Jumat, 29 Juni 2018

Jurasik #14 (Jurasik Datangkan 2 Wanita Pegiat Literasi di Kendal)


Jurasik #14

Jurasik Datangkan 2 Wanita Pegiat Literasi di Kendal


Literasi merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Begitulah kiranya pengertian literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). mengingat pentingnya peran literasi dalam hidup tersebut, Jurasik di edisinya yang ke-14 membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan literasi di Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal, Jumat 29 Juni 2018.

Acara yang berlangsung kurang lebih 3-4 jam tersebut mendatangkan 2 Narasumber yang kebetulan keduanya seorang cewek. Tak heran dalam posternya Jurasik #14 ini mengambil tema "Laku Srikandi Kita". Mereka berdua adalah penggiat literasi yang ada di Kendal. Yaitu Sitta Saraya yang merupakan Dosen Fakultas Hukum Universitas Selamat Sri (UNISS) dan Ngarminingsih yang merupakan Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kabupaten Kendal

Seperti biasa, sebelum acara diskusi dimulai para peserta yang hadir diperbolehkan menampilkan karyanya diatas panggung. Beberapa peserta menampilkan puisi untuk membuka diskusi pada malam tersebut.

Selepas pembacaan puisi tersebut acarapun dimulai dengan membahas budaya literasi yang ada di Kendal. Menurut Sitta yang juga merupakan pegiat wisata Kendal, antusiasme literasi di Kendal masih sangat rendah. "Kalau di Kendal sih masih rendah ya, Mas. Apalagi sekarang ini game online merajalela. Jadi pemuda itu lebih memilih alokasi waktunya untuk bermain game". Namun meskipun antusias literasi di Kendal rendah, Sitta tetap mempunyai harapan agar Kendal itu di kenal sebagai kota literasi"

Usai Sitta, diskusi dilanjut ke narasumber kedua yaitu Ngarminingsih atau yang kerap disapa Bu Nining. Beliau sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Sitta yaitu budaya literasi di Kendal memang masih rendah. "Memang ya mas, saya itu suka heran kenapa kok di Kendal susah sekali menumbuhkan jiwa literasi. Menurut data kami, ada 60 Taman Baca Mayarakat yang ada di Kendal. Namun ironisnya, hanya sekitar 10 yang masih aktif" terang wanita yang menjadi ketua Forum Taman Baca Masyarakat Kabupaten Kendal tersebut.

"Di Kendal sendiri ada 2 lingkup TBM yaitu TBM Mandiri dn TBM yang merupakan program dari PKBM(Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)" imbuhnya. Dalam diskusi tersebut salah satu peserta, Ermin Nur Cholis, memberikan pendapatnya soal literasi "Budaya literasi itu dimulai sejak kecil. Orang tua ataupun guru ya harus agak memaksa anak untuk membaca. Karena dimulai dari paksaan tersebut anak akan terbiasa" kata guru SMP N 1 Brangsong dan juga penulis buku yang berjudul Literasi untuk Siapa? tersebut. Para peserta lain juga memberikan saran atau usulan kepada narasumber untuk kemajuan literasi di Kendal. Salah satunya yaitu program TBM ke pada keluarga.

Selepas diskusi, seperti para peserta disuguhkan musik akustik yang dibawakan oleh BKR n' Friend untuk menghibur dan mencairkan suasana dengan lagu-lagu romantis karya Sheila on 7 dan juga Jamrud. ***(JRS/CDR)

Senin, 25 Juni 2018

MUSIK BERSENI-SENI


Berdonasi dalam musik Berseni-Seni







Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal menjadi semarak dalam perhelatan Musik Berseni-Seni, pada Minggu 1 Juli 2018. Dari pagi hari sudah terlihat peralatan Musik dan Sound System yang ditata rapi di area BKR.



Pada acara tersebut beberapa pegiat bekerja sama dengan Jarak Dekat Art Production dan Komunitas Musisi Kendal (KOMIK) menampilkan setidaknya 14 band asal Kendal Diantaranya Fourmaline In Dice, Lowsaiders, Rusted Steel, Edan Permanent, Lighting Be Silent, Tanda Tanya, Forgivers, The G-string, Rock Addict, Anjing Liar, Bkr N Friends, Brother Bottle, Rotting Green dan Tikungan Tajam.




Perhelatan yang berdasar pada kegelisahan yang sama, seperti halnya dipersulitnya perizinan menyelenggarakan event musik  dengan tanpa membedakan mana event-event anggaran besar (EO) dan idealis sekalipun. Serta kegelisahan dari beberapa pelaku seni tentang minimnya wadah apresiasi bagi musisi Kendal, juga tentang antusiasnya para pegiat non-komersil di BKR sendiri.





Program yang dibalut dalam nuansa Halalbihalal tersebut diselenggarakan sebagai ajang apresiasi bagi musisi Kendal sekaligus kepedulian dan kesadaran diri mengumpulkan dana untuk menfasilitasi gedung BKR melalui donasi seihklasnya.

Di depan pintu masuk didapati sebuah kotak ala kadarnya bertuliskan "wajib donasi".
yang tidak ada paksaan tentang nominal. 




Demikian pula, didalam telah disediakan beberapa bungkus kopi yang siap diseduh dan siap menemani santapan sederhana serupa ketela rebus yang masih hangat dihidangkan di atas meja depan pintu masuk BKR.

Sekitar pukul 09.00 WIB, acara Musik Berseni-Seni dimulai hingga diistirahatkan pada pukul 11.30 WIB untuk memberi kesempatan beribadah salat duhur dan dilanjutkan kembali pukul 12.30 WIB. 

Area BKR terlihat segar dan berwarna dengan alunan-alunan musik yang dibumbui genre seperti Pop, Folk, Punk, Metal, Rock, Grunge dan lainnya secara bergantian.




Pengapnya didalam gedung yang sempit itu, tidak sekalipun menyurutkan antusias para partisipan memainkan lagu-lagu andalannya.

Tepat pukul 15.00 WIB, acara kembali diistirahatkan memberi kesempatan ibadah salat ashar dan dimulai kembali dengan menyelipkan sesi diskusi pada pukul 15.30 WIB.

"Mari kita jaga bersama-sama dan hargai para penyelenggara acara-acara semacam ini dengan tidak menimbulkan kerusuhan serta menodai keharmonisan lingkungan sekitar," tutur Qyi, salah seorang pegiat aktif dalam event Underground, sebagai narasumber dalam sesi diskusi kali itu.

Ditambahkan Qyi, "bahwasanya perhelatan serupa itu harus dipertahankan, bahkan harus bisa menjadi acara rutin yang bisa saja diselenggarakan diberbagai wilayah pelosok Kendal sekalipun secara bergantian dan berkelanjutan.

Di sisi lain pada kesempatan tersebut, segala sudut gedung nampak akrab dan harmonis. dimana partisipan, apresian dan apresiator dari berbagai genre entah tua ataupun muda duduk setara dengan kegelisahan yang sama dengan harapan yang sama pula.

"Selain mempererat persaudaraan, acara tersebut juga sebagai ajang edukasi lintas genre guna menambah refrensi bagi sesama musisi di Kendal serta menyadarkan tentang kepedulian terhadap kesenian dalam bentuk yang sederhana sekalipun," pungkas Camat, salah seorang pegiat Musik Berseni-Seni.





Hari beranjak sore, namun sama sekali tidak menyurutkan antusias para pecinta musik di Kendal, canda tawa di segala sudut mengartikan tersendiri betapa lepasnya segala keluh kesah yang ada dengan melihat dan mendengarkan alunan musik yang disuguhkan sambil meneguk segelas kopi hingga acara selesai pada pukul 17.00 WIB. *** (JD/CMT)

Halalbihalal Produktif ala Sanggar Kejeling

Halalbihalal Produktif ala Sanggar Kejeling

Foto Caption: antusias peserta pelatihan melukis menggunakan media pelepah pisang (24/6).

Ada yang sedikit berbeda pada Sanggar Kejeling yang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring Kendal hari itu, Minggu siang 24 Juni 2018. Segerombolan wanita cantik nan anggun yang menamakan dirinya Komunitas Model Kendal, turut memeriahkan acara Halalbihalal dan Pelatihan Melukis dengan Pelepah Pisang. Kehadiran para model cantik Kendal tersebut tentunya menambah antusiasme para masyarakat yang ingin berlatih. Tak hanya dari Komunitas Model Kendal, beberapa perwakilan komunitas di Kendal seperti Jurasik dan Taman Baca Kaliwungu juga turut memeriahkan acara.

Acara Pelatihan Melukis dengan Pelepah Pisang yang sekaligus juga dijadikan sebagai momen Halal Bi Halal tersebut diiniasi oleh Sanggar Kejeling sebagai bentuk pengembangan skill, khususnya untuk anggota Sanggar Kejeling sendiri. "Ini merupakan pelatihan ya semacam mini workshop gitu lah, Mas. Sebagai upaya kami untuk terus memberdayakan anggota-anggota kami" Kata Diki yang merupakan Ketua Sanggar Kejeling.

Tak tanggung-tanggung, dalam pelatihan ini Sanggar Kejeling mendatangkan pelatih dari Kota Apel Malang. "Ya kami mendatangkan pelatih melukis dari Malang. Kebetulan pas beliau sedang mencari pelepah pisang di Kendal, ya saya tarik kesini dulu untuk mengajari anak-anak" Imbuh Diki.

Acara pelatihan ini disambut baik oleh para peserta yang turut berpartisipasi. Komunitas Model Kendal (KMK) misalnya, mereka sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan ini "Kegiatan seperti ini sangat mengedukasi banget khususnya untuk anak-anak. Saya kagum juga di Sanggar inu tak hanya mengajarkan seni, tapi juga perilaku" kata Firna Ana Ruriana, ketua KMK.

Senafas dengan Firna, salah satu peserta yang merupakan Guru SD Universal Ananda bernama Ifa Musdalifah juga turut memberikan kesan baiknya. "ini sebuah kreatifitas yang sangat bagus, Mas. Meskipun sekarang handphone itu sudah merabah ke anak-anak, tapi anak-anak di Sanggar Kejeling ini tetap semangat untuk berkesenian"

Dalam pelatihan ini peserta di tuntun untuk membuat lukisan dari pelepah pisang yang sudah di tipiskan kemudian ditempelkan kedalam sebuah papan triplek mengggunakan lem. Tak hanya sekedar pelatihan, di akhir acara panitia juga memberikan apresiasi terhadap karya-karya terbaik dengan memberikan bingkisan. (JD/CDR).

Jurasik #13 (Momen Halalbihalal, Jurasik Dihadiri Perantau yang Kerap Keliling Dunia)



Jurasik #13


Momen Halalbihalal, Jurasik Dihadiri Perantau yang Kerap Keliling Dunia




Sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, acara Jurasik (Jumat•Sore•Asik) kembali hadir untuk menjadi wadah diskusi kesenian bagi para seniman dan juga masyarakat umum Kabupaten Kendal. Acara jurasik yang ke-13 ini digelar di Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal, Jumat 22 Juni 2018. Ada yang sedikit berbeda dengan Jurasik Edisi Lebaran kali ini. Karena Jurasik menghadirkan narasumber kelahiran Kendal yang telah lama merantau di pulau NTB dan BALI, yaitu Paox Iben dan Arifian Soegito.

Rintik hujan yang cukup deras sempat membasahi kota Kendal malam itu, namun rupanya tak menyurutkan antusiasme masyarakat Kendal yang haus akan ilmu seni. Sekitar pukul 19.30 WIB Jurasik dimulai. Seperti biasa, sebelum dan sesudah diskusi Jurasik diiringi oleh musik akustik dan beberapa penampilan lain karena panggung Jurasik terbuka oleh umum. Peserta diskusi bebas menampilkan karyanya dihadapan umum.

Setelah beberapa karya ditampilkan, akhirnya acara diskusi dimulai. Diskusi dimulai dari narasumber Arifian Soegito, seniman asal Kendal yang merantau ke Bali. "Saya lahir dan besar di Kendal dan sempat juga berkarya bersama teman-teman Teater Semut Kendal sebelum akhirnya saya memutuskan untuk merantau ke pulau sebelah" kata Arif. Meskipun begitu ia tak semata-mata lupa pada daerah yang telah membesarkannya. Jiwa kesenian tetap hidup pada jiwanya. Terbukti, ia menjadi salah satu pelopor terbentuknya Sanggar Kejeling yang berada di Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring. "Saya itu orang Kendal dan teman-teman saya banyam yang seniman. Saya merasa berdosa jika saya meninggalkan dunia kesenian hanya karena saya sudah tidak di Kendal lagi. Sempat berdiskusi dengan teman dan akhirnya saya mengusulkan untuk membuat suatu wadah yang dapat menampung bakat seni warga, khususnya anak dan remaja di Kendal, alhamdulillah sekarang sudah terbentuk" imbuhnya.



Setelah mengulas tentang Arifian Soegito, diskusi dilanjutkan ke narasumber yang ke-2 yaitu Paox Iben. Pria yang bernama asli Ahmad Ibnu Wibowo ini adalah orang asli Kendal yang merantau ke Pulau NTB. Selain ia seorang penulis novel, ia juga seorang penjelajah sosial-budaya. Paox Iben telah mengelilingi Indonesia dan 5 negara Timur Tengah menggunakan sepeda motor pada tahun 2016 silam dan tahun ini rencana akan kembali menjelajah mengelilingi dunia. "Alhamdulillah pada beberapa tahun lalu saya telah mengelilingi Indonesia. Hampir semua daerah saya kunjungi kecuali Papua. Karena saat itu Papua masih terkendala dengan jalur darat karena saya menggunakan motor dalam perjalanan ini. Tahun ini insyaallah saya akan mengelilingi 33 negara di dunia" kata Pria berambut gimbal ini.

Ditanya soal apa yang harus dilakukan oleh para penggiat seni di Kendal ini, Iben menjawab bahwa seni haruslah dinamis mengikuti perkembangan zaman. "Seni dan Budaya merupakan suatu hal yanh terus berkaitan. Makanya, seni haruslah diselaraskan dengan budaya yang ada. Selain itu, seni juga harus melihat potensi daerah. Jangan sampai seni kalah dengan industri". Selain itu Iben juga berpesan kepada para pelaku seni di Kendal bahwa orientasi seni tidak selalu kepada materil. "Janganlah kita takut miskin karena seni. Justru jika kita itu berani miskin karena berkesenian, itu luar biasa".

Diskusi yang berlangsung hampir 4 jam tersebut benar-benar menjadi sumber ilmu bagi para seniman dan warga Kendal. Banyak pelajaran yang didapatkan dari orang Kendal yang telah banyak berpengalaman di dunia seni dan budaya bahkan sampai keliling dunia. Acara Jurasik rencana akan terus digelar setiap hari Jumat sore di Gedung Kesenian Remaja Kendal.*** (JRS/CDR)

Selasa, 12 Juni 2018

Tiga Bulan Jurasik Bergulir Tanpa Henti

Tiga Bulan Jurasik Bergulir Tanpa Henti

Oleh Setia Naka Andrian


Sungguh tak disangka, sudah tiga bulan ini forum mingguan Jurasik (Jumat Sore Asik) bergulir tanpa henti sejak 16 Maret 2018. Balai Kesenian Remaja (BKR) barangkali patut menjadi saksi utama pada peristiwa ini. Ia akan angkat bicara kali pertama, bahwasanya satu-satunya aktivitas seni dan budaya di Kendal yang berupaya rajin menggelar forum mingguan tanpa henti. Dua belas pertemuan sudah, Jurasik menghadirkan forum yang tidak sebatas selebrasi semata. Bahkan, setidaknya Jurasik telah menjadi satu-satunya forum yang merelakan waktu terpanjang dalam setiap perjumpaannya.
Bayangkan saja, forum dimulai sejak selepas isya, sekitar pukul 19.00 dan berakhir hingga pukul 01.00 dini hari. Bahkan selepas acara resmi ditutup pada dini hari tersebut, masih ada sisa-sisa hadirin yang masih betah menempelkan pantatnya di karpet-karpet lusuh di sebuah gedung kecil yang berada di belakang GOR Bahurekso, di sudut hingar-bingar kota Kendal ini. Lebih gila lagi, selama bulan Ramadan pun, Jurasik ini masih tetap digulirkan. Hanya saja, acara dimulai sejak pukul 20.00 selepas salat tarawih. Dan ternyata, bulan Ramadan sama sekali tidak membuat durasi perjumpaan mingguan ini menjadi menyempit. Justru menjadi semakin memanjang hingga menjelang santap sahur. Mereka jalani santap sahur bersama di BKR! Merekalah beberapa hadirin yang masih bersikeras melanggengkan perbincangan, bernyanyi-nyanyi, serta semakin memanaskan tetek-bengek laku kreatifnya di BKR. Sungguh sebuah laku gendheng yang patut dicontoh dan dikembang-biakkan!
Tentu siapa saja yang belum sempat menghinggapi gelaran mingguan Jurasik ini akan sedikit bertanya sinis. Apa benar begitu? Anda serius? Siapa saja yang bergiat di balik program mingguan tersebut? Apa motivasi penyelenggaraan Jurasik? Dari mana mereka mendapatkan dana guna penyelenggaraannya? Bagaimana pemenuhan persediaan kopi, air dispenser, dan jajanan-jajanannya? Lalu alat musik, sound, dan segenap peralatan yang digunakan untuk mendukung acara didapat dari mana? Siapa yang mengatur jadwal para pengisi acara atau pembicara yang dihadirkan dalam setiap minggunya? Siapa yang mendesain poster kegiatan? Siapa pula yang menulis reportase setiap minggunya? Begitulah adanya, bukan sulap dan tentu bukan pula sihir. Namun segala itu selama ini dapat dikerjakan sedemikian rupa, dan belum ada kendala yang berat hingga misalnya sampai harus menunda atau menggagalkan penyelenggaraan gelaran Jurasik. Para pegiat di balik layar pun sama sekali belum pernah mengeluh perihal penyelenggaraan Jurasik yang selalu digempur setiap satu minggu sekali tersebut.
Mari kita coba pelan-pelan menyibak tubuh Jurasik ini, agar nantinya akan ada kesepahaman dan segala hal yang patut diyakini bersama, lalu selanjutnya akan berupaya terus-menerus untuk dikerjakan sepenuhnya atas dasar laku kolektif. Bukan sebagai sebuah laku personal, mengemban kepentingan dari segelintir atau sekelompok orang semata. Begini, awalnya didapati sebuah kegelisahan yang dirasakan oleh Tanjung Alim Sucahya, yang kemudian ditularkan kepada beberapa seniman muda yang kerap kali berkegiatan seni dan budaya di kota Bahurekso ini. Mereka ingin menciptakan sebuah forum mingguan guna memberi ruang kepada siapa saja yang berdatangan di BKR. Akhirnya niatan mulia tersebut disambut hangat oleh Akhmad Sofyan Hadi, direktur artistik Jarak Dekat Art Production. Jarak Dekat didaulat sebagai sebuah lembaga nirlaba untuk menjaga segala tumpah darah Jurasik. Agar setidaknya, jika kelak dikemudian hari didapati suatu hal yang sekiranya mengusik kekhusyukan aktivitas tulus gelaran mingguan Jurasik tersebut, Jarak Dekat lah yang kali pertama akan pasang badan.
Maka berlanjutlah selepas itu, tanpa berlama-lama langsung diketuk palu. Segala kebutuhan administrasi terkait penggunaan gedung, membeli dispenser butut, dan lainnya dikerjakan dengan sebagai mana mestinya, serta dalam waktu yang tidak sesingkat-singkatnya. Nama forum Jurasik pun sesederhana mungkin dilontarkan oleh Tanjung, yang kali pertama menggelisahkan segala itu. Jurasik sebagai sebuah akronim dari Jumat Sore Asik. Meski sebelumnya sempat ada komentar dari beberapa pegiat, bahwasanya nama tersebut serupa dengan nama kegiatan yang dikerjakan oleh sebuah sekolah negeri di Kendal, dan telah beberapa kali acaranya diselenggarakan. Namun, Tanjung dengan tenang menegaskan sepenuh optimis, layaknya ia telah mampu menerawang bagaimana masa depan Jurasik di hadapan umat yang kian hari kian tiada jelas bagaimana wujud, pandangan, motif, dan pola hidupnya ini. Nama boleh sama atau serupa. Namun, lihat saja kelak mana yang akan lebih kuat dan istiqomah!
Pelan-pelan, Jurasik pun bergulir. Meski awalnya diungkapkan oleh salah seorang pegiat di balik layarnya, bahwasanya Jurasik perdana sepenuhnya bantingan dari beberapa pegiat. Apa yang dipunyai dan bisa digunakan dibawa ke BKR untuk penyelenggaraan Jurasik. Akhirnya pun, seiring bergeraknya waktu, niatan bantingan tersebut disambut baik oleh hadirin. Hingga akhirnya, dipasanglah kotak tissu yang dibubuhi tulisan koin kreatif. Setiap kali acara berlangsung, kotak tersebut menelurkan uang rata-rata mencapai seratus ribuan. Selepas acara, seperti di masjid-masjid, uang di kotak koin kreatif tersebut dihitung, dikabarkan kepada khalayak yang hadir. Bahkan tidak jarang disampaikan pula, bahwa selain dipakai untuk membeli kopi, teh, atau gula, uang yang terkumpulkan tersebut juga digunakan untuk membeli alat serta perlengkapan penunjang Jurasik. Misalnya mikropon, kabel, dan kebutuhan kecil lainnya. Selain bantingan, dalam Jurasik diberlakukan pula sistem patungan dan hibah. Misalnya tiap kali Jurasik terselenggara, di antara hadirin diperkenankan membawa apa saja, termasuk alat musik, gitar, sound, stand mikropon, dan lainnya. Bahkan jajanan sebagai teman penikmat kopi pun kerap dibawa sebagai upaya pemenuhan patungan tersebut. Kemudian beberapa kali dilakukan hibah alat dari para pegiat ataupun simpatisan yang hadir. Sempat ada yang menghibahkan sound, bass, keyboard, dan lainnya. Sungguh!
Segala hal tersebut setidaknya mampu menjadi sebuah jawaban tersendiri. Bahwasanya menyelenggarakan aktivitas kreatif itu tak perlu menunggu guyuran anggaran besar, atau melulu menunggu founding yang menggelontorkan berjuta-juta uang. Segala upaya tersebut menjadi contoh nyata, bahwa penyelenggaraan Jurasik merupakan sebuah gelaran forum yang diniatkan untuk disengkuyung bersama. Dengan besar harapan, agar siapa saja punya rasa saling memiliki terhadap suatu acara. Sesungguhnya sama sekali tidak ada istilah siapa panitianya dan siapa pengunjungnya. Sebab, selepas acara usai pun siapa saja diajak untuk saling membantu dan berkemas di area kegiatan. Misalnya pada aktivitas sederhana serupa melipat karpet dan membersihkan area tempat yang digunakan untuk kegiatan. Dalam Jurasik pun tidak ada tradisi melayani tamu, membuat kopi ya mereka mengaduk sendiri. Prasmanan, mengambil sendiri, menakar gula dan kopi, menyeduh, dan menyeruput sendiri sambil sepenuhnya menikmati keberlangsungan suguhan jalannya acara.
Dalam gelaran Jurasik ini pun, setiap usai acara ditawarkan kepada segenap hadirin, siapa saja yang hendak terlibat lebih jauh (di balik layar). Disilakan selebar-lebarnya, seluas-luasnya! Sungguh! Agar dalam pelaksanaan tiap minggunya dapat lebih tertata dan tergarap dengan baik. Akhirnya pun pelan-pelan didapati di antara hadirin yang rela mengorbankan dan menyesatkan dirinya ke jalan yang benar untuk bersama-sama menyengkuyung persiapan sebelum acara, saat acara berlangsung, dan selepas acara usai. Mereka berproses bagaimana mengonsep acara, menyiapkan sebuah acara, mengelola para pengisi atau narasumber diskusi, mendesain poster, menulis reportase, mendokumentasikan gambar, mengundang wartawan, mengirim pers release ke media massa, hingga mengunggah poster, foto, dan reportase di media sosial serta di blog. Segala itu diupayakan untuk dikerjakan bergantian, agar setidaknya semua pegiat di balik layar dapat saling belajar dan merasakan tugas kerja yang berlainan. Niatannya ya agar sama-sama belajar, agar selalu siap untuk mengerjakan apa saja, dan tentu tidak saling njagakke. Semua memiliki tanggung jawab yang sama untuk saling mengingatkan, saling mengelola, menjaga, dan tentu pula terkait rasa saling memiliki.
Para pegiat di balik layar pun sempat dihujani kritik dan saran. Banyak hal, namun tetap dipertimbangkan matang. Mana yang bisa diambil, mana yang tidak. Misalnya, terkait penyelenggaraan Jurasik yang dikerjakan bulanan saja, jika mingguan terlalu mepet. Dikarenakan kok sepertinya yang datang hanya itu-itu saja, tidak begitu menggoda lebih banyak audiens dan lebih menggaet beragam hadirin yang sudi untuk menikmati Jurasik. Dan pada akhirnya, di antara pegiat di balik layar pun melontarkan jawaban selepas masukan tersebut ditampung. Bahwasanya hal serupa itu merupakan saran bagus. Namun niatan awal penyelenggaraan Jurasik bukan semata-mata dengan dalih untuk menarik massa yang besar. Bukan pula bersusah payah untuk harus menghadirkan orang-orang baru setiap kali penyelenggaraannya. Atau selalu dipenuhi dengan sorak-sorai di antara hadirin. BKR padat dan penuh hingga banyak di antara hadirin berebut tempat duduk yang hanya lesehan itu, hingga ada yang nangkring di pagar, memanjat di pohon-pohon atau naik di atas atap karena saking tidak muatnya area kegiatan.
Tidak semata itu. Jurasik hendak dihadirkan sederhana saja. Jurasik hendak mengejar substansi, bukan selebrasi semata. Silakan, biar pun yang hadir itu-itu saja atau bahkan jika suatu saat hadirin hanya bisa dihitung jari, tak masalah, tak jadi soal. Jurasik ingin memikat para hadirin yang benar-benar ingin belajar bersama, benar-benar hadirin yang sepenuhnya menghargai sebuah forum. Jurasik bukan untuk hadirin ceng-ceng-po atau yang hanya ingin tebar pesona saja. Silakan, Jurasik terbuka lebar untuk siapa saja. Jurasik berupaya menjadi ruang untuk belajar kelompok. Siapa saja memungkinkan akan bisa dihadirkan, dari kalangan mana pun. Asalkan niatannya ingin belajar bersama, ingin berbagi, bukan untuk menunggangi!
Silakan, bagi siapa yang suka sama suka dan tidak ada upaya untuk memaksa. Jika suatu acara sudah mengejar seberapa massa yang hendak diraih, ya sudah, bisa dicap acara itu pasti ada niatan lain, ada motif lain, ada niatan politisnya. Pasti! Jurasik ya biar mengalir saja. Jurasik tidak perlu mengemis mengharap uluran tangan agar setiap kali acara suasana tempat menjadi gemebyar, alas duduknya empuk, soundnya sanggup menggetarkan relung dada. Tidak, Jurasik ingin bergulir seadanya dan semampu yang dimiliki oleh teman-teman yang hendak terlibat dan bersedia datang merayakan gelaran tersebut setiap Jumat. Jika ada siapa pun yang hendak mengisi kotak koin kreatif ya silakan isi saja. Sempat didapati uang ratusan ribu, itu pasti dari hamba Allah yang ikhlas menyumbang. Tidak ada motif apa-apa tentunya. Dikarenakan tidak ada catatan siapa yang memberi sumbangan, tidak disiarkan di depan, apa lagi yang dijanjikan secara lantang di hadapan hadirin. Bahwa nanti saya akan membantu ini, membantu itu. Tidak. Silakan memang, para pegiat di balik layar Jurasik menerima bagi siapa saja, baik personal, komunal, individu atau kelompok yang terketuk hatinya untuk turut serta membantu untuk menyehatkan penyelenggaraan Jurasik. Namun perlu diingat, Jurasik tidak bisa membalas apa-apa. Jurasik tak bisa memberikan panggung untuk mendongkrak massa. Tidak bisa. Jika siapa pun yang berbuat sesuatu untuk Jurasik, ya sudah biar Tuhan saja yang membalas. Dikarenakan, jika suatu forum, atau apa pun bentuknya sudah berpihak pada seseorang atau kelompok tertentu, maka sudah pasti nantinya tidak pernah akan sehat. Akan berakhir sia-sia saja penyelenggaraan sebuah forum yang sesungguhnya diidamkan intens tersebut.
Bahkan terkait konsep acaranya pun kerap selalu dihadirkan dengan secair mungkin. Terkait susunan acara pun tidak jarang dirusak. Misal ada seseorang yang hadir, kok tiba-tiba ingin tampilkan karyanya atau berpentas, silakan! Meski ia tidak tercantum di dalam poster. Meski sebelumnya sama sekali tidak ada janji. Jurasik itu forum bebas! Ya sudah, semakin berjalan penyelenggaraannya, dengan sepenuh akal sehat dan cinta kasih, pelan-pelan kita tentu akan melihat bagaimana niat baik Jurasik. Selepas itu, kita sebagai insan yang kerap mengaku saleh sudah sejak dalam pikiran, sudah tentu harus mendukung sepenuhnya niatan mulia Jurasik tersebut. Biarkan forum mingguan ini berjalan sebagaimana adanya. Biar Jurasik mengalir saja sesuai gerak waktu, perkembangan, dan apa yang dibutuhkan para pegiat, seniman, komunitas, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Misalnya, dalam penyelenggaraan Jurasik pun kerap ditegaskan kepada segenap pengisi. Bahwa Jurasik belum mampu sepenuhnya memenuhi apa yang diinginkan penampil. Sangat jauh dari apa yang diharapkan untuk dapat mengabulkan keinginan pengisi acara, terkait peralatan misalnya. Jadi kerap kali disampaikan kepada pengisi, jika punya silakan dibawa, Jurasik hanya menyiapkan apa saja yang dimiliki dan yang memungkinkan dibawa oleh teman-teman pegiat dan penampilnya sendiri.
Bahkan para pegiat di balik layar Jurasik pun siap menghadapi kemungkinan lain, jika suatu saat ada di antara hadirin atau siapa saja yang merasa bercuriga tentang penyelenggaraan Jurasik, maka dengan senang hati siapa pun itu disilakan untuk turut serta berproses lebih jauh. Turut serta menggarap di balik layar, agar sepenuhnya tahu apa yang terjadi, bagaimana jerih payah yang dilakukan oleh teman-teman pegiat di balik layar. Jika seorang tersebut hanya nyinyir belaka, dan bercuriga saja, tanpa mau diajak untuk terjun lebih jauh, berarti bisa kita anggap ia memendam motif lain. Ya sudah, biarkan saja. Pasti kelak waktu akan memberikan jawaban tersendiri. Tuhan akan menggiringnya ke jagat kesadaran dan penyesalan yang hakiki!
Sempat pula dikabarkan oleh salah seorang pegiat, bahwasanya kenapa Jurasik kok terkesan monoton. Tidak ada letupan-letupan. Kerap terasa begitu membosankan. Rutinitas yang kadang membuat neg, jenuh, dan lain sebagainya tentang motif-motif sekitar itu. Pegiat pun dengan tenang menimpali, Begini, Bung. Bahwasanya segalanya yang dilakukan yang berkesan monoton, dilakukan berulang-ulang, bahkan yang kita kerjakan setiap hari. Bukankah segala itu akan semakin meneguhkan dan menguji seberapa niatan tulus kita dalam menempuh sesuatu Bagi umat Muslim misalnya, mereka salat lima kali sehari. Bagi umat Kristiani misalnya, mereka seminggu sekali ke Gereja! Ibarat kita mengayuh sepeda, itu kan ya sangat monoton. Terus kita kayuh, entah kapan akan sampai tak usah digagas. Namun lebih dengan segala itu, kita pikirkan bukan bentuk (hasil) semata. Namun lebih pada proses menuju, bukan hasil akhir atau keberadaan tujuannya itu!
Tenang saja, pegiat Jurasik yang bersemayam di balik layar telah memikirkan aktivitas lain untuk proses penunjang selanjutnya. Setidaknya menjadi upaya pengepul para pegiat dan pelaku seni budaya untuk membiasakan diri bersinggungan dengan sesama ataupun lintas komunitas. Membiasakan diri untuk bertemu intens dalam laku kreatif, sehingga kelak di suatu waktu akan leluasa jika hendak menggarap sebuah gelaran kolektif yang lebih berskala besar. Sebut saja pada gelaran tahunan, Kendali Seni Kendal 2018 yang kali ini memasuki tahun ketiga. Selain itu, telah disiapkan pula program lain agar para pegiat dan pelaku seni budaya dapat naik kelas. Barang tentu, jika gelaran Jurasik ini sudah benar-benar mengasyikkan, sudah cukup kuat sebagai sebuah pondasi, dan sudah berjalan cukup lama, misal sudah satu tahun. Ya, tentu akan lekas digulirkan program selanjutnya untuk mengimbangi dan menaikkan capaian bagi para pegiat, seniman, dan siapa saja yang terlibat dalam Jurasik. Jika di antara para seniman misalnya, mereka sudah beberapa kali dihadirkan dalam Jurasik. Sudah cukup matang selepas melewati tempaan-tempaan forum. Yang selanjutnya secara sederhana telah dinyatakan lulus dengan nilai memuaskan dari Jurasik, maka lekas akan digiring pada proses selanjutnya. Sudah pasti pada forum yang lebih serius, berbahaya, dan dapat menyebabkan putus asa jika tidak sepenuhnya karya serta laku kreatifnya siap diadili.
Sedikit bocoran, forum tersebut bukan lagi forum asyik-asyik serupa Jurasik. Bukan lagi forum bongkokan yang setiap tampil bersama pegiat lain. Dalam poster nampak riuh nama-nama seniman. Hadirin yang mengapresiasi, mengkritik, dan memberi saran pun masih beragam. Boleh siapa saja. Namun, dalam forum lanjutan tersebut. Bolehlah jika disebut sebagai sebuah pengadilan karya. Jadi di situ, karya benar-benar diadili secara serius. Penuh kemarahan, minim keramahan, tidak ada lagi asyik-asyik. Orang-orang yang hendak mengadili pun sudah ditentukan, dan sepenuhnya harus bertanggung jawab pula atas apa yang dilontarkan dalam apresiasi, kritik, sarannya. Harus ada bukti, data, dan minimal dituliskan. Agar setidaknya, segalanya dapat terdokumentasi dan dapat menjadi bahan untuk laku kreatif selanjutnya. Ada rujukan, pandangan, dan lainnya, jika beberapa waktu yang terlewat telah ditemukan karya dan respon tertentu atas karya tersebut.
Kiranya begitu. Segala ini hanya sebuah ulasan kecil, tak lain sebagai upaya untuk angkat topi ke hadirat program mingguan Jurasik tersebut. Paling tidak, selama ini saya selalu hadir untuk melihat, mengamati, dan berupaya mundur beberapa langkah ke belakang agar lebih leluasa memandang bagaimana keberadaan Jurasik di benak dan hati khalayak. Berbagai sudut pandang pun telah berupaya dibidik sedemikian rupa guna menjejaki capaian-capaian tertentu dalam jagat laku kreatif. Dan, ada sedikit pesan dari para pegiat yang bersemayam di balik layar Jurasik. Bahwasanya Jurasik pada jumat yang bertepatan dengan hari Lebaran tetap terselenggara. Namun peristiwa tersebut hanya digerakkan di benak dan hati kalian masing-masing. Sampai jumpa pada Jurasik #13 pada jumat selanjutnya selepas lebaran. Silakan, jika hendak kangen-kangenan dengan Jurasik saat berlibur, atau bagi yang sepenuhnya ingin tahu bagaimana serta seperti apa forum mingguan Jurasik, Tuan dan Puan bisa mampir di panggungjarakdekat.blogspot.com. Di sana akan disambut berbagai poster dan reportase yang mengisahkan jalannya geliat mingguan Jurasik.
Ohya, ini bukanlah ulasan yang sepenuhnya benar, bukan pula yang mutlak dan harus diyakini begitu saja. Silakan jika ada di antara Tuan dan Puan yang hendak memberi tanggapan, sanggahan atau tambahan. Namun, tetap laku setimpal ya. Jika tulisan, ya balaslah dengan tulisan. Jika respon atas laku kreatif yang kita anggap baik, ya maka balaslah dengan baik. Jangan malah segala yang diawali sepenuh jerih payah, ketulusan, dan sepenuh kecintaan Jurasik terhadap gerak seni budaya di kota Bahurekso ini hanya dibalas dengan nyinyiran atau sebatas sinis tak bertuan belaka. Selamat berlebaran! Mohon maaf lahir batin.

Setia Naka Andrian, Pengajar di Fakultas Pendidikan dan Seni Universitas PGRI Semarang. Pencatat gerak seni dan budaya Kendal. Seseorang yang memiliki hobi umbah-umbah dan memasak ini sangat takut dengan gelap, pengagum tanggal merah, dan pecandu offroad. Kini ia sepenuhnya bermukim di setianakaandrian.blogspot.co.id. Dapat disapa dengan mengirim pesan singkat atau pulsa di nomor (telepon/sms/wa) 085641010277.

Jumat, 08 Juni 2018

Jurasik #12 (Bincang Oleh-Oleh Temu Penyair Asia Tenggara 2018)



Jurasik #12

Bincang Oleh-oleh Temu Penyair Asia Tenggara

Malam yang penuh kesenian. Mungkin kata-kata itulah yang cocok untuk menggambarkan suasana di Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal malam ini, Jumat 8 Juni 2018.

Jurasik #12 ini diawali dengan perform musik dari band akustik Paradoks berkolaborasi dengan Gamelan Tempa. Menyanyikan lagu Sugih Tanpa Bandha karangan Sujiwo Tejo, penampilan Paradoks dan Gamelan Tempa seakan menegaskan suasana kesenian dalam gedung BKR Kendal malam ini. Setelah itu, beberapa peserta juga ikut berpartisipasi dengan membacakan puisi. Seperti biasa, panggung Jurasik tidak hanya dikhususkan untuk narasumber, namun juga membuka kesempatan bagi seluruh penonton yang hadir untuk menampilkan karyanya. Malam ini juga begitu spesial karena Jurasik kedatangan tamu dari Kedubes RI, beliau adalah Hesan yang juga membawakan sebuah puisi berjudul Diplomasi Kopi di Jurasik ini.

Setelah penampilan band akustik dan puisi selesai, dilanjut acara inti yaitu diskusi Bincang oleh-oleh Temu Penyair Asia Tenggara dengan Setia Naka Andiran sebagai narasumber. Naka, panggilan akrabnya, telah banyak menorehkan karya-karyanya dalam hal literasi khususnya puisi. Selain rajin menciptakan puisi, beliau juga seorang penulis buku. Sebut saja buku yang berhasil mendapatkan penghargaan Acarya Sastra 2017 dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Kemendikbud RI yaitu buku yang berjudul Remang-Remang Kontemplasi.

Baru-baru ini, Naka menjadi salah satu peserta Temu Penyair Asia Tenggara di Padang Panjang. Acara tersebut diikuti oleh berbagai negara yang ada di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Brunei, Singapore, dll. Seperti tak mau ilmu dan pengalamannya bertemu dengan penyair Asia Tenggara berhenti di dirinya saja, Naka coba membagikan oleh-oleh ilmunya di Jurasik ini, sekaligus menjadi narasumber. Dalam diskusi, Naka menceritakan pengalamannya selama mengikuti acara Temu Penyair Asia Tenggara tersebut. Ini adalah acara dimana penyair yang ada di Asia Tenggara dipertemukan. Acara ini berlangsung di Padang Panjang bulan Mei 2018 lalu. Untuk bisa ikut serta dalam acara ini peserta harus mengirimkan sebuah puisi tentang kota tersebut yang kemudian di seleksi.

Selain membagikan ilmu dan pengalamannya, Naka juga turut memotivasi para peserta Jurasik untuk terus berkarya. Marilah terus berkarya, apalagi yang akan kita tinggalkan kepada anak cucu kita selain karya-karya kita Kita bisa mati, namun karya yang telah kita buat akan terus hidup. Kata pemuda yang juga salah satu penggiat seni di Kabupaten Kendal ini.

Setelah berbincang dengan Setia Naka Andrian, acara dilanjutkan dengan penampilan band akustik Bella Laluby dan juga Namex Irfan. Acara jurasik akan terus diselenggarakan setiap hari jumat di Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal.*** (JRS/CDR)

Jurasik #11 (Layar Tancap dari RKFK dan Patungan Film)



Jurasik #11

Layar Tancap dari RKFK dan Patungan Film

Jumat 1 Juni 2018, Balai Kesenian Remaja Kendal kembali menggelar acara Jurasik (Jumat Sore Asik). Bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila dan Bulan Suci Ramadhan, nyatanya tidak menyurutkan semangat para warga Kendal khususnya para pemuda untuk melestarikan kesenian yang ada di kota ini. Malah, frekuensi peserta yang hadir di Jurasik kali ini lebih banyak dari biasanya. "Alhamdulillah meskipun bulan puasa, semangat dan antusias dari temen-temen untuk acara Jurasik ini tetap luar biasa. Semoga acara ini semakin menambah keberkahan di bulan yang suci ini" kata Tanjung selaku koordinator acara Jurasik.

Jurasik edisi ke-11 ini menghadirkan komunitas yang cukup terkenal di Kendal, yaitu Rumah Kreatif Film Kendal (RKFK) dan juga menampilkan sebuah hiburan akustik dari BKR n' Friends. RKFK terkenal di Kabupaten Kendal karena karya-karyanya di dunia perfilman. Sebut saja film yang pernah menggegerkan khalayak pemuda Kendal dengan rilisnya film Reksa yang pernah diputar di Pendopo Kabupaten Kendal beberapa waktu lalu.

Usai sukses menggarap film yang sempat booming di Kendal tersebut, RKFK kembali meneruskan karya-karyanya. Di Jurasik ini, selain untuk menjadi narasumber diskusi, RKFK juga memutarkan film pendek terbarunya yang berjudul Kisah Cinta Malam Ini, Manuk, dan Jalan Menuju Pulang.

Pemutaran film yang pertama yaitu film Kisah Cinta Malam ini yang menceritakan 2 sejoli yang menjalin sebuah hubungan asmara. "Kisah Cinta Malam Ini bercerita tentang 2 orang yang saling mencintai. Namun hubungan percintaan itu mulai berantakan ketika si cowok mengetahui bahwa pacarnya sekarang menjadi Pekerja Seks Komersial (PSK) dan terjangkit virus HIV" terang sang sutradara, Khairul Mustofa. "Alhamdulillah film pendek ini sudah beberapa diputar diberbagai kota, harapanya di Kendal film ini akan mendapatkan apresiasi yang baik dari masyarakat" imbuhnya.

Kisah Cinta Malam Ini selesai diputar, belanjut pada film pendek kedua yang berjudul Manuk. Manuk menceritakan suatu kondisi dimana konotasi kata "manuk" yang berbeda antara anak-anak dan orang dewasa. "Awal mula saya terpikir ingin membuat film pendek berjudul Manuk ini terinspirasi ketika saya ngopi sambil ngobrol bersama teman-teman saya. Memang kata Manuk itu kalau di Jawa mempunyai konotasi kata yang berbeda. Makanya saya tertarik untuk menggarap film ini" kata Bagus Pradita, produser Film Manuk.

Setelah film Manuk selesai diputar, berlanjut ke film terakhir yang berjudul Jalan Menuju Pulang. Film ini digarap terinspirasi dari mitos masyarakat sekitar Kangkung bahwa orang yang melewati sebuah makam yang berada di Desa Kemangi Kecamatan Kangkung terkadang susah untuk menemui jalan pulang. "Cerita soal orang yang tidak bisa menemukan jalan pulang bahkan hilang saat melewati makam Kemangi, mungkin sudah tak asing lagi ditelinga masyarakat Kendal. Kejadian tersebut dipercaya masyarakat bahwa ada pengaruh makhluk dari dunia lain. Makanya saya terinspirasi untuk menggarap ini. Mungkin ini adalah film yang Kendal banget lah". Kata sutradara film, Khairul Mustofa.

Saat diskusi, RKFK Kendal menjelaskan bahwa kurangnya apresiasi terhadap perfilman karya anak bangsa menjadi suatu kendala mereka untuk berkarya. Namun meskipun begitu, mereka tetap terus mempromosikan filmnya dan mengedukasi masyarakat agar lebih bisa mengapresiasi sebuah film. Cara yang mereka lakukan antara lain parade pemutaran film keliling dari desa ke desa dan juga pemutaran film beserta workshop film di sekolah-sekolah yang ada di Kendal.

Setelah ketiga film tersebut diputar dan diskusi selesai, acara Jurasik #11 dilanjutkan dengan perform musik oleh BKR n' Friends. Perform musik ini untuk meleburkan suasana seusai diskusi berlangsung. Rumah Kreatif Film Kendal berharap karya demi karya didunia perfilman akan terus mereka buat dan masyarakat agar lebih bisa mengapresiasi film.*** (JRS/CDR)

Jurasik #10 (Wayang Gaga dan Gamelan Tempa di Jurasik #10)



Jurasik #10

Wayang Gaga dan Gamelan Tempa di Jurasik #10

Kali kesepuluh, JURASIK (Jumat Sore Asik) menghampiri mata khalayak. Pada 25 Mei 2018, di bulan suci Ramadan ini, tidak menjadi halangan bagi para pegiat seni dan budaya Kendal untuk menyengkuyung gelatan mingguan yang diberi nama Jurasik ini. Sejak sore hari, para pegiat telah berupaya semaksimal mungkin untuk menyiapkan penyelenggaraan acara yang hendak digulirkan malam harinya. Bahkan, didapati beberapa pegiat rela ngabuburit dan sekaligus berbuka puasa di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal, tempat yang digunakan sebagai ruang penyelenggaraan gelaran seni budaya yang tak sebatas selebrasi semata itu.

Selepas waktu salat tarawih, gedung kecil mungil serupa gedung Taman Kanak-Kanak yang dikenal sebagai gedung BKR yang berada di belakang GOR Bahurekso tersebut, halamannya tersulap menjadi sebuah panggung yang lain dari biasanya. Kini didapati batang pohon pisang yang dibaringkan, serta didapati kain hitam yang dibentangkan berdiri sekitar satu meter. Kita pun lekas bisa menebak, jika panggung tersebut adalah panggung wayang. Dikarenakan, ada beberapa wayang di sekitar area. Serta terdapat batang pohon pisang, yang sudah pasti akan digunakan oleh seorang dalang untuk menancapkan wayang-wayangnya.

Meskipun, kita tidak akan pernah dihadapkan pada sebuah pertunjukan wayang pakem dalam pertunjukan tersebut. Kali ini, hadir suguhan wayang kontemporer, yakni Gaga dari Mijen Semarang. Sebuah kelompok wayang kontemporer yang memanfaatkan bahan-bahan dari kebun (gaga) untuk menciptakan wayang-wayangnya.

Dalam produksinya, Wayang Gaga memanfaatkan alang-alang dari kebun di sekitar tempat tinggal para pegiatnya. Alang-alang yang digunakan sepenuhnya sebagai bahan penciptaan wayang-wayangnya.

Ada sedikit yang beda dengan pertunjukan wayang pada umumnya. Jika biasanya didapati beragam wayang dan dimainkan oleh seorang dalang, namun kali ini setiap dalang bertugas memainkan satu wayang yang dipegangnya.

Para pegiat Wayang Gaga yang pentas pada malam itu, di antaranya, Pambuko Septiardri (Patih Pambuko, Gandos Percil), Teguh Ramadani (Bayan, Wayang Mbah Tarjo), Surya Cahyono (Kampret, Pliyuk), Rahmat Kurniawan (Kantong Bolong, Prabu Tanjung, Patih Sucelo), dan Jeny Dwi Pangestu (Ilustrasi, Kentrung).

Kami memainkan wayang dengan kisah-kisah keseharian. Tentu sangat terkait dengan banyak hal yang kita amati, kita lihat, atau bahkan yang begitu dekat dan kita alami sendiri. Sangat sering kami mengilhami kisah-kisah yang kita tangkap dari apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tutur Ki Pambuko.

Bagi Ki Pambuko, hingga pertunjukan yang berlangsung malam itu, mereka telah melewati banyak proses. Segalanya dijadikan sebagai sebuah pertimbangan tersendiri guna mengejar pencapaian makna dan estetika tertentu dalam pertunjukannya. Maka tidak heran, jika barangkali mereka telah melewati berbagai penemuan, baik konsep maupun bentuk yang disuguhkan dalam setiap perrunjukannya.

Pada pertunjukan kali ini, yang kami hadirkan di acara Jurasik ini, kami sebenarnya tidak menjalani latihan khusus. Karena permainan kami cukup merespon apa yang ada di tempat yang kami kunjungi. Misalnya di antara para pegiat seni budaya dan masyarakat di Kendal ini. Kami upayakan untuk berbincang terlebih dahulu dengan para pegiat. Apa yang terjadi, bagaimana keadaan di sini, lalu juga terkait hal lain yang bisa memperkuat pondasi kisah yang hendak kami tampilkan, tutur Teguh Ramadani, atau yang biasa akrab disapa Pakdhe.

Terbukti, pertunjukan yang disajikan Wayang Gaga begitu interaktif, dan seolah telah mampu memahami kondisi dan banyak hal yang sekiranya dialami oleh para penonton di Kendal. Para penonton telah turut serta merespon, menanggapi, dan nyletuk jika didapati bagian yang berhubungan langsung dengan keseharian mereka atau yang dikira begitu dengan dengan kondisi yang sedang dialami saat-saat ini.

Intinya, dan pada dasarnya, pertunjukan yang kami hadirkan adalah pertunjukan santai. Yang biasa juga kami suguhkan di hadapan anak-anak. Tentu sedemikian rupa harus kami hadirkan dengan cair, penuh dengan bumbu-bumbu lelucon pula, imbuh Ki Pambuko.

Selain pertunjukan Wayang Gaga tersebut, dalan gelaran Jurasik #10 ini dihadirkan pula sebuah kelompok musik yang bisa dibilang sangat baru. Dikarenakan baru saja terbentuk. Bahkan group ini dilahirkan atas pertemuan beberapa pegiat yang kerap ngopi dan berbincang di BKR. Group tersebut bernama Gamelan Tempa. Merupakan sebuah nama atas akronim dari Majelis Maiyah Tembang Pepadhang (Tempa), sebuah group musik yang dipadukan antara alat musik modern dengan alat musik tradisional.

Pada kesempatan tersebut, Gamelan Tempa menyuguhkan beberapa lagu yang bisa dianggap aangat cocok dengan suasana Ramadan. Yakni lagu-lagu yang berkesan menenteramkan jiwa khalayak yang hadir. Lagu-lagu tersebut di antaranya, Ya Asyiqol Mustofa, Sholatum Bissalabil Mubien, Yang Patah Tumbuh (Banda Neira), Risalah Hati (Dewa), Sebelum Cahaya (Letto), Sugih Tanpa Banda (Sujiwo Tejo).*** (JRS/SNA)

Jurasik #9 (Lesbumi Kendal Obrolkan Ramadan di Kampung Halaman)



Jurasik #9

Lesbumi Kendal Obrolkan Ramadan di Kampung Halaman

Ramadan di Kampung Halaman menjadi tema obrolan dari Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kendal, pada Jumat, 18 Mei 2018 di gelaran Jurasik (Jumat Sore Asik), yang bertempat di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Obrolan kali ini merupakan forum diskusi kedua yang diselenggarakan Lesbumi Kendal. Selepas sebelumnya menghadirkan tema Orang Kalang di Kendal.

"Obrolan ini adalah salah satu program kegiatan kami, yakni Lesbumi ingin senantiasa menyelenggarakan diskusi-diskusi terkait kesenian dan kebudayaan, khususnya yang berkembang di Kendal. Namun kali ini agak berbeda, obrolan yang kami selenggarakan merupakan langkah awal menuju penerbitan sebuah buku kumpulan esai dari teman-teman pegiat seni budaya di Kendal. Obrolan ini kami ajukan sebagai pemantik, nah selepas ini kami akan menghimpun tulisan-tulisan dari siapa saja, atau khususnya bagi yang hadir malam ini untuk turut serta menulis esai tentang tema Ramadan di Kampung Halaman," ungkap Muslichin HN, Ketua Lesbumi Kendal, malam itu.

Bagi Muslichin, tulisan yang terhimpun tersebut nantinya akan dibukukan, dan rencananya akan diluncurkan pada saat momen Syawalan. "Agar kelak pada saat acara Halal Bihalal misalnya, kami tidak sekadar menyelenggarakan ritual salaman dan bermaaf-maafan semata. Namun ada salam tempel, dengan memberikan buku karya teman-teman pegiat seni budaya Kendal, yang mengisahkan banyak hal perihal tema-tema yang masih sangat begitu dekat dengan kampung halamannya masing-masing," tutur Musluchin, yang juga merupakan seorang guru Sejarah di SMA N 2 Kendal.

Pada kesempatan obrolan tersebut, dibagikanlah sebuah selebaran tulisan pemantik tentang tema Ramadan di Kampung Halaman. Tulisan tersebut ditulis oleh Muslichin HN dan Setia Naka Andrian. Kedua tulisan tersebut sebagai upaya dari para pegiat Lesbumi Kendal, bahwasanya tulisan-tulisan yang hendak dihimpun dan selanjutnya akan dibukukan tersebut adalah tulisan yang sederhana. Masih sangat begitu dekat dengan segala hal yang kerap dialami oleh para hadirin obrolan yang memadati gelaran Jurasik di gedung BKR yang tua dan kecil itu.

"Ini merupakan upaya sederhana bagi kami untuk, setidaknya memberikan warisan bagi generasi selepas kami. Paling tidak akan didapati narasi-narasi yang meriwayatkan kearifan kampung halaman di Kabupaten Kendal ini. Kami pun tidak muluk-muluk harus menjangkau semua lapiran masyarakat dan semua wilayah di Kendal ini. Kalau bersikeras begitu, maka ya akhirnya program penghimpunan tulisan tentang Ramadan di Kampung Halaman ini tidak akan pernah usai. Maka ya, yang terkumpul, entah berapa pun yang turut menulis, nanti akan tetap kami bukukan. Jadi kelak akan menjadi sebuah pembukukan berseri dari Lesbumi Kendal ini," ungkap Setia Naka Andrian, penyair dan juga seorang pengajar di Universitas PGRI Semarang.

Bagi Naka, tema tentang kampung halaman tentulah akan bersinggungan dengan bagaimana sebuah kampung di sebuah desa yang begitu lekat dengan keramahan, kesederhanaan, kepedulian, sikap saling berbagi dan memberi, saling menjaga, dan banyak hal lain sebagai laku adiluhung yang dijalankan oleh segenap warga masyarakat. Kampung halaman juga tak dapat lepas dari segala hal terkait kampung yang digunakan oleh para perantau untuk berpulang, untuk kembali, untuk mengenang banyak hal perihal peristiwa kebudayaan, sosial, politik dan apa saja yang tersimpan erat di sebuah kampung. Tentu, dalam obrolan yang berlangsung, juga kerap bergulir kegelisahan dan ketakutan-ketakutan jika saat zaman semakin semakin bergerak, maka segala yang dimiliki kampung halaman kerap kali kian semakin hilang, luntur, dan bahkan tanpa menyisakan bekas apa pun.

"Barangkali ada yang bakal kita takutkan, kelak suatu saat, ketika kita sudah tiada lagi membedakan mana kampung halaman dan mana kota perantauan. Jika segalanya telah berubah. Tak ada bedanya antara kampung kita berpulang dengan kota perantauan kita. Tiada kenangan dan tiada peristiwa yang dapar menyeret kita untuk berpulang. Tiada bedanya laku manusia, pola hidupnya, bahkan segala aktivitas kesehariannya. Misalnya pada saat Ramadan semacam ini, kita semakin sulit membedakan dengan bulan-bulan lainnya, sama saja dengan bulan-bulan sebelumnya. Atau bahkan sama saja dengan Ramadan yang ada di daerah lain, atau sama saja dengan Ramadan di kota-kota," ungkap Akhmad Sofyan Hadi, direktur artistik Jarak Dekat Kendal.

Obrolan yang diselenggarakan oleh Lesbumi Kendal dan didukung sepenuhnya oleh gelaran mingguan Jurasik ini berlangsung begitu hangat. Bulan puasa tidak menyurutkan masyarakat untuk melewatkan acara ini. Meski tidak seperti biasanya, acara dimulai selepas salat tarawih, dan usai hingga tengah malam, bahkan obrolan yang bergulir selepas acara resmi ditutup telah berlangsung hingga dini hari, hingga hampir menjelang waktu santap sahur.

"Jurasik akan berupaya untuk selalu hadir, atau terselenggara setiap hari Jumat. Apa pun Jumatnya, Jurasik akan selalu berupaya untuk menyuguhkan konten-konten acara yang diisi oleh pegiat atau komunitas yang berbeda-beda. Misalnya malam ini, selain suguhan obrolan dari Lesbumi Kendal, juga ada penampilan tari kontemporer dari Pekerja Seni Tari (PST) Netra, yang begitu kuatnya menampilkan tari-tari kontemporer. Ada upaya pula dari Jurasik, untuk membuat forum ini sebagai ajang bertemu dan berkenalan. Misalnya saja group tari yang pentas kali ini, masih dibilang group tari yang masih berusia belia. Baru saja terbentuk, mereka yang berkesempatan pentas tari malam ini, di antaranya Citra Heidy Ratnasari sma Intan Prisdiyana, Etika Tiara Rizqi Azizah. Selain penampilan tari kontemporer tersebut, didapati pula penampilan olah tubuh dari kelompok pencak silat Pagarnusa serta penampilan musik akustik dari BKR And Friends," pungkas Tanjung Alim Sucahya, salah seorang pegiat Jurasik.*** (JRS/SNA)

Jurasik #8 (Lapak Baca Rak Niat dan Musik Mencekam)



Jurasik #8

Lapak Baca Rak Niat dan Musik Mencekam

Perpaduan instrumen musik tradisi dan musik eksperimental menjadi sajian menarik dalam acara Jumat Sore Asik (Jurasik #8) Kendal. Sajian yang dibawakan oleh Andy Sueb bersama Aristya Kusuma Verdana tersebut membuat segenap penonton terdiam menyaksikan mereka.
Sueb, yang memainkan instrument Horror Box memberikan suasana di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal sedikit mencekam. Sementara teks-teks mantra yang dilontarkan oleh Aristya Kusuma Verdana tak kalah membawa penonton pada sebuah pertunjukkan yang meledak-ledak.

Andy Sueb, usai pertunjukkan mengatakan kalau dirinya menyajikan pertunjukkan musik eksperimental. Bagi dia, sajian tersebut menarik untuk dibawakan. Dia ingin supaya komposisi yang dibawakan adalah eksplorasi bunyi.

Semua yang tersusun dalam komposisi terbuat dari suara, bunyi. Ada susunan dalam semesta ini yang menarik. Mereka bermain musik, dan kami mengikutinya,” kata dia, Jumat (105).

Sementara itu, Tanjung Alim Sucahya, mengungkapkan, Jurasik merupakan sebuah program yang menawarkan ruang apresiasi mingguan bagi pegiat, pelaku, pecinta, dan komunitas seni di kota Kendal. Kegiatan itu, lanjut dia, diramaikan dengan penampilan beberapa seniman dari berbagai komunitas dalam satu panggung pertunjukan.

Selanjutnya program ini akan digulirkan tidak hanya yang bernuansa panggung pertunjukan semata. Mamun ada kalanya aktivias lain serupa diskusi, yang dapat menunjang gerak proses kreatif bagi pegiat, pelaku, pecinta, dan komunitas seni,” tutur dia.

Tanjung menambahkan kalau dirinya ingin agar Jurasik dapat mewadahi ekspresi anak muda di Kendal. Dengan demikian, lanjut dia, anak muda di Kendal mau berupaya menciptakan iklim berproses lintas komunitas.*** (JRS/OPG)