Jumat, 08 Juni 2018

Jurasik #10 (Wayang Gaga dan Gamelan Tempa di Jurasik #10)



Jurasik #10

Wayang Gaga dan Gamelan Tempa di Jurasik #10

Kali kesepuluh, JURASIK (Jumat Sore Asik) menghampiri mata khalayak. Pada 25 Mei 2018, di bulan suci Ramadan ini, tidak menjadi halangan bagi para pegiat seni dan budaya Kendal untuk menyengkuyung gelatan mingguan yang diberi nama Jurasik ini. Sejak sore hari, para pegiat telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyiapkan penyelenggaraan acara yang hendak digulirkan malam harinya. Bahkan, didapati beberapa pegiat rela ngabuburit dan sekaligus berbuka puasa di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, tempat yang digunakan sebagai ruang penyelenggaraan gelaran seni budaya yang tak sebatas selebrasi semata itu.

Selepas waktu salat tarawih, gedung kecil mungil serupa gedung Taman Kanak-Kanak yang dikenal sebagai gedung BKR yang berada di belakang GOR Bahurekso tersebut, halamannya tersulap menjadi sebuah panggung yang lain dari biasanya. Kini didapati batang pohon pisang yang dibaringkan, serta didapati kain hitam yang dibentangkan berdiri sekitar satu meter. Kita pun lekas bisa menebak, jika panggung tersebut adalah panggung wayang. Dikarenakan, ada beberapa wayang di sekitar area. Serta terdapat batang pohon pisang, yang sudah pasti akan digunakan oleh seorang dalang untuk menancapkan wayang-wayangnya.

Meskipun, kita tidak akan pernah dihadapkan pada sebuah pertunjukan wayang pakem dalam pertunjukan tersebut. Kali ini, hadir suguhan wayang kontemporer, yakni Gaga dari Mijen Semarang. Sebuah kelompok wayang kontemporer yang memanfaatkan bahan-bahan dari kebun (gaga) untuk menciptakan wayang-wayangnya.

Dalam produksinya, Wayang Gaga memanfaatkan alang-alang dari kebun di sekitar tempat tinggal para pegiatnya. Alang-alang yang digunakan sepenuhnya sebagai bahan penciptaan wayang-wayangnya.

Ada sedikit yang beda dengan pertunjukan wayang pada umumnya. Jika biasanya didapati beragam wayang dan dimainkan oleh seorang dalang, namun kali ini setiap dalang bertugas memainkan satu wayang yang dipegangnya.

Para pegiat Wayang Gaga yang pentas pada malam itu, di antaranya, Pambuko Septiardri (Patih Pambuko, Gandos Percil), Teguh Ramadani (Bayan, Wayang Mbah Tarjo), Surya Cahyono (Kampret, Pliyuk), Rahmat Kurniawan (Kantong Bolong, Prabu Tanjung, Patih Sucelo), dan Jeny Dwi Pangestu (Ilustrasi, Kentrung).

Kami memainkan wayang dengan kisah-kisah keseharian. Tentu sangat terkait dengan banyak hal yang kita amati, kita lihat, atau bahkan yang begitu dekat dan kita alami sendiri. Sangat sering kami mengilhami kisah-kisah yang kita tangkap dari apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tutur Ki Pambuko.

Bagi Ki Pambuko, hingga pertunjukan yang berlangsung malam itu, mereka telah melewati banyak proses. Segalanya dijadikan sebagai sebuah pertimbangan tersendiri guna mengejar pencapaian makna dan estetika tertentu dalam pertunjukannya. Maka tidak heran, jika barangkali mereka telah melewati berbagai penemuan, baik konsep maupun bentuk yang disuguhkan dalam setiap perrunjukannya.

Pada pertunjukan kali ini, yang kami hadirkan di acara Jurasik ini, kami sebenarnya tidak menjalani latihan khusus. Karena permainan kami cukup merespon apa yang ada di tempat yang kami kunjungi. Misalnya di antara para pegiat seni budaya dan masyarakat di Kendal ini. Kami upayakan untuk berbincang terlebih dahulu dengan para pegiat. Apa yang terjadi, bagaimana keadaan di sini, lalu juga terkait hal lain yang bisa memperkuat pondasi kisah yang hendak kami tampilkan, tutur Teguh Ramadani, atau yang biasa akrab disapa Pakdhe.

Terbukti, pertunjukan yang disajikan Wayang Gaga begitu interaktif, dan seolah telah mampu memahami kondisi dan banyak hal yang sekiranya dialami oleh para penonton di Kendal. Para penonton telah turut serta merespon, menanggapi, dan nyletuk jika didapati bagian yang berhubungan langsung dengan keseharian mereka atau yang dikira begitu dengan dengan kondisi yang sedang dialami saat-saat ini.

Intinya, dan pada dasarnya, pertunjukan yang kami hadirkan adalah pertunjukan santai. Yang biasa juga kami suguhkan di hadapan anak-anak. Tentu sedemikian rupa harus kami hadirkan dengan cair, penuh dengan bumbu-bumbu lelucon pula, imbuh Ki Pambuko.

Selain pertunjukan Wayang Gaga tersebut, dalan gelaran Jurasik #10 ini dihadirkan pula sebuah kelompok musik yang bisa dibilang sangat baru. Dikarenakan baru saja terbentuk. Bahkan group ini dilahirkan atas pertemuan beberapa pegiat yang kerap ngopi dan berbincang di BKR. Group tersebut bernama Gamelan Tempa. Merupakan sebuah nama atas akronim dari Majelis Maiyah Tembang Pepadhang (Tempa), sebuah group musik yang dipadukan antara alat musik modern dengan alat musik tradisional.

Pada kesempatan tersebut, Gamelan Tempa menyuguhkan beberapa lagu yang bisa dianggap aangat cocok dengan suasana Ramadan. Yakni lagu-lagu yang berkesan menenteramkan jiwa khalayak yang hadir. Lagu-lagu tersebut di antaranya, Ya Asyiqol Mustofa, Sholatum Bissalabil Mubien, Yang Patah Tumbuh (Banda Neira), Risalah Hati (Dewa), Sebelum Cahaya (Letto), Sugih Tanpa Banda (Sujiwo Tejo).*** (JRS/SNA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar