulillah, saya kira ini akan terus bertambah, ketika nanti kami semakin akan gencarkan lagi promosi, termasuk lelang karya dan penjualan karya-karya yang disumbangkan dari para seniman. Tesmasuk saat acara Jurasik pada hari Jumat ini, akan kami gencarkan,” pungkas Budiawan. (JD/SNA)

Lesbumi Kendal Luncurkan Buku Karya Seniman dan Santri


Lesbumi Kendal Luncurkan Buku Karya Seniman dan Santri


Untuk kali pertamanya Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Kendal, Jawa Tengah, menerbitkan sebuah buku. Tidak tanggung-tanggung, kali pertama ini langsung dua buku sekaligus diluncurkan. Buku tersebut di antaranya, buku kumpulan esai berjudul “Ramadan di Kampung Halaman” yang ditulis oleh 12 penulis asal Kendal dan buku kumpulan pantun “Randu Alas” karya Muhammad Mahzum, santri Al-Itqon Patebon Kendal. Kedua buku tersebut diluncurkan secara resmi oleh Ketua PCNU Kab. Kendal, Bapak KH. Muhammad Danial Royyan pada Minggu, 5 Agustus 2018 di Gedung NU Kab. Kendal.

Penerbitan kedua buku yang apik dari Lesbumi PCNU Kendal ini sampul buku Randu Alas dikerjakan oleh Nalendra Ajib Afisaputra, santri kelas pertama MTs dari Pondok Pesantren Al-Itqon, serta sampul buku Ramadan di Kampung Halaman dikerjakan oleh Djoko Susilo, seorang kartunis Suara Merdeka. Dalam diksusi yang berlangsung, didapuk beberapa pembicara, di antaranya, Muslichin (Ketua Lesbumi PCNU Kendal), dan Kusfitria Marstyasih (Ketua Koruki Demak). Selain diskusi buku, juga diawali dengan pemutaran film pendek berjudul Keduwung Mburi karya MA NU 3 Sunan Kantong Kaliwungu Kendal, serta penampilan musikalisasi puisi dari Teater Dipas SMA Ma’arif NU 04 Kangkung yang berkolaborasi dengan Dadang Syarifudin (Gitaris BKR n’ Friends).

“Penerbitan buku ini merupakan salah satu program kerja dari Lesbumi Kendal. Sementara ini, kami berfokus pada tiga program, yakni penerbitan buku, pementasan seni, dan diskusi-diskusi seni budaya. Nah, kali pertama peluncuran buku, alhamdulillah langsung meluncurkan dua buku sekaligus. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, pengurus, dan tentu bagi para ulama NU di Kabupaten Kendal,” ungkap Muslichin, Ketua Lesbumi PCNU Kendal, seorang guru sejarah SMA N 2 Kendal.

Ditambahkan oleh Muslichin, bahwasanya penerbitan ini diselenggarakan secara sederhana saja. Awalnya tidak disengaja, hanya karena penyelenggaraan sebuah diskusi tentang Ramadan dan Kampung Halaman. Lalu akhirnya, di antara peserta diskusi berkeinginan bahwa apa saja yang telah ditemukan dan diobrolkan panjang-lebar dari diskusi tidak berhenti begitu saja, hanya menyisakan foto bersama semata. Namun, haruslah ada dokumentasi yang utuh dan kuat terkait segala hal yang diobrolkan dalam diskusi. Maka akhirnya, dibukukanlah segala hal terkait tema yang telah didiskusikan sebelumnya.

“Untuk kumpulan pantun Randu Alas karya Muhammad Mahzum, kami bekerjasama dengan Komunitas Rumah Kita (KORUKI) Demak, salah satu komunitas yang serius menggerakkan literasi. Kebetulan, orangtua dari pemilik komunitas tersebut memiliki anak yang mondok di pesantren Al-Itqon, kebetulan yang melukis sampul buku pantun tersebut. Akhirnya klop, sama-sama berproses untuk menggerakkan aktivitas nyata dalam jagat literasi. Khususnya yang saat ini berfokus menerbitkan karya-karya dari seniman yang berada di lingkungan pesantren,” tambah Muslichin.

Dalam buku kumpulan esai “Ramadan di Kampung Halaman” berisi 12 judul esai dari 12 penulis, di antaranya berjudul Aku dan Mercon Bumbung (Heri CS), Jalan-Jalan ke Gereja, Ngabuburit di Klenteng (Subhan Abidin), Kampung dan Ingatan Masa Kecil (Muslichin), Mangan Iwak Pitik (Muhamad Kundarto), Menuai Berkah Bulan Suci di Kota Santri (Muhammad Hilal Ibnu Hasan), Ramadan dan Ingatan Masa Kecil (M. Lukluk Atsmara Anjaina), Ramadan di Kampung Halaman (Setia Naka Andrian), Ramadan di Kampung Halaman Orang (M. Yusril Mirza), Ramadan dan Jatidiri Islam Kendal (Chadori Ichsan), Serba-Serbi Ramadan di Kampung (Najmah Munawaroh), Tradisi Silaturahmi yang Nyaris Terganti (Ermin Siti Nurcholis), dan Kampung Tani dan Pesantren Tanpa Papan Nama (Agus Susanto).

“Selepas penerbitan kedua buku ini, berikutnya Lesbumi Kendal akan bergerak lagi untuk menunaikan beberapa penerbitan karya. Di antaranya buku kumpulan puisi, anekdot, cerita pendek, profil kiai, profil pesantren, dan beberapa penerbitan lain yang kiranya akan menjadi sumbangan dokumentasi sejarah tersendiri bagi khalayak,” tutur Bahrul Ulum A. Malik, salah seorang motor penggerak Lesbumi PCNU Kendal yang juga aktif berproses sastra di Pelataran Sastra Kaliwungu.

Ditambahkan pula oleh Bahrul, dalam penerbitan-penerbitan karya tersebut, kelak juga akan diimbangi dengan ajang perlombaan karya, baik bagi pelajar, mahasiswa atau masuarakat umum. “Sehingga nantinya, beberapa karya yang dibukukan juga telah melewati seleksi ketat dalam sebuah perlombaan. Sehingga secara tidak langsung, upaya kuantitas karya juga akan berimbang dengan kualitas sebuah karya,” pungkas Bahrul Ulum A. Malik, seorang penyair yang kini juga sedang bersiap-siap menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal. (JD/SNA)

Minggu, 05 Agustus 2018

Jurasik #19 (Laku Kreatif Mahasiswa DKV UNISS)


Jurasik #19

Laku Kreatif Mahasiswa DKV UNISS



Jumat, 3 Agustus 2018  merupakan gelaran Jurasik (Jumat Sore Asik) ke-19. Acara yang bertempat di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja(BKR) Kendal tersebut secara konsisten merespon laku kreatif para pegiat seni dan komunitas yang ada di Kendal. Pada Jurasik #19 ini menghadirkan narasumber dari Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Selamat Sri (UNISS) Kendal.

Pukul 20.00 WIB acara dibuka oleh penampilan BKR n' Friends yang selalu menghibur audiens melalui sajian lagu-lagu romantis yang dibawakannya. Tak jarang pula audiens juga turut menyumbangkan kebolehannya dalam bernyanyi maupun memainkan alat musik.

Setelah itu dilanjutkan dengan acara inti yaitu diskusi. Pembahasan diawali dengan kegiatan pameran yang diselenggarakan oleh Mahasiswa DKV UNISS setiap satu semesternya yang kebetulan pada semester ini diselenggarakan di Gedung BKR.

Dalam pameran ke-4 kalinya ini DKV UNISS menyuguhkan eksebisi dan wokshop yang dihibur dengan penampilan musik akustik. Pameran kali ini bertemakan "Wang Sinawang" yang secara  dapat diartikan saling melihat, refrensi, intropeksi diri juga ajang saling apresiasi sesama seniman. Selain untuk pameran, kegiatan para Mahasiswa DKV UNISS ini sekaligus untuk memenuhi tugas mata kuliah mereka.

"Dalam hal melukis, yang paling penting melihat sebuah proses menuju progress" ungkap Lutfi, Ketua Pameran DKV UNISS tersebut.

"Mungkin, pentingnya pengalaman dapat menjadi bumbu khusus karena membuat pameran bukanlah hal sepele, perlu kerjasama tim yang serius" sambung pria yang akrab disapa Ucil tersebut.
 
foto: diskusi berlangsung dipimpin oleh moderator.
Ditanya soal apa yang akan mereka lakukan setelah lulus dari Jurusan DKV, mereka optimis akan terus melahirkan karya-karya dibidang Komunikasi Visual. "Setelah ini ya tentu kami akan terus mendalami dunia desain kemudian kami akan mengembangkannya. Percuma saja jika mahasiswa DKV setelah lulus kok berhenti mendalami dunia desain" kata Iqbal TM, yang juga merupakan Wakil Ketua Pameran.
 
foto: karya Mahasiswa DKV UNISS
Dalam diskusi tersebut juga ditampilkan beberapa karya dari Mahasiswa DKV UNISS. Salah satunya adalah lukisan pada totebag. Acara pameran akan dilaksanakan kembali oleh Mahasawa DKV UNISS pada semester-semester berikutnya. Di penghujung acara, Jurasik ditutup oleh penampilan kembali dari BKR n' Friends yang berkolaborasi dengan audiens yang hadir. ***(JRS/CMT)