Senin, 11 Juni 2018

Tiga Bulan Jurasik Bergulir Tanpa Henti

Tiga Bulan Jurasik Bergulir Tanpa Henti

Oleh Setia Naka Andrian


Sungguh tak disangka, sudah tiga bulan ini forum mingguan Jurasik (Jumat Sore Asik) bergulir tanpa henti sejak 16 Maret 2018. Balai Kesenian Remaja (BKR) barangkali patut menjadi saksi utama pada peristiwa ini. Ia akan angkat bicara kali pertama, bahwasanya satu-satunya aktivitas seni dan budaya di Kendal yang berupaya rajin menggelar forum mingguan tanpa henti. Dua belas pertemuan sudah, Jurasik menghadirkan forum yang tidak sebatas selebrasi semata. Bahkan, setidaknya Jurasik telah menjadi satu-satunya forum yang merelakan waktu terpanjang dalam setiap perjumpaannya.
Bayangkan saja, forum dimulai sejak selepas isya, sekitar pukul 19.00 dan berakhir hingga pukul 01.00 dini hari. Bahkan selepas acara resmi ditutup pada dini hari tersebut, masih ada sisa-sisa hadirin yang masih betah menempelkan pantatnya di karpet-karpet lusuh di sebuah gedung kecil yang berada di belakang GOR Bahurekso, di sudut hingar-bingar kota Kendal ini. Lebih gila lagi, selama bulan Ramadan pun, Jurasik ini masih tetap digulirkan. Hanya saja, acara dimulai sejak pukul 20.00 selepas salat tarawih. Dan ternyata, bulan Ramadan sama sekali tidak membuat durasi perjumpaan mingguan ini menjadi menyempit. Justru menjadi semakin memanjang hingga menjelang santap sahur. Mereka jalani santap sahur bersama di BKR! Merekalah beberapa hadirin yang masih bersikeras melanggengkan perbincangan, bernyanyi-nyanyi, serta semakin memanaskan tetek-bengek laku kreatifnya di BKR. Sungguh sebuah laku gendheng yang patut dicontoh dan dikembang-biakkan!
Tentu siapa saja yang belum sempat menghinggapi gelaran mingguan Jurasik ini akan sedikit bertanya sinis. Apa benar begitu? Anda serius? Siapa saja yang bergiat di balik program mingguan tersebut? Apa motivasi penyelenggaraan Jurasik? Dari mana mereka mendapatkan dana guna penyelenggaraannya? Bagaimana pemenuhan persediaan kopi, air dispenser, dan jajanan-jajanannya? Lalu alat musik, sound, dan segenap peralatan yang digunakan untuk mendukung acara didapat dari mana? Siapa yang mengatur jadwal para pengisi acara atau pembicara yang dihadirkan dalam setiap minggunya? Siapa yang mendesain poster kegiatan? Siapa pula yang menulis reportase setiap minggunya? Begitulah adanya, bukan sulap dan tentu bukan pula sihir. Namun segala itu selama ini dapat dikerjakan sedemikian rupa, dan belum ada kendala yang berat hingga misalnya sampai harus menunda atau menggagalkan penyelenggaraan gelaran Jurasik. Para pegiat di balik layar pun sama sekali belum pernah mengeluh perihal penyelenggaraan Jurasik yang selalu digempur setiap satu minggu sekali tersebut.
Mari kita coba pelan-pelan menyibak tubuh Jurasik ini, agar nantinya akan ada kesepahaman dan segala hal yang patut diyakini bersama, lalu selanjutnya akan berupaya terus-menerus untuk dikerjakan sepenuhnya atas dasar laku kolektif. Bukan sebagai sebuah laku personal, mengemban kepentingan dari segelintir atau sekelompok orang semata. Begini, awalnya didapati sebuah kegelisahan yang dirasakan oleh Tanjung Alim Sucahya, yang kemudian ditularkan kepada beberapa seniman muda yang kerap kali berkegiatan seni dan budaya di kota Bahurekso ini. Mereka ingin menciptakan sebuah forum mingguan guna memberi ruang kepada siapa saja yang berdatangan di BKR. Akhirnya niatan mulia tersebut disambut hangat oleh Akhmad Sofyan Hadi, direktur artistik Jarak Dekat Art Production. Jarak Dekat didaulat sebagai sebuah lembaga nirlaba untuk menjaga segala tumpah darah Jurasik. Agar setidaknya, jika kelak dikemudian hari didapati suatu hal yang sekiranya mengusik kekhusyukan aktivitas tulus gelaran mingguan Jurasik tersebut, Jarak Dekat lah yang kali pertama akan pasang badan.
Maka berlanjutlah selepas itu, tanpa berlama-lama langsung diketuk palu. Segala kebutuhan administrasi terkait penggunaan gedung, membeli dispenser butut, dan lainnya dikerjakan dengan sebagai mana mestinya, serta dalam waktu yang tidak sesingkat-singkatnya. Nama forum Jurasik pun sesederhana mungkin dilontarkan oleh Tanjung, yang kali pertama menggelisahkan segala itu. Jurasik sebagai sebuah akronim dari Jumat Sore Asik. Meski sebelumnya sempat ada komentar dari beberapa pegiat, bahwasanya nama tersebut serupa dengan nama kegiatan yang dikerjakan oleh sebuah sekolah negeri di Kendal, dan telah beberapa kali acaranya diselenggarakan. Namun, Tanjung dengan tenang menegaskan sepenuh optimis, layaknya ia telah mampu menerawang bagaimana masa depan Jurasik di hadapan umat yang kian hari kian tiada jelas bagaimana wujud, pandangan, motif, dan pola hidupnya ini. Nama boleh sama atau serupa. Namun, lihat saja kelak mana yang akan lebih kuat dan istiqomah!
Pelan-pelan, Jurasik pun bergulir. Meski awalnya diungkapkan oleh salah seorang pegiat di balik layarnya, bahwasanya Jurasik perdana sepenuhnya bantingan dari beberapa pegiat. Apa yang dipunyai dan bisa digunakan dibawa ke BKR untuk penyelenggaraan Jurasik. Akhirnya pun, seiring bergeraknya waktu, niatan bantingan tersebut disambut baik oleh hadirin. Hingga akhirnya, dipasanglah kotak tissu yang dibubuhi tulisan koin kreatif. Setiap kali acara berlangsung, kotak tersebut menelurkan uang rata-rata mencapai seratus ribuan. Selepas acara, seperti di masjid-masjid, uang di kotak koin kreatif tersebut dihitung, dikabarkan kepada khalayak yang hadir. Bahkan tidak jarang disampaikan pula, bahwa selain dipakai untuk membeli kopi, teh, atau gula, uang yang terkumpulkan tersebut juga digunakan untuk membeli alat serta perlengkapan penunjang Jurasik. Misalnya mikropon, kabel, dan kebutuhan kecil lainnya. Selain bantingan, dalam Jurasik diberlakukan pula sistem patungan dan hibah. Misalnya tiap kali Jurasik terselenggara, di antara hadirin diperkenankan membawa apa saja, termasuk alat musik, gitar, sound, stand mikropon, dan lainnya. Bahkan jajanan sebagai teman penikmat kopi pun kerap dibawa sebagai upaya pemenuhan patungan tersebut. Kemudian beberapa kali dilakukan hibah alat dari para pegiat ataupun simpatisan yang hadir. Sempat ada yang menghibahkan sound, bass, keyboard, dan lainnya. Sungguh!
Segala hal tersebut setidaknya mampu menjadi sebuah jawaban tersendiri. Bahwasanya menyelenggarakan aktivitas kreatif itu tak perlu menunggu guyuran anggaran besar, atau melulu menunggu founding yang menggelontorkan berjuta-juta uang. Segala upaya tersebut menjadi contoh nyata, bahwa penyelenggaraan Jurasik merupakan sebuah gelaran forum yang diniatkan untuk disengkuyung bersama. Dengan besar harapan, agar siapa saja punya rasa saling memiliki terhadap suatu acara. Sesungguhnya sama sekali tidak ada istilah siapa panitianya dan siapa pengunjungnya. Sebab, selepas acara usai pun siapa saja diajak untuk saling membantu dan berkemas di area kegiatan. Misalnya pada aktivitas sederhana serupa melipat karpet dan membersihkan area tempat yang digunakan untuk kegiatan. Dalam Jurasik pun tidak ada tradisi melayani tamu, membuat kopi ya mereka mengaduk sendiri. Prasmanan, mengambil sendiri, menakar gula dan kopi, menyeduh, dan menyeruput sendiri sambil sepenuhnya menikmati keberlangsungan suguhan jalannya acara.
Dalam gelaran Jurasik ini pun, setiap usai acara ditawarkan kepada segenap hadirin, siapa saja yang hendak terlibat lebih jauh (di balik layar). Disilakan selebar-lebarnya, seluas-luasnya! Sungguh! Agar dalam pelaksanaan tiap minggunya dapat lebih tertata dan tergarap dengan baik. Akhirnya pun pelan-pelan didapati di antara hadirin yang rela mengorbankan dan menyesatkan dirinya ke jalan yang benar untuk bersama-sama menyengkuyung persiapan sebelum acara, saat acara berlangsung, dan selepas acara usai. Mereka berproses bagaimana mengonsep acara, menyiapkan sebuah acara, mengelola para pengisi atau narasumber diskusi, mendesain poster, menulis reportase, mendokumentasikan gambar, mengundang wartawan, mengirim pers release ke media massa, hingga mengunggah poster, foto, dan reportase di media sosial serta di blog. Segala itu diupayakan untuk dikerjakan bergantian, agar setidaknya semua pegiat di balik layar dapat saling belajar dan merasakan tugas kerja yang berlainan. Niatannya ya agar sama-sama belajar, agar selalu siap untuk mengerjakan apa saja, dan tentu tidak saling njagakke. Semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk saling mengingatkan, saling mengelola, menjaga, dan tentu pula terkait rasa saling memiliki.
Para pegiat di balik layar pun sempat dihujani kritik dan saran. Banyak hal, namun tetap dipertimbangkan matang. Mana yang bisa diambil, mana yang tidak. Misalnya, terkait penyelenggaraan Jurasik yang dikerjakan bulanan saja, jika mingguan terlalu mepet. Dikarenakan kok sepertinya yang datang hanya itu-itu saja, tidak begitu menggoda lebih banyak audiens dan lebih menggaet beragam hadirin yang sudi untuk menikmati Jurasik. Dan pada akhirnya, di antara pegiat di balik layar pun melontarkan jawaban selepas masukan tersebut ditampung. Bahwasanya hal serupa itu merupakan saran bagus. Namun niatan awal penyelenggaraan Jurasik bukan semata-mata dengan dalih untuk menarik massa yang besar. Bukan pula bersusah payah untuk harus menghadirkan orang-orang baru setiap kali penyelenggaraannya. Atau selalu dipenuhi dengan sorak-sorai di antara hadirin. BKR padat dan penuh hingga banyak di antara hadirin berebut tempat duduk yang hanya lesehan itu, hingga ada yang nangkring di pagar, memanjat di pohon-pohon atau naik di atas atap karena saking tidak muatnya area kegiatan.
Tidak semata itu. Jurasik hendak dihadirkan sederhana saja. Jurasik hendak mengejar substansi, bukan selebrasi semata. Silakan, biar pun yang hadir itu-itu saja atau bahkan jika suatu saat hadirin hanya bisa dihitung jari, tak masalah, tak jadi soal. Jurasik ingin memikat para hadirin yang benar-benar ingin belajar bersama, benar-benar hadirin yang sepenuhnya menghargai sebuah forum. Jurasik bukan untuk hadirin ceng-ceng-po atau yang hanya ingin tebar pesona saja. Silakan, Jurasik terbuka lebar untuk siapa saja. Jurasik berupaya menjadi ruang untuk belajar kelompok. Siapa saja memungkinkan akan bisa dihadirkan, dari kalangan mana pun. Asalkan niatannya ingin belajar bersama, ingin berbagi, bukan untuk menunggangi!
Silakan, bagi siapa yang suka sama suka dan tidak ada upaya untuk memaksa. Jika suatu acara sudah mengejar seberapa massa yang hendak diraih, ya sudah, bisa dicap acara itu pasti ada niatan lain, ada motif lain, ada niatan politisnya. Pasti! Jurasik ya biar mengalir saja. Jurasik tidak perlu mengemis mengharap uluran tangan agar setiap kali acara suasana tempat menjadi gemebyar, alas duduknya empuk, soundnya sanggup menggetarkan relung dada. Tidak, Jurasik ingin bergulir seadanya dan semampu yang dimiliki oleh teman-teman yang hendak terlibat dan bersedia datang merayakan gelaran tersebut setiap Jumat. Jika ada siapa pun yang hendak mengisi kotak koin kreatif ya silakan isi saja. Sempat didapati uang ratusan ribu, itu pasti dari hamba Allah yang ikhlas menyumbang. Tidak ada motif apa-apa tentunya. Dikarenakan tidak ada catatan siapa yang memberi sumbangan, tidak disiarkan di depan, apa lagi yang dijanjikan secara lantang di hadapan hadirin. Bahwa nanti saya akan membantu ini, membantu itu. Tidak. Silakan memang, para pegiat di balik layar Jurasik menerima bagi siapa saja, baik personal, komunal, individu atau kelompok yang terketuk hatinya untuk turut serta membantu untuk menyehatkan penyelenggaraan Jurasik. Namun perlu diingat, Jurasik tidak bisa membalas apa-apa. Jurasik tak bisa memberikan panggung untuk mendongkrak massa. Tidak bisa. Jika siapa pun yang berbuat sesuatu untuk Jurasik, ya sudah biar Tuhan saja yang membalas. Dikarenakan, jika suatu forum, atau apa pun bentuknya sudah berpihak pada seseorang atau kelompok tertentu, maka sudah pasti nantinya tidak pernah akan sehat. Akan berakhir sia-sia saja penyelenggaraan sebuah forum yang sesungguhnya diidamkan intens tersebut.
Bahkan terkait konsep acaranya pun kerap selalu dihadirkan dengan secair mungkin. Terkait susunan acara pun tidak jarang dirusak. Misal ada seseorang yang hadir, kok tiba-tiba ingin tampilkan karyanya atau berpentas, silakan! Meski ia tidak tercantum di dalam poster. Meski sebelumnya sama sekali tidak ada janji. Jurasik itu forum bebas! Ya sudah, semakin berjalan penyelenggaraannya, dengan sepenuh akal sehat dan cinta kasih, pelan-pelan kita tentu akan melihat bagaimana niat baik Jurasik. Selepas itu, kita sebagai insan yang kerap mengaku saleh sudah sejak dalam pikiran, sudah tentu harus mendukung sepenuhnya niatan mulia Jurasik tersebut. Biarkan forum mingguan ini berjalan sebagaimana adanya. Biar Jurasik mengalir saja sesuai gerak waktu, perkembangan, dan apa yang dibutuhkan para pegiat, seniman, komunitas, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Misalnya, dalam penyelenggaraan Jurasik pun kerap ditegaskan kepada segenap pengisi. Bahwa Jurasik belum mampu sepenuhnya memenuhi apa yang diinginkan penampil. Sangat jauh dari apa yang diharapkan untuk dapat mengabulkan keinginan pengisi acara, terkait peralatan misalnya. Jadi kerap kali disampaikan kepada pengisi, jika punya silakan dibawa, Jurasik hanya menyiapkan apa saja yang dimiliki dan yang memungkinkan dibawa oleh teman-teman pegiat dan penampilnya sendiri.
Bahkan para pegiat di balik layar Jurasik pun siap menghadapi kemungkinan lain, jika suatu saat ada di antara hadirin atau siapa saja yang merasa bercuriga tentang penyelenggaraan Jurasik, maka dengan senang hati siapa pun itu disilakan untuk turut serta berproses lebih jauh. Turut serta menggarap di balik layar, agar sepenuhnya tahu apa yang terjadi, bagaimana jerih payah yang dilakukan oleh teman-teman pegiat di balik layar. Jika seorang tersebut hanya nyinyir belaka, dan bercuriga saja, tanpa mau diajak untuk terjun lebih jauh, berarti bisa kita anggap ia memendam motif lain. Ya sudah, biarkan saja. Pasti kelak waktu akan memberikan jawaban tersendiri. Tuhan akan menggiringnya ke jagat kesadaran dan penyesalan yang hakiki!
Sempat pula dikabarkan oleh salah seorang pegiat, bahwasanya kenapa Jurasik kok terkesan monoton. Tidak ada letupan-letupan. Kerap terasa begitu membosankan. Rutinitas yang kadang membuat neg, jenuh, dan lain sebagainya tentang motif-motif sekitar itu. Pegiat pun dengan tenang menimpali, Begini, Bung. Bahwasanya segalanya yang dilakukan yang berkesan monoton, dilakukan berulang-ulang, bahkan yang kita kerjakan setiap hari. Bukankah segala itu akan semakin meneguhkan dan menguji seberapa niatan tulus kita dalam menempuh sesuatu Bagi umat Muslim misalnya, mereka salat lima kali sehari. Bagi umat Kristiani misalnya, mereka seminggu sekali ke Gereja! Ibarat kita mengayuh sepeda, itu kan ya sangat monoton. Terus kita kayuh, entah kapan akan sampai tak usah digagas. Namun lebih dengan segala itu, kita pikirkan bukan bentuk (hasil) semata. Namun lebih pada proses menuju, bukan hasil akhir atau keberadaan tujuannya itu!
Tenang saja, pegiat Jurasik yang bersemayam di balik layar telah memikirkan aktivitas lain untuk proses penunjang selanjutnya. Setidaknya menjadi upaya pengepul para pegiat dan pelaku seni budaya untuk membiasakan diri bersinggungan dengan sesama ataupun lintas komunitas. Membiasakan diri untuk bertemu intens dalam laku kreatif, sehingga kelak di suatu waktu akan leluasa jika hendak menggarap sebuah gelaran kolektif yang lebih berskala besar. Sebut saja pada gelaran tahunan, Kendali Seni Kendal 2018 yang kali ini memasuki tahun ketiga. Selain itu, telah disiapkan pula program lain agar para pegiat dan pelaku seni budaya dapat naik kelas. Barang tentu, jika gelaran Jurasik ini sudah benar-benar mengasyikkan, sudah cukup kuat sebagai sebuah pondasi, dan sudah berjalan cukup lama, misal sudah satu tahun. Ya, tentu akan lekas digulirkan program selanjutnya untuk mengimbangi dan menaikkan capaian bagi para pegiat, seniman, dan siapa saja yang terlibat dalam Jurasik. Jika di antara para seniman misalnya, mereka sudah beberapa kali dihadirkan dalam Jurasik. Sudah cukup matang selepas melewati tempaan-tempaan forum. Yang selanjutnya secara sederhana telah dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan dari Jurasik, maka lekas akan digiring pada proses selanjutnya. Sudah pasti pada forum yang lebih serius, berbahaya, dan dapat menyebabkan putus asa jika tidak sepenuhnya karya serta laku kreatifnya siap diadili.
Sedikit bocoran, forum tersebut bukan lagi forum asyik-asyik serupa Jurasik. Bukan lagi forum bongkokan yang setiap tampil bersama pegiat lain. Dalam poster nampak riuh nama-nama seniman. Hadirin yang mengapresiasi, mengkritik, dan memberi saran pun masih beragam. Boleh siapa saja. Namun, dalam forum lanjutan tersebut. Bolehlah jika disebut sebagai sebuah pengadilan karya. Jadi di situ, karya benar-benar diadili secara serius. Penuh kemarahan, minim keramahan, tidak ada lagi asyik-asyik. Orang-orang yang hendak mengadili pun sudah ditentukan, dan sepenuhnya harus bertanggung jawab pula atas apa yang dilontarkan dalam apresiasi, kritik, sarannya. Harus ada bukti, data, dan minimal dituliskan. Agar setidaknya, segalanya dapat terdokumentasi dan dapat menjadi bahan untuk laku kreatif selanjutnya. Ada rujukan, pandangan, dan lainnya, jika beberapa waktu yang terlewat telah ditemukan karya dan respon tertentu atas karya tersebut.
Kiranya begitu. Segala ini hanya sebuah ulasan kecil, tak lain sebagai upaya untuk angkat topi ke hadirat program mingguan Jurasik tersebut. Paling tidak, selama ini saya selalu hadir untuk melihat, mengamati, dan berupaya mundur beberapa langkah ke belakang agar lebih leluasa memandang bagaimana keberadaan Jurasik di benak dan hati khalayak. Berbagai sudut pandang pun telah berupaya dibidik sedemikian rupa guna menjejaki capaian-capaian tertentu dalam jagat laku kreatif. Dan, ada sedikit pesan dari para pegiat yang bersemayam di balik layar Jurasik. Bahwasanya Jurasik pada jumat yang bertepatan dengan hari Lebaran tetap terselenggara. Namun peristiwa tersebut hanya digerakkan di benak dan hati kalian masing-masing. Sampai jumpa pada Jurasik #13 pada jumat selanjutnya selepas lebaran. Silakan, jika hendak kangen-kangenan dengan Jurasik saat berlibur, atau bagi yang sepenuhnya ingin tahu bagaimana serta seperti apa forum mingguan Jurasik, Tuan dan Puan bisa mampir di panggungjarakdekat.blogspot.com. Di sana akan disambut berbagai poster dan reportase yang mengisahkan jalannya geliat mingguan Jurasik.
Ohya, ini bukanlah ulasan yang sepenuhnya benar, bukan pula yang mutlak dan harus diyakini begitu saja. Silakan jika ada di antara Tuan dan Puan yang hendak memberi tanggapan, sanggahan atau tambahan. Namun, tetap laku setimpal ya. Jika tulisan, ya balaslah dengan tulisan. Jika respon atas laku kreatif yang kita anggap baik, ya maka balaslah dengan baik. Jangan malah segala yang diawali sepenuh jerih payah, ketulusan, dan sepenuh kecintaan Jurasik terhadap gerak seni budaya di kota Bahurekso ini hanya dibalas dengan nyinyiran atau sebatas sinis tak bertuan belaka. Selamat berlebaran! Mohon maaf lahir batin.

Setia Naka Andrian, Pengajar di Fakultas Pendidikan dan Seni Universitas PGRI Semarang. Pencatat gerak seni dan budaya Kendal. Seseorang yang memiliki hobi umbah-umbah dan memasak ini sangat takut dengan gelap, pengagum tanggal merah, dan pecandu offroad. Kini ia sepenuhnya bermukim di setianakaandrian.blogspot.co.id. Dapat disapa dengan mengirim pesan singkat atau pulsa di nomor (telepon/sms/wa) 085641010277.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar