Selasa, 10 Juli 2018

Suatu Hari di Sanggar Kejeling

Suatu Hari di Sanggar Kejeling
Oleh Chadori Ichsan


                Sekilas tak ada yang berbeda pada suasana Kota Kendal siang itu. Langit cerah disertai awan dan udara yang cukup panas khas daerah pantura. Arus lalu lintaspun tak ada yang berbeda, ramai lancar seperti hari-hari biasa di kota ini. Namun ditengah membosankannya aktivitas kota hari itu, muncul suatu kegiatan yang menjadi obat bagi orang-orang “kurang dolan” seperti saya ini di suatu sanggar seni yang berada tak jauh dari jalan pantura Cepiring Kendal tepatnya di Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring. Sanggar seni tersebut bernama Sanggar Kejeling. Sempat saya dengar beberapa kali di acara Jurasik (Jumat Sore Asik), namun selebihnya saya kurang begitu tahu banyak apa itu Sanggar Kejeling.
                Bermodalkan rasa ingin tahu lebih, siang itu saya sempatkan waktu untuk berkunjung ke Sanggar Kejeling. Kebetulan pada hari itu juga sedang diadakan kegiatan Pelatihan Melukis menggunakan Pelepah Pisang dengan mendatangkan mentor jauh-jauh dari Kota Apel Malang. Yang menambah semangat berlipat ganda, hadir pula Komunitas Model Kendal dalam acara tersebut. Maklum, sebagai orang yang merdeka tanpa kekasih seperti saya ini sangat antusias jika dipertemukan dengan yang "seger-seger" seperti itu. Namun tentunya tanpa mengurangi tujuan substansial saya yaitu belajar seni. Karena belajar seni bagi saya adalah salah satu hal yang dapat membuat hidup kita tidak menjenuhkan dan lebih berwarna. Kata Seno Gumira Adjidarma “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor,tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”
                Setelah sempat bingung mencari jalan terdekat menuju sanggar, sekitaran pukul 13.30 wib saya sampai pada tempat Sanggar Kejeling. Tetibanya disana, saya langsung disambut oleh gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sanggar Kejeling”. Sekalipun gapura itu kecil dan bertuliskan hanya beberapa kata saja, namun cukup membuat saya merasa disambut dengan istimewa. Salah satu anggota Sanggar Kejeling yang sepertinya masih berusia smp dengan menggunakan kaos bertuliskan “Sanggar Kejeling, Bangun Budaya” mempersilahkan saya masuk dengan hangat. Kemudian sayapun turun dari sepeda motor sengkrek warisan orang tua itu, hendak menuju ke tempat yang digunakan untuk kegiatan. Baru sekitar 10-20 langkah menginjakkan kaki di Sanggar, mata ini langsung dihadapkan pada sebuah pemandangan yang indah. Buku-buku berjajar tertata rapi dengan anak-anak kecil yang berkegiatan disitu. Ada yang membaca buku, ada yang bermain karambol, dan lain sebagainya. Tahu akan hal tersebut, otakku langsung mensugesti kaki dan tubuhku untuk berjalan menuju rak buku tadi. Sempat mataku terpana melihat salah satu buku, yaitu buku “Babad Tanah Kendal” buku sakral yang sebenarnya sudah lama sekali ingin saya khatamkan. Sempat pula saya berdiskusi dengan teman Sanggar disana soal “Dimana sebenarnya Tumenggung Bahureksa (Bupati pertama Kendal) dikebumikan?”.
                Kemudian saya melanjutkan ke tujuan utama yaitu tempat kegiatan melukis di Sanggar Kejeling. Mata saya kembali dimanjakan oleh tata panggung Sanggar Kejeling. Alat-alat gamelan tertata sesuai posisinya, replika gunungan dan sepeda onta tua turut menambah suasana Jawa pada panggung alam yang berukuran 4x6 meter tersebut. Alunan lagu jawa yang berirama dengan angin dan pepohonan sekitar menambah aura kebudayaan pada tiap-tiap sudut sanggar ini. Sanggar Kejeling tak ubahnya sebagai hotel seni berbintang bagi seseorang yang mengagumi nuansa jawa seperti saya ini. Sempat berfikir materil, uang darimana hingga bisa membuat sanggar yang begitu megah ini? Tapi kemudian saya ingat perkataan guru seni sekolah alam saya, “Berkesenianlah, jangan takut pada biaya. Karena seni itu sering menggunakan teori MPC (Mbuh piye carane)”. Tak lama saya mengagumi tempat dan suasana pada Sanggar ini, kegiatan Melukis dengan Pelepah Pisangpun dimulai. Terlihat awan sudah mulai menutupi matahari seakan ia tahu bahwa acara akan segera dimulai. Cuaca yang tadinya begitu panas menjadi agak sedikit redup. Tak hanya dari Komunitas Model Kendal ternyata, Taman Baca Nglarasati Kaliwungu dan salah satu guru SD Universal Ananda juga turut hadir menjadi saksi hidup geliat kesenian di Sanggar Kejeling ini.
                Acara dibuka dengan penampilan seni musik Gamelan yang dimainkan oleh anak-anak sanggar yang memakai baju kebesaran mereka bertuliskan “Sanggar Kejeling, Bangun Budaya”. Terlihat raut wajah dan sorot mata dari para pemain mengisyaratkan bahwa mereka begitu semangat dan haus akan kesenian. Sering saya melirik manja ke arah peserta (model kendal -red) yang hadir, mereka sangat terhibur olehnya. Bagaimana tidak, anak yang baru sekitaran SD dan SMP sudah bisa menyatukan suara demi suara alat musik gamelan menjadi suatu irama yang indah. Tak heran, selesainya tampil mereka mandapat tepuk tangan yang meriah. Selepas mereka tampil, acara dilanjutkan pada acara inti yaitu Melukis. Pelatih memberikan semacam teori atau cara bagaimana melukis menggunakan media pelepah pisang. Tak lupa juga ia memamerkan beberapa karyanya. Kemudian peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, perkelompok diisi 5 orang dengan berbagai komunitas. Kembali saya melirik para cewek yang cantik nan anggun itu, dalam hati pesimis “Bisa ndak ya, wong biasanya merias wajah kok ini harus merias papan menggunakan pelepah pisang”. Namun ternyata rasa pesimis itu dibayar tuntas tanpa DP oleh para model melalui karya yang telah mereka buat. Tak kusangka, orang yang biasa tampil anggun di depan lensa kamera ternyata lihai juga membuat lukisan. Sekitar 1,5 jam membuat lukisan, acara ditutup dengan memberikan hadiah kepada 3 lukisan terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap suatu karya.
                Rasa terkesan saya tak cukup sampai pada acara, setelah acara selesai rupanya para penggiat seni di sanggar ini tidak langsung pulang kerumahnya masing-masing untuk beristirahat. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu di sanggar untuk berdiskusi, membicarakan “apa yang akan dilakukan selanjutnya”. Melihat ada ruang diskusi seperti itu, saya pun mengurungkan niat saya untuk pergi kerumah gebetan. Angin yang berhembus di samping telinga sayapun seakan turut berbisik mencegah saya untuk pergi “Ojo bali ndishik, bar iki mangan” begitulah kiranya. Saya merasa berada di suasana yang seharusnya ada untuk pemuda. Berkarya, berdiskusi, bercanda gurau bersatu dalam balutan kemesraan dan kekeluargaan.
                Kembali saya sempat berkata dalam hati “Begitu luar bisanya Sanggar ini, tak hanya tentang berkesenian namun juga perilaku mereka sangat santun kepada orang lain”. Pemuda Kendal memang butuh ruang-ruang untuk berkesenian seperti ini. Karena pemuda sejatinya memang ingin berkespresi dan diakui oleh orang lain. Maka tak heran, jika pemuda tidak bisa menemukan ruang berekspresi mereka dan tidak diakui oleh orang lain maka mereka cenderung untuk melakukan hal-hal yang negatif. Di tengah era Industrialisasi yang terjadi di Kendal dengan adanya Kawasan Industri Kendal, sudah seyogyanya masyarakat khususnya para pemuda untuk membentengi diri mereka dengan seni dan skill hidup. Tentu kita tak akan mau jika suatu saat nanti kekayaan alam Kendal ini akan dikuasai oleh orang lain dan pribumi Kendal hanya menjadi pengusaha sampingan seperti tukang parkir dsb. Orang Kendal ya harus berkuasa di daerahnya sendiri. Tentu juga kita tak mau jika seni dan budaya yang ada di Kendal ini akan hilang dengan sendirinya. Maka dari itu, jalan yang harus pemuda Kendal lakukan adalah dengan cara berkesenian dan berpendidikan.
                Bagi saya, Sanggar Kejeling merupakan suatu stimulus bagi pembibitan dan pendidikan seni yang ada di Kendal. Anak-anak Sanggar Kejeling merupakan manifestasi perjuangan para pahlawan terdahulu. Pada pundak-pundak merekalah kesenian dan kebudayaan Kendal akan tetap hidup, merekalah yang akan menjaga Kendal di tengah-tengah carut marutnya zaman, namun tentunya tanpa menyampingkan eksistensi Tuhan dan karya seniman lain. Semoga apa yang dilakukan oleh para penggiat kesenian di Sanggar Kejeling selalu mendapat ridlo dari-Nya. Semoga ia terus menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

“Bagi saya Kendal adalah puisi. Puisi itu tak akan terbakar ditelan api. Begitu pula hakikat dan jatidiri Kendal, tak akan sedikitpun hilang meskipun akan menjadi kota industri”

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan dan mempunyai hobi berkesenian. Berasal dari pinggiran Kota Kendal. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta” 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar