Sabtu, 28 Juli 2018

Jurasik #18 (Stand Up Indo Kendal Open Mic di Jurasik)

Jurasik #18

Stand Up Indo Kendal Open Mic di Jurasik




Jurasik kembali hadir menyapa seluruh pegiat seni yang ada di Kendal. Acara tersebut digelar di Halaman Gedung Balai Kesenian (BKR) Kendal Jumat 27 Juli 2018. Ini merupakan gelaran ke-18 kalinya sejak pertama kali Jurasik dilaksanakan beberapa bulan yang lalu. Pada Jurasik #18 ini menghadirkan Komunitas Stand Up Indo Kendal. “Alhamdulillah Jurasik konsisten untuk terus menjadi wadah diskusi bagi seniman maupun komunitas apa saja yang ada di Kendal. Kali ini kita menghadirkan Stand Up Indo Kendal” kata Tanjung Alim Sucahya, koordinator acara Jurasik.

Acara diawali dengan penampilan musik dari BKR n’ Friends. Grup musik yang terbentuk dari sekelompok seniman yang menghuni gedung BKR tersebut membawakan beberapa lagu untuk menghibur para peserta yang telah memadati halaman gedung. Selain penampilan BKR n’ Friends, beberapa peserta yang hadir juga ikut dengan menampilkan beberapa karya puisi.


Stand Up Indo Kendal terbentuk pada tanggal 29 Desember 2014 silam. Awal mula komunitas tersebut terbentuk yaitu dari grup media sosial. “Kami pertama kali terbentuk itu sebenarnya tidak sengaja. Jadi ada orang yang membuat grup Facebook bernama Stand Up Kendal. Kemudian kita saling bertukar materi disitu” Kata Ade Prasetyo, salah satu pendiri Komunitas Stand Up Indo Kendal. “Bermula dari saling tukar materi tersebut setelah itu kita mengadakan kumpul bareng untuk kemudian membuat komunitas Stand Up Indo Kendal ini” Imbuh komika yang sering dipanggil Ade Kentos tersebut.

Dalam diskusi tersebut mereka juga menyampaikan bahwa dalam Stand Up Comedy, materi yang dibawakan harus mempunyai batasan-batasan tertentu. “Oh iya mas, saat kita perform juga tidak asal-asalan ngomong. Harus ada batasan. Contohnya kita tidak boleh membawakan materi yang berbau SARA, menjudge fisik seseorang yang ia tak bisa rubah, dll” kata M Nur Jauhan, Ketua Stand Up Comedy Kendal.


Dalam promosinya, Stand Up Indo Kendal juga pernah Open Mic di acara sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Kendal. Selain itu mereka juga pernah menggelar acara bertajuk “Roasting Bupati” dengan menghadirkan Bupati Kendal, dr Mirna Annisa, langsung saat hari ulang tahun mereka yang ke-3. “Tidak hanya perform mas, tapi kita juga sekalian promosi tentang komunitas ini. Kami pernah ke sekolah-sekolah dan setiap hari ulang tahun kami mengadakan open mic. Terakhir kita mengadakan open mic dengan menghadirkan Bupati Kendal” Kata Fatih ‘Ainal Yaqin, Admin Instagram Stand Up Indo Kendal.

Setelah diskusi, Stand Up Indo Kendal juga menampilkan kebolehannya dalam Stand Up Comedy. Beberapa komika sukses menghibur peserta yang hadir pada Jurasik malam itu. ***(JRS/CDR)


Sabtu, 21 Juli 2018

Jurasik #17 (Ngobrol Sastra bareng PSK)


Jurasik #17

Ngobrol Sastra Bareng PSK




17 kali sudah acara Jurasik (Jumat Sore Asik) menyapa para pegiat seni yang ada di Kabupaten Kendal dan sekitarnya. Malam itu Jumat 21 Juli 2018 Gedung BKR kembali ramai kedatangan orang-orang yang akan mengikuti acara Jurasik. Pada kiprahnya kali ini Jurasik mengangkat tema "Ngobrol Sastra" dengan menghadirkan narasumber dari Komunitas Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) dan wartawan senior Slamet Priyatin.

Sekitaran pukul 19.00 WIB para hadirin mulai memadati tiap sudut Gedung BKR. Dengan kopi dan teh yang telah disediakan, mereka saling tegur sapa sebelum acara inti diskusi dimulai. Tak hanya dari Kendal, pada Jurasik #17 ini juga kedatangan 2 tamu dari Kota Pahlawan, Surabaya.

Acara dimulai dengan beberapa penampilan musik dan pembacaan puisi. Salah satu tamu yang hadir asal Surabaya, Cak Ndut, juga turut menyumbangkan kebolehanya dalam hal tarik suara di Jurasik malam itu. Semakin malam para hadirin yang datang semakin memadati gedung belakang GOR Kendal tersebut.

Selesai para hadirin menampilkan karya-karyanya, diskusipun dimulai. PSK merupakan salah satu komunitas yang bermukim di Kecamatan Kaliwungu Kendal yang bergerak dalam bidang literasi. "PSK berawal dari perkumpulan beberapa orang yg giat dalam bidang literasi. Kemudian kami membentuk komunitas satra yang kami namai Pelataran Sastra Kaliwungu. Kami mengambil kata Pelataran karena PSK ini menjadi latar atau wadah bagi siapa saja yang ingin belajar dalam hal literasi" Kata Presiden PSK, Bahrul Ulum Amalik.

"Dalam kiprah kami, kami telah mengadakan beberapa kegiatan berkaitan dengan literasi. Diantaranya Ngopi Sastra, Lomba, dan yang terbaru ini Partikelir" imbuh Ulum, yang juga salah satu pendiri PSK tersebut.
 
Foto: Peserta diskusi mendengarkan materi dengan khidmad.
PSK tidak hanya diisi oleh pegiat sastra saja. Siapapun boleh gabung untuk belajar sastra. Salah satu anggota PSK yang bukan dari sastra adalah Djoko Susilo. "Saya sebenernya bukan orang sastra. Namun karena saya rasa sastra itu dibutuhkan oleh segala bidang kesenian, maka saya ikut di PSK ini" kata seniman karikatur tersebut.

Selain PSK, kali ini jurasik mendatangkan salah satu wartawan senior kompas yaitu Slamet Priyatin. Dalam diskusinya ia menyampaikan soal geliat sastra. "Saya dari dulu sudah bergerak dalam seni khususnya sastra. Untuk sastra di Kendal saya bersama teman-teman dulu pernah membuat komunitas yaitu Kelompok Kantong Budaya Kendal. Kami pernah mengadakan beberapa kegiatan yaitu Pentas Keliling, Kelompok Wayang Koplak, maupun diskusi kecil-kecilan tentang sastra. Ya hampir seperti Jurasik ini" kata seniman yang telah lama malang melintang di dunia jurnalistik tersebut.

Ditanya soal kaidah-kaidah dalam sastra, wartawan senior tersebut menjawab penulis tidak harus selalu terpaku dalam kaidah. "Sastra itu sebenarnya bebas. Tapi lebih enak di dengar ya memang harus mengikuti rimanya" imbuhnya.

Acara diskusi tentang sastra tersebut ditutup oleh penampilan musik dari BKR n' Friends. Beberapa hadirin juga secara bergantian menampilkan karyanya diiringi kelompok musik yang bermukim di BKR tersebut. Setelah acara selesai, beberapa hadirin tidak langsung pulang kerumah. Mereka kembali berdiskusi secara santai sembari menikmati seduhan kopi. Acara Jurasik akan kembali hadir pada setiap Jumat sore. ***(JRS/CDR)

Kamis, 12 Juli 2018

Jurasik #16 (Ngobrol tentang Musik, Ruang, dan Sekitarnya, Musisi Kendal Padati Gedung BKR)


Jurasik #16

Ngobrol tentang Musik, Ruang, dan Sekitarnya, Musisi Kendal Padati BKR



Jumat malam, 13 Juli 2018 menjadi malam yang panjang bagi para pegiat musik yang ada di Kendal. Pasalnya di Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal, Jurasik (Jumat, Sore, Asik) mengadakan diskusi dengan tajuk "Musik, Ruang, dan Sekitarnya". Acara Jurasik yang ke-16 ini merupakan follow up dari kegiatan Musik Berseni-Seni yang terselenggara beberapa waktu lalu.

Pada gelaran ke-16 ini, Jurasik menghadirkan pembicara yang sudah lama malang melintang di dunia permusikan Kendal, yaitu Qyi Matricide (Musisi, Penggiat Event Musik), Adi Wibowo (Owner Studio Musik 10), Dadang Moe (Musisi, Penggiat Seni), Farid Musthofa (Owner Studio Musik Selecta), Abdullah Khanif (Musisi, Penggiat Seni) dan juga Sambas (Musisi, Penggiat Seni) sebagai moderator. Acara tersebut juga diisi oleh penampilan spesial dari Band The Gstring dan Teater Soca SMK N 4 Kendal.

Acara dimulai dengan penampilan Teater Soca Kendal. Teater asal SMK N 4 Kendal tersebut membawakan naskah berjudul "Tentang Seorang yang Membunuh Keadilan di Penjaga Konstitusi" karya Remy Sylado. Penampilan di Jurasik ini juga merupakan persiapan mereka untuk mengikuti lomba teater di Solo, 21-22 Juli 2018 besok. Usai penampilan mereka juga membuka ruang untuk berdiskusi, meminta kritik maupun saran dari hadirin yang datang.

(foto: salah satu aktor teater soca sedang memerankan tokoh pejabat yang korupsi)
Acara dilanjutkan dengan penampilan band musik asal Weleri, The Gstring. Band bergenre Folk tersebut mampu menarik perhatian hadirin yang datang dengan alunan musiknya. The Gstring juga merupakan salah satu band yang ikut serta dalam kegiatan Musik Berseni-Seni.

Setelah penampilan Teater Soca Kendal dan The Gstring, acara diskusi dimulai. Menurut salah satu Narasumber, gelaran (event) musik yang ada di Kendal beberapa tahun terakhir ini mengalami sedikit penurunan yang disebabkan oleh kurang konsistennya para musisi dan pegiat event. "Ya akhir-akhir ini di Kendal sebuah event musik sudah jarang ditemukan. Meskipun tetap ada, namun tak sesering dulu. Dulu dalam sepekan saja kita dapat menemukan beberapa event musik" Kata Qyi Matricide, salah satu pegiat event musik di Kendal yang juga musisi beraliran Metal. "Sebenarnya ini bukan salah pihak kepolisian maupun dinas terkait yang tidak memberikan ruang untuk bermusik. Namun terkadang ketika diberi izin, kita tidak konsisten menjaga kondisifitas acara. Atau ulah beberapa oknum saja yang imbasnya kepada kita semua" Imbuhnya.

(foto: narasumber menghibur penonton yang hadir di tengah-tengah diskusi)
Hal senada juga disampaikan oleh Farid Musthofa. Menurutnya, kurangnya geliat musik di Kendal ini dapat dilihat juga dari semakin sedikitnya anak sekolah yang latihan musik. "Dulu semasa saya sekolah, kegiatan musik yang ada di sekolah-sekolah masih banyak. Kalau sekarang sih sedikit mulai berkurang" Kata musisi yang juga owner Studio Musik Selecta tersebut.

Namun meski begitu, mereka berdua dan narasumber yang lain optimis bahwa dunia musik yang ada di Kendal ini akan kembali ramai seperti dulu. Apalagi melihat band-band baru yang mempunyai potensi yang bagus.

Setelah usai diskusi, The Gstring kembali menyapa hadirin dengan lagu-lagu yang dibawakanya. Begitu pula dengan BKR n' Friends yang menyanyikan beberapa lagu dari Naiff dan Anji. Seperti biasa, panggung Jurasik terbuka oleh siapa saja yang ingin menampilkan karyanya. ***(JRS/CDR)



Selasa, 10 Juli 2018

Suatu Hari di Sanggar Kejeling

Suatu Hari di Sanggar Kejeling
Oleh Chadori Ichsan


                Sekilas tak ada yang berbeda pada suasana Kota Kendal siang itu. Langit cerah disertai awan dan udara yang cukup panas khas daerah pantura. Arus lalu lintaspun tak ada yang berbeda, ramai lancar seperti hari-hari biasa di kota ini. Namun ditengah membosankannya aktivitas kota hari itu, muncul suatu kegiatan yang menjadi obat bagi orang-orang “kurang dolan” seperti saya ini di suatu sanggar seni yang berada tak jauh dari jalan pantura Cepiring Kendal tepatnya di Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring. Sanggar seni tersebut bernama Sanggar Kejeling. Sempat saya dengar beberapa kali di acara Jurasik (Jumat Sore Asik), namun selebihnya saya kurang begitu tahu banyak apa itu Sanggar Kejeling.
                Bermodalkan rasa ingin tahu lebih, siang itu saya sempatkan waktu untuk berkunjung ke Sanggar Kejeling. Kebetulan pada hari itu juga sedang diadakan kegiatan Pelatihan Melukis menggunakan Pelepah Pisang dengan mendatangkan mentor jauh-jauh dari Kota Apel Malang. Yang menambah semangat berlipat ganda, hadir pula Komunitas Model Kendal dalam acara tersebut. Maklum, sebagai orang yang merdeka tanpa kekasih seperti saya ini sangat antusias jika dipertemukan dengan yang "seger-seger" seperti itu. Namun tentunya tanpa mengurangi tujuan substansial saya yaitu belajar seni. Karena belajar seni bagi saya adalah salah satu hal yang dapat membuat hidup kita tidak menjenuhkan dan lebih berwarna. Kata Seno Gumira Adjidarma “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor,tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”
                Setelah sempat bingung mencari jalan terdekat menuju sanggar, sekitaran pukul 13.30 wib saya sampai pada tempat Sanggar Kejeling. Tetibanya disana, saya langsung disambut oleh gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sanggar Kejeling”. Sekalipun gapura itu kecil dan bertuliskan hanya beberapa kata saja, namun cukup membuat saya merasa disambut dengan istimewa. Salah satu anggota Sanggar Kejeling yang sepertinya masih berusia smp dengan menggunakan kaos bertuliskan “Sanggar Kejeling, Bangun Budaya” mempersilahkan saya masuk dengan hangat. Kemudian sayapun turun dari sepeda motor sengkrek warisan orang tua itu, hendak menuju ke tempat yang digunakan untuk kegiatan. Baru sekitar 10-20 langkah menginjakkan kaki di Sanggar, mata ini langsung dihadapkan pada sebuah pemandangan yang indah. Buku-buku berjajar tertata rapi dengan anak-anak kecil yang berkegiatan disitu. Ada yang membaca buku, ada yang bermain karambol, dan lain sebagainya. Tahu akan hal tersebut, otakku langsung mensugesti kaki dan tubuhku untuk berjalan menuju rak buku tadi. Sempat mataku terpana melihat salah satu buku, yaitu buku “Babad Tanah Kendal” buku sakral yang sebenarnya sudah lama sekali ingin saya khatamkan. Sempat pula saya berdiskusi dengan teman Sanggar disana soal “Dimana sebenarnya Tumenggung Bahureksa (Bupati pertama Kendal) dikebumikan?”.
                Kemudian saya melanjutkan ke tujuan utama yaitu tempat kegiatan melukis di Sanggar Kejeling. Mata saya kembali dimanjakan oleh tata panggung Sanggar Kejeling. Alat-alat gamelan tertata sesuai posisinya, replika gunungan dan sepeda onta tua turut menambah suasana Jawa pada panggung alam yang berukuran 4x6 meter tersebut. Alunan lagu jawa yang berirama dengan angin dan pepohonan sekitar menambah aura kebudayaan pada tiap-tiap sudut sanggar ini. Sanggar Kejeling tak ubahnya sebagai hotel seni berbintang bagi seseorang yang mengagumi nuansa jawa seperti saya ini. Sempat berfikir materil, uang darimana hingga bisa membuat sanggar yang begitu megah ini? Tapi kemudian saya ingat perkataan guru seni sekolah alam saya, “Berkesenianlah, jangan takut pada biaya. Karena seni itu sering menggunakan teori MPC (Mbuh piye carane)”. Tak lama saya mengagumi tempat dan suasana pada Sanggar ini, kegiatan Melukis dengan Pelepah Pisangpun dimulai. Terlihat awan sudah mulai menutupi matahari seakan ia tahu bahwa acara akan segera dimulai. Cuaca yang tadinya begitu panas menjadi agak sedikit redup. Tak hanya dari Komunitas Model Kendal ternyata, Taman Baca Nglarasati Kaliwungu dan salah satu guru SD Universal Ananda juga turut hadir menjadi saksi hidup geliat kesenian di Sanggar Kejeling ini.
                Acara dibuka dengan penampilan seni musik Gamelan yang dimainkan oleh anak-anak sanggar yang memakai baju kebesaran mereka bertuliskan “Sanggar Kejeling, Bangun Budaya”. Terlihat raut wajah dan sorot mata dari para pemain mengisyaratkan bahwa mereka begitu semangat dan haus akan kesenian. Sering saya melirik manja ke arah peserta (model kendal -red) yang hadir, mereka sangat terhibur olehnya. Bagaimana tidak, anak yang baru sekitaran SD dan SMP sudah bisa menyatukan suara demi suara alat musik gamelan menjadi suatu irama yang indah. Tak heran, selesainya tampil mereka mandapat tepuk tangan yang meriah. Selepas mereka tampil, acara dilanjutkan pada acara inti yaitu Melukis. Pelatih memberikan semacam teori atau cara bagaimana melukis menggunakan media pelepah pisang. Tak lupa juga ia memamerkan beberapa karyanya. Kemudian peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, perkelompok diisi 5 orang dengan berbagai komunitas. Kembali saya melirik para cewek yang cantik nan anggun itu, dalam hati pesimis “Bisa ndak ya, wong biasanya merias wajah kok ini harus merias papan menggunakan pelepah pisang”. Namun ternyata rasa pesimis itu dibayar tuntas tanpa DP oleh para model melalui karya yang telah mereka buat. Tak kusangka, orang yang biasa tampil anggun di depan lensa kamera ternyata lihai juga membuat lukisan. Sekitar 1,5 jam membuat lukisan, acara ditutup dengan memberikan hadiah kepada 3 lukisan terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap suatu karya.
                Rasa terkesan saya tak cukup sampai pada acara, setelah acara selesai rupanya para penggiat seni di sanggar ini tidak langsung pulang kerumahnya masing-masing untuk beristirahat. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu di sanggar untuk berdiskusi, membicarakan “apa yang akan dilakukan selanjutnya”. Melihat ada ruang diskusi seperti itu, saya pun mengurungkan niat saya untuk pergi kerumah gebetan. Angin yang berhembus di samping telinga sayapun seakan turut berbisik mencegah saya untuk pergi “Ojo bali ndishik, bar iki mangan” begitulah kiranya. Saya merasa berada di suasana yang seharusnya ada untuk pemuda. Berkarya, berdiskusi, bercanda gurau bersatu dalam balutan kemesraan dan kekeluargaan.
                Kembali saya sempat berkata dalam hati “Begitu luar bisanya Sanggar ini, tak hanya tentang berkesenian namun juga perilaku mereka sangat santun kepada orang lain”. Pemuda Kendal memang butuh ruang-ruang untuk berkesenian seperti ini. Karena pemuda sejatinya memang ingin berkespresi dan diakui oleh orang lain. Maka tak heran, jika pemuda tidak bisa menemukan ruang berekspresi mereka dan tidak diakui oleh orang lain maka mereka cenderung untuk melakukan hal-hal yang negatif. Di tengah era Industrialisasi yang terjadi di Kendal dengan adanya Kawasan Industri Kendal, sudah seyogyanya masyarakat khususnya para pemuda untuk membentengi diri mereka dengan seni dan skill hidup. Tentu kita tak akan mau jika suatu saat nanti kekayaan alam Kendal ini akan dikuasai oleh orang lain dan pribumi Kendal hanya menjadi pengusaha sampingan seperti tukang parkir dsb. Orang Kendal ya harus berkuasa di daerahnya sendiri. Tentu juga kita tak mau jika seni dan budaya yang ada di Kendal ini akan hilang dengan sendirinya. Maka dari itu, jalan yang harus pemuda Kendal lakukan adalah dengan cara berkesenian dan berpendidikan.
                Bagi saya, Sanggar Kejeling merupakan suatu stimulus bagi pembibitan dan pendidikan seni yang ada di Kendal. Anak-anak Sanggar Kejeling merupakan manifestasi perjuangan para pahlawan terdahulu. Pada pundak-pundak merekalah kesenian dan kebudayaan Kendal akan tetap hidup, merekalah yang akan menjaga Kendal di tengah-tengah carut marutnya zaman, namun tentunya tanpa menyampingkan eksistensi Tuhan dan karya seniman lain. Semoga apa yang dilakukan oleh para penggiat kesenian di Sanggar Kejeling selalu mendapat ridlo dari-Nya. Semoga ia terus menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

“Bagi saya Kendal adalah puisi. Puisi itu tak akan terbakar ditelan api. Begitu pula hakikat dan jatidiri Kendal, tak akan sedikitpun hilang meskipun akan menjadi kota industri”

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan dan mempunyai hobi berkesenian. Berasal dari pinggiran Kota Kendal. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta” 

PRE ORDER Buku Lesbumi NU Kendal "Ramadan di Kampung Halaman"



Rabu, 04 Juli 2018

Jurasik #15 (Jurasik adakan Bincang-Bincang tentang Lingkungan dan Mencintai Alam)

Jurasik #15 

(Jurasik adakan Bincang-Bincang tentang Lingkungan dan Mencintai Alam)


Fenomena mendaki gunung akhir-akhir ini ramai dilakukan, khususnya oleh para pemuda. Baik kaum adam maupun hawa antusias untuk menikmati keindahan alam ciptaan Sang Khaliq tersebut. Inilah yang menjadi alasan para pegiat seni di Kendal untuk mengadakan diskusi tentang pendakian dan merawat alam pada acara Jurasik (Jumat Sore Asik), 6 Juli 2018 di Halaman Gedung Kesenian Remaja Kendal.
Jurasik yang telah berlangsung selama 15 kali tersebut mendatangkan pembicara dari Komunitas 1001 Pendaki Tanam Pohon Gunung Ungaran (1001 PTP).  "Acara Jurasik ke-15 ini sengaja kami datangkan komunitas pecinta alam sebagai narasumber untuk memantik para peserta.. Saya berharap dengan acara diskusi ini dapat membangun kesadaran siapa saja untuk terus merawat bumi ini" kata Tanjung Alim Sucahya, koordinator acara Jurasik.
Seperti biasa, acara Jurasik tak hanya diisi dengan diskusi namun juga penampilan seni bagi siapa saja yang ingin menampilkan karyanya. Pada acara Jurasik #15 itu BKR n' Friends, salah satu grup akustik yang bermarkas di gedung balai Kesenian Remaja Kendal, menyempurnakan acara diskusi dengan membawakan lagu-lagu khas kaum muda. Ditambah, lampu yang sedikit remang menambah kekhidmatan dan keromantisan pada acara Jurasik malam itu.
1001 PTP melakukan aktivitasnya di daerah Promasan, di Lereng Gunung Ungaran meski tak jarang juga mereka berkiprah di pesisir. Komunitas tersebut pertama kali dibentuk oleh seorang pegiat lingkungan yang mempunyai jiwa tulus mencintai alam. "Awal mulanya kami di bentuk oleh seorang pemersatu relawan asal Salatiga, beliau bernama Mbah Santo pada tahun 2015 yang didasari semangat melestarikan alam. Dalam kegiatannya kami juga tak hanya berfokus di Gunung, beberapa kali juga kami beraktivitas di daerah pantura Kendal". Kata Nurul Machrudin, wakil ketua Komunitas 1001 Pendaki Tanam Pohon sektor Promasan.
Dalam ikhtiarnya menjaga alam sekitar, 1001 PTP juga mengajak semua elemen untuk berpartisipasi dalam kegiatan merawat alam tersebut. Seorang pegiat alam, Must Noer, atau yang kerap disapa Demit menyampaikan bahwa PTP bahkan sudah merambah ke sekolah maupun kampus untuk mengajak siswa dan guru untuk ikut merawat alam. "Kami sudah melakukan branding ke sekolah-sekolah. Bahkan kami sudah mengusulkan agar komunitas pecinta alam harus ada pada ekstrakurikuler sekolah ataupun kampus. Namun kekhawatiran orang tua siswa masih menjadi kendala bagi kami. Yang di fikirkan orang tua adalah komunitas pecinta alam itu selalu identik dengan naik gunung. Padahal, membersihkan sampah diselokan pun merupakan kegiatan mencintai alam" katanya.
Sembari memberikan materi diskusi, 1001 PTP juga turut mengajak seluruh pegiat seni yang hadir dalam acara Jurasik untuk mencintai dan merawat alam. "Kami berharap dengan adanya diskusi tentang mencintai alam ini, para seniman yang hadir dalam acara Jurasik dapat bersama kami untuk menanam dan merawat pohon sebagai bentuk cintai kepada alam. Kami tak hanya menanam pohon, namun juga merawatnya." Kata Fajar Taufik yang merupakan anggota 1001 PTP.
1001 PTP akan melanjutkan aktivitas mencintai alamnya dengan melakukan aksi perawatan pohon yang akan digelar pada 15 Juli 2018 besok di daerah Promasan, Lereng Gunung Ungaran. Usai diskusi, para penikmat acara Jurasik kembali dimanjakan oleh lagu-lagu yang dibawakan oleh BKR n' Friends. ***(JRS/CDR)