Jumat, 14 Desember 2018

Ngaji Ngopi Hepi Ajak Warga Singorojo Ngaji Budaya



Majlis Taklim Ngaji Ngopi Hepi (NNH) bergeser menyambangi daerah Kendal atas kemarin (13/12) tepatnya di Desa Singorojo Kecamatan Singorojo Kendal. Warga Singorojo malam itu tumpah ruah di Aula Balai Desa. Jamaah tak hanya yang sarungan dan berpeci, namun jamaah berambut gimbal dan bertato pun turut serta khidmat melebur bersama Gus Basyarrahman.

Gus Basyar mengawali cerita mengenai tajuk Ngaji Budaya. Begitu banyaknya budaya yang ada di Indonesia hingga tak dapat dihitung jari. Budaya-budaya asing pun dengan mudah diterima. Orang Indonesia yang cenderung lebih terbuka, khususnya orang Jawa. Gus Basyarrahman menuturkan bahwa Agama dan budaya merupakan hal yang saling berkaitan dan berkesinambungan. "Dua sisi yang tidak bisa dibelah adalah agama dan budaya, jika keduanya terpisah maka akan bertemu pada satu titik yaitu norma." terang Gus Basyar, panggilan akrabnya.

Melalui budaya sangat tepat untuk media dakwah. Beberapa Wali (Walisongo) bersyiar menggunakan budaya. Gus Basyar menegaskan kembali bahwa pendahulu orang jawa sangat mencintai budaya lokal. "Para Wali memasukkan budaya baru tidak menggerus budaya lokal, beliau-beliau malah mencintai budaya asli masyarakat seperti syiar yang dilakukan oleh Sunan Ampel, Sunan Kalijaga dan Sunan lainnya".

Sunan Kalijaga menggunakan metode dakwah wayang yang notabene masyarakat Jawa sangat mengaguminya. Melalui budaya lokal, beliau dengan cepat dicintai oleh masyarakat. Namun jika hal tersebut terjadi pada masa sekarang ini mungkin saja apa yang dilakukan Sunan Kalijaga dengan mudahnya akan disebut Bid'ah. Pemahaman-pemahaman seperti ini lah yang kiranya akan sedikit diluruskan melalui Ngaji Budaya ini.



Ketika Gus Basyar bertemu ahli sanad hadits-hadits Musalsal dari Sudan, beliau bertanya, "Syaikh Awad, apakah maulidan seperti ini merupakan Bid'ah?" Kebetulan hari senin kemarin Pondok Pesantren yang diasuh beliau disambangi Syaikh Awad Kareem Al-Aqli As-Sudani, ulama dari Sudan. Disambut dengan lantunan-lantunan sholawat dari Majlis Sholawat Ahlus-Sunnah Wal Jamaah Al-Muqorrobin Kendal, Syaikh Awad menjawab "Ini Bid'ah khasanah (Bid'ah yang baik)" sambil ikut melambai-lambaikan tangan bersama Al-Muqorrobin sebagai tanda beliau sangat menyukai hal ini. Tak lupa Syaikh Awad pun memasukkan budayanya dengan berjabat tangan saling merekatkan jari-jemari ala Sudan.

Deretan acara yang begitu santai namun khidmat. Tiap penjelasan Gus Basyar dapat bersinergi dengan tepat kepada masyarakat. Sisipan lagu "Sholawat Ayo Sholawat" dengan alat musik rebana semakin meriuhkan suasana. Ditambah  pertunjukan musik akustik dari dua pemuda bertato dan gimbal yang menggetarkan hati para jamaah. Bagaimana tidak, dua personel Daun Bambu band ini menyanyikan lagu Tombo Ati dengan begitu khusyuk. Ibarat mereka berdua memang sedang tabarruk (mengharapkan berkah Allah SWT) melalui sang kiai. Mencari jalan yang lebih terang daripada sebelumnya.



"Mungkin Bapak-bapak disini bingung kenapa tampilan kami seperti ini (gimbal dan bertato). Kami sudah terlanjur seperti ini namun kami masih percaya karena Tuhan maha baik, maha welas asih sesuai dawuh guru kami, Gus Basyar." Tutur Supri sebelum menyanyikan lagu.

Rencananya kedepan Ngaji Ngopi Hepi juga akan menyambangi daerah-daerah lain yang ada di Kendal ***(BDWN)

Senin, 10 Desember 2018

Launching Gubug Seni, Karang Taruna di Patean Undang Penyair Nusantara





Karang Taruna Tunas Muda 28 di Patean Kendal Jawa Tengah, tepatnya di Desa Mlatiharo meresmikan sanggar kesenian yang mereka namai Gubug Seni Karya Kita, Minggu (9/12).

Dalam peresmiannya, mereka mengundang para penyair nusantara diantaranya Hadi Lempe, Bambang Eka P, Slamet, Hugo, Arintoko Robert, Imam RRI, Wahyu Ranggati, Luqni Maulana dan Venny Zega. Tak hanya Penyair Nusantara, beberapa komunitas dan perguruan tinggi juga turut hadir dalam persemian tersebut, diantaranya Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), Teater Atmosfer, Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Univeritas Tidar (UNTIDAR).

Acara dimulai pada pukul 14.00 wib waktu setempat dengan beberapa penampilan dari Karang Taruna Tunas Muda 28 dan beberapa sekolah yang ada di Patean, salah satunya SMK N 7 Kendal. Setelah itu dilanjut oleh beberapa penampilan dari Penyair Nusantara dan komunitas yang hadir dalam acara tersebut.

Launching Gubug Seni Karya Kita ini sebagai ikhtiar dari pegiat seni yang ada di Patean Kendal untuk megenerasi pegiat seni yang ada disana. Kebanyakan remaja sekarang yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersamai gawai juga turut melatarbelakangi terbentuknya Gubub Seni tersebut.

“Kami membentuk Gubug Seni ini supaya anak-anak disini punya kreativitas. Karena sekarang kan banyak remaja yang lebih seneng main hp daripada berproses kreatif” kata Dhiyah Endarwati, salah satu pegiat seni di Patean.


Dhiyah yang juga merupakan penyair tersebut berharap dengan adanya Gubug Seni ini laku kesenian yang ada di Patean khususnya di Desa Mlatiharjo akan terus hidup dan menghasilkan karya-karya yang dapat dinikmati oleh semua orang.

“Minta doanya, Mas. Semoga anak-anak disini istiqomah dalam berkesenian di Gubug ini dan karya-karya mereka bisa dinikmati siapapun” tambahnya.

Senada dengan Dhiyah, Hadi Sulistyono, yang juga merupakan salah satu pencetus Gubug Seni menyadari bahwa masih kurangnya ruang-ruang berkesenian yang ada di Patean ini.

“Kesenian saat ini digandrungi remaja. Namun yang menjadi persoalan adalah kurangnya ruang berkenian yang dapat menampung kreativitas mereka dan sulitnya menemukan ruang dengan pembinaan secara benar. Maka dari itu lewat Gubub Seni Karya Kita ini semoga mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut” kata Hadi Lempe, panggilan akrabnya.


Pria yang merupakan seorang Jurnalis tersebut menjelaskan bahwa Gubug Seni Karya Kita ini nantinya tidak hanya di fokuskan kepada Karang Taruna Tunas Muda 28 saja, namun juga masyarakat umum.

“Gubug Seni ini tidak hanya Karang Taruna saja yang boleh ikut. Namun kami juga akan mengajak anak-anak sekolah dari TK sampai SMA, dan juga Mahasiswa. Bahkan nanti masyarakat umum seperti petani yang ada disini boleh untuk bergabung disini” tambahnya.

Keberadaan Gubug Seni Karya Kita ini mungkin akan menjadi stimulus bagi para pegiat seni yang ada di Patean dan sekitarnya. Meskipun Patean merupakan daerah atas Kabupaten Kendal yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung, namun para pegiat seni dan para remaja yang ada disini tetap semangat untuk terus berkontribusi untuk Kendal. ***(CDR)




Selasa, 04 Desember 2018

Buku Antologi Puisi Tuna Asmara, Eksistensi Jomblo di Kendal


Oleh Chadori Ichsan



Berbicara soal jomblo, tentu semua orang mengetahuinya. Entah itu sebagi pelaku, mantan, pemerhati atau yang lainnya. Beberapa orang di Kendal menyebut seorang jomblo dengan sebutan Tuna Asmara, yaitu seseorang yang tidak punya cinta, dalam konteks ini adalah pasangan. Sering kita jumpai pula, seorang Jomblo biasanya agak sedikit dipandang sebelah mata oleh kawannya yang telah mempunyai pasangan. Beberapa justifikasi tentang jomblo seperti kurang tampan, tidak laku, dan yang lain melekat didadanya. Padahal seseorang memutuskan untuk menjadi jomblo bukan hanya karena itu saja. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit pula yang memang menjomblo karenanya.

Ada banyak cara yang kita lakukan untuk menunjukan eksistensi kita. Olahraga, bernyanyi, atau bermain musik misalnya. Namun ada hal berbeda yang dilakukan oleh 23 jomblo asal Kendal. Mereka mengekspresikan dan menasbihkan diri sebagai seorang jomblo dengan berproses kreatif menerbitkan buku antologi puisi yang bertajuk Tuna Asmara. Sontak saja, hal itu membuat kaget para pihak yang selama ini mendiskreditkan seorang jomblo. Serius? Kok bisa seorang jomblo menerbitkan buku?. Namun hal itu nyata adanya.

Perjalanan ke-23 jomblo Kendal menerbitkan buku antologi puisi Tuna Asmara dimulai dari hal yang bisa kita katakan sangat sederhana. Bahkan beberapa orang dan lainnya tak menyangka dari hal sesederhana itu bisa menjadi laku kreatif. Ya, hal itu dimulai saat acara diskusi mingguan Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang digelar di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Suatu ketika, peserta Jurasik yang telah berkeluarga dan yang telah mempunyai pasangan menyebut beberapa jomblo yang ada di dalam forum Jurasik dengan sebutan kaum Tuna Asmara.

Sebutan kaum Tuna Asmara terus melekat pada jomblo yang hadir di acara yang digelar setiap Jumat sore tersebut. Hingga beberapa episode Jurasik akhirnya sebutan Tuna Asmara menjadi sebuah kebiasaan. Hal semacam itu mungkin bisa dikatakan sebagai ledekan untuk jomblo yang hinggap di Jurasik. Namun bedanya, ledekan itu disikapi dengan istimewa oleh jomblo disitu. Bukan minder atau balas meledek, mereka malah bangga dengan kejombloannya dan membalas ledekan yang disematkan padannya dengan rencana menerbitkan sebuah buku. Bahkan karena rasa bangganya mereka sempat menamakan perkumpulannya tersebut sebagai KETAKS (Kerabat Tuna Asmara Kendal dan Sekitarnya). Meskipun anggota yang ada disitu yaitu beberapa jomblo yang sering hadir di BKR saja. Perekrutan anggota Ketaks pun tak perlu syarat apapun. Jika seorang jomblo yang datang ke Jurasik, maka secara otomatis, sadar atau tidak, ia adalah bagian dari Ketaks.

Rencana yang diinisiasi oleh Ketaks nyatanya bukan rencana kaleng-kaleng. Meski berangkat dari hal yang tak begitu serius, malah terkesan guyonan, namun mereka sangat serius dalam berlaku kreatif. Mungkin jika tak berlebihan, anggota Ketaks ini bisa dikatakan adalah jomblo-jomblo yang berkelas. Karena ia mampu mengonversi hal-hal kecil, di kota yang kecil pula, menjadi sebuah rencana karya yang besar.

Dalam menerbitkan buku Tuna Asmara ini Ketaks tidak sendirian. Beberapa hari berselang setelah rencana penerbitan buku diumumkan oleh Ketaks, mreka langsung menyebar info penerbitan buku ke seluruh jagad raya Kendal dan sekitarnya. Ketaks membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi jomblo yang ada di Kendal entah itu muda atau tua, sebentar atau lama mereka menjomblo, yang hendak ikut berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut. Alhasil setelah melewati berbagai rintangan, sebanyak 23 penyair jomblo asal Kendal dan sekitarnya berhasil terjaring, yang kemudian mengirimkan karya-karya tentang ketuna asmaraannya.

Dalam puisi-puisi yang ditulisnya, para jomblo Kendal ini pun unik-unik dan menggemaskan. Salah satunya yaitu puisi yang berjudul Tertinggal karya Abdullah Khanif. Seperti ini puisinya,“Dalam rangka mengejar cintamu, aku terlambat kasih. Aku baru sampai Palimanan, sedang kau telah sampai pelaminan”. Meski Khanif seorang musisi beraliran Metal yang kesehariannya berpenampilan sangar, namun ketika dihadapkan pada realita percintaan yang dialaminya, Khanif seolah-olah tak berdaya. Selain puisi Tertinggal karya Khanif tersebut, masih banyak lagi puisi-puisi yang unik dan menggemaskan lainnya.

Fenomena peluncuran buku yang digawangi oleh Ketaks ini seakan-akan menjadi tamparan keras bagi mereka yang mendiskreditkan jomblo sebagai orang yang kekurangan cinta dari lawan jenisnya. Lewat beberapa syair yang dituangkannya kedalam buku tersebut, seketika mereka mampu untuk menghadirkan sosok yang diimpikannya, meskipun hanya dalam tulisan. Seperti apa yang disampaikan oleh pengantar buku antologi puisi Tuna Asmara, Muslichin, S. S., M.Pd. Ia menyebut beberapa puisi dari penyair tuna asmara menggambarkan bahwa penyair sedang bermasturbasi cinta dengan menghadirkan sosok yang seakan-akan ada dalam hatinya. Padahal sebenarnya, ia hening, seperti halnya hati Abdullah Khanif tadi.

Sungguh, apa yang dilakukan oleh Ketaks ini menjadi suatu peristiwa yang begitu mengharukan. Bahwa meskipun mereka sulit mengungkapkan perasaannya kepada seseorang, namun ia mampu mengungkapkan perasaannya menjadi sebuah puisi dan diterbitkan dalam sebuah buku antologi puisi. Kini mereka hanya perlu belajar satu hal saja, yaitu bagaimana cara mereka mengungkapkan rasa kepada orang yang dicintainya dengan tepat dan sampai ke hati. Karena hal itulah sebenarnya yang menjadi kelemahan para penyair jomblo asal Kendal ini. Seperti pada puisinya “Aku paling bisa menulis kata tentang cinta. Namun dalam hal mengungkapkan rasa kepada seseorang, aku merasa yang paling bodoh didunia ini”.

Mereka patut bersyukur, karena predikat kejombloanya mereka mampu melahirkan sebuah karya yang tak main-main seperti ini. Mungkin jika saat Jurasik tidak ada ledekan kaum tuna asmara tersebut, Ketaks tidak mulai merencakan itu menjadi sebuah karya, mungkin guyonan itu hanya menjadi guyonan belaka dan buku antologi puisi Tuna Asmara ini tidak akan tercipta. Andaikan pula, waktu itu mereka mempunyai pasangan dan terlalu nyaman dengan pasangannya. Belum tentu mereka mampu berproses kreatif seperti ini. Jadi untukmu yang kini punya pasangan dan belum berproses kreatif, boleh coba untuk jomblo sejenak. Siapa tahu pacarmu nanti bakal pacaran dengan penyair tuna asmara ini. Hehehe...

Dilihat dari kualitas puisi, tentu kita tak bisa membandingkan kualitas puisi penyair jomblo ini dengan puisi-puisi karya penyair nasional semacam Djoko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, ataupun yang lain. Terlepas dari itu semua, kita bisa belajar dari Ketaks dan penyair tuna asmara ini. Bahwa sebuah karya yang besar, belum tentu dimulai dari hal yang besar pula. Bisa jadi lewat guyonan, ledekan, atau apapun hal yang begitu sederhana, mampu melahirkan karya yang besar. Asalkan kita serius dan tulus dari dalam lubuk hati kita. Namun jika buku antologi puisi Tuna Asmara ini dikatakan jelek, kurang tepat juga. Nyatanya hanya dalam 2 minggu, buku antologi puisi Tuna Asmara tersebut telah terjual habis. Bahkan, mereka berencana untuk melakukan penerbitan ke-2. Wow!

Rencana, buku antologi puisi Tuna Asmara ini akan dibedah di acara Kendali Seni Kendal 2018 yang akan digelar di Kantor Kecamatan Kaliwungu, 22-23 Desember mendatang.

Semoga dengan terbitnya buku antologi Tuna Asmara ini menjadi stimulus bagi kita semua untuk tetap breproses kreatif. Sesederhana apapun caranya. Semoga pula Ketaks dan penyair jomblo Kendal ini mampu melahirkan karya-karya barunya.

Salam..

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan. Bermukim di pinggiran Kota Kendal dan chadoriichsan.blogspot.com. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”. Dapat disapa melalui ig @superchadori dan wa 08979112799

Minggu, 02 Desember 2018

Begini Cara PSK Rayakan Ulang Tahun



Setiap orang, organisasi, maupun komunitas mempunyai caranya tersendiri dalam merayakan hari ulang tahunnya. Ada yang merayakannya dengan tumpengan, doa bersama, atau yang lainnya.

Pelataran Sastra Kaliwungu atau yang kerap disingkat PSK, merayakan ulang tahunnya dengan proses kreatif yaitu dengan cara mengadakan pelatihan menulis puisi dengan mendatangkan narasumber Heri Condro Santoso atau yang akrab disapa Heri CS.

Heri CS merupakan penyair dan jurnalis yang giat bergerak dalam bidang literasi. Beberapa karyanya pernah dibukukan, salah satunya dalam antologi esai "Ramadan di Kampung Halaman" yang diinisiasi oleh Lembaga Seni dan Budaya (Lesbumi) NU Kendal.

Selain sebagi penulis, Heri CS juga merupakan pegiat komunitas yang ada di Kendal. Ia merupakan koordinator Komunitas Lereng medini Kendal. Komunitas yang bergerak dalam bidang literasi tersebut mempunyai beberapa program. Salah satunya acara tahunan yang bertajuk Kemah Sastra. Sebuah wadah diskusi literasi dengan mendatangkan penyair kelas nasional.

Acara Pelatihan Menulis Puisi yang adakan dalam rangka ulang tahun PSK ke-7 tersebut disambut baik oleh beberapa peserta. Tercatat, sebanyak 26 peserta antusias mengikuti pelatihan yang diadakan di MI NU 04 Kumpulrejo Kaliwungu pada minggu pagi, 2 Desember 2018. Tak hanya dari Kendal, beberapa mahasiswa dari Semarang pun turut hadir mengikuti pelatihan.

Presiden PSK, Bahrul Ulum Amalik, menuturkan bahwa pelatihan menulis ini sebagai ikhtiar PSK untuk terus bergerak dalam dunia literasi, khususnya di Kabupaten Kendal. "Pelatihan ini adalah salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari lahir PSK. Pelatihan ini juga sebagai ikhtiar kami dalam meningkatkan laku kreatif dalam hal sastra"

Pria yang akrab disapa Ulum tersebut juga menambahkan, dalam kiprahnya selama 7 tahun ini PSK telah mengadakan beberapa program. "PSK lahir pada tanggal 9 Desember 2011, waktu itu para pegiat sastra di Kaliwungu ini ingin ada sebuah wadah yang bisa memberikan ruang untuk bergerak dalam bidang sastra. Makanya dari obrolan satu sama lain kami sepakat membentuk Pelataran Sastra Kaliwungu. Kami mempunyai 2 sub program. Program yang sifatnya diskusi, masuk dalam sub ngopi sastra. Sedangkan yang sifatnya apresiasi sastra masuk dalam sub D'Ruang"

Dalam pelatihan, Heri CS menjelaskan beberapa kiat-kiat menulis puisi. Menurutnya salah satu hal yang paling mendasar dalam menulis entah itu puisi, esai, atau yang lain adalah SPOK. "Sebagai penulis, hendaknya kita menguasai beberapa teknik. Salah satunya yaitu bahasa dan SPOK. Bahasa adalah alat kita dalam menulis. Sama halnya seperti kuli bangunan yang mempunyai alat semacam palu untuk membangun sebuah rumah, sastrawan juga harus mempunyai alat untuk membangun sebuah tulisan". Ungkap pria yang merupakan alumni Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang tersebut.

Ia juga menambahkan, bahwa membaca puisi dari penyair lokal maupun nasional sangat membantu dalam menulis puisi. "Untuk menulis puisi, hendaknya kita membaca puisi-puisi orang lain agar kita bisa tahu gaya penyair dalam menulis puisi. Misalnya Sapardi Djoko Darmono dengan gaya puisinya yang sederhana namun sangat mengena, puisi WS Rendra yang kebanyakan menceritakan tentang kehidupan sosial, ataupun Wiji Tukul yang puisinya merupakan bentuk kritik terhadap pemerintahan".

Selain itu, Heri CS juga meminjam salah metode Ki Hajar Dewantara dalam menulis puisi. Menurut Ki Hajar Dewantara, ada metode 3N dalam menulis puisi, Niteni (membaca), Nirokke (menirukan), dan Nambahi yaitu (Menambahkan, Mengarang)


Tidak hanya sekedar materi yang disampaikan oleh narasumber, para peserta pun dituntut untuk menulis puisi pada pelatihan tersebut. Beberapa karya dari peserta diapresiasi oleh narasumber dengan diberikan buku.

Rencana puisi-puisi yang telah ditulis oleh peserta pelatihan menulis puisi yang diadakan PSK tersebut akan dibukukan.

***(CDR)

Sabtu, 24 November 2018

Jurasik #32 (Setelah Sempat Libur, Jurasik Kembali Hadir Apresiasi Film)


Jurasik (Jumat, Sore, Asik), acara diskusi mingguan komunitas dan seniman Kendal, kembali hadir setelah beberapa minggu libur.

Pada Jurasik kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Biasanya kita kenal Jurasik dilaksanakan di Gedung Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Namun, pada Jurasik edisi ke-32 ini dilaksanakan di Halaman MI NU 04 Kumpulrejo Kecamatan Kaliwungu.

"Kami sengaja menggelar Jurasik minggu ini disini. Alasannya supaya Jurasik lebih fleksibel dan lebih dikenal masyarakat luas. Biasanya kita hanya stay di BKR, namun kami mencoba hal yang baru dengan mendatangi masyarakat" terang Tanjung Alim Sucahya, koordinator Jurasik.

Hal tersebut disambut baik oleh masyarakat sekitar MI. Bahkan ada masyarakat yang dengan senang hati meminjamkan pengeras suaranya untuk Jurasik dan ada juga yang mengirim makanan. "Alhamdulillah respon masyarakat disini baik. Semoga ini menjadi awal silaturahmi Jurasik dengan masyarakat sini" tambah Tanjung.

Kehadiran Jurasik kali ini membawa tema apresiasi film pendek pelajar Kendal. 5 film pendek garapan asal Kendal ditayangkan dalam acara tersebut. Antara lain Kapan?(SMA NU 04 Kangkung), Keduwung Mburi(MA NU 03 Sunan Katong Kaliwungu), Goresan Mimpi (SMP Unggulan PMS Kendal), Tiwas(SMA N 1 Kaliwungu), Gara-Gara SUSU(SMP Unggulan PMS Kendal).

Sutradara dari kelima film tersebut, Sutrisno, dihadirkan dalam acara Jurasik ke-32 tersebut. Ia berharap dengan adanya film pelajar tersebut dapat melatih kreativitas pelajar yang ada di Kendal di dunia perfilman. "Kita tahu tidak semua sekolah yang ada di Kendal mempunyai ekstrakurikuler film. Nah semoga dengan adanya film yang dimainkan oleh pelajar Kendal ini dapat memicu sekolah-sekolah untuk mulai bergerak dalam perfilman" kata Sutris, panggilan akrabnya.

Selain sutradara dari film, hadir pula dari perwakilan Kabelan Id yang merupakan salah satu cabang dari Indonesian Film Coorporate, Tatang. Ia sangat mengapresiasi acara Jurasik. "Saya bangga dengan adanya acara Jurasik ini. Semoga dengan adanya diskusi film semacam ini, dapat meningkatkan kualitas perfilman Indonesia" kata pria yang berasal dari Cepiring tersebut.

Rencananya di minggu kedepan Jurasik akan kembali hadir menyambangi desa-desa maupun kota-kota untuk melebarkan sayapnya. ***(JRS/CDR)


Senin, 19 November 2018

UNDANGAN MENULIS "Bacaan Pertama"


Info Penerbitan Buku

Jarak Dekat Art Production melalui program kreatifnya,  Medan Keabadian Kata mengundang kepada siapa saja dalam kerja penulisan esai hingga tulisan-tulisan tersebut selanjutnya dihimpun dalam sebuah penerbitan buku. Esai tersebut bertema,

"Bacaan Pertama" 
tentang pengisahan pengalaman pertama membaca Anda, tentang perjumpaan diri Anda dengan dunia bacaan, baik dengan buku-buku sastra, majalah,  komik,  atau bacaan-bacaan lain yang tentu segala itu menjadi pijakan awal bagi peristiwa membaca Anda selanjutnya, dan begitu berarti bagi hidup Anda.

Syarat dan ketentuan:
1. Penulis adalah Warga Negara Indonesia (diutamakan alumni/peserta Kelas Menulis Kreatif Barang Bukti Bangun Kreativitas #9), namun terbuka pula bagi siapa saja yang hendak mengikuti pembukuan ini. 
2. Esai ditulis dalam file ms word (RTF).
3. Esai dengan panjang antara 4000 s.d 6000 karakter (dengan spasi).
4. Sertakan biodata singkat dalam satu file ms word tersebut. Termasuk nomor ponsel yang bisa dihubungi.
5. File tersebut dikirim ke email: jarakdekat.art@gmail.com atau ke wa 08979112799
6. Setiap karya yang masuk akan diseleksi oleh tim kurator.
7. Penerbitan buku ini tidak dikenai biaya, hanya saja jika memungkinkan nanti akan ada bantingan seikhlasnya untuk mengganti biaya cetak. Seikhlasnya namun tetap mempertimbangkan kepatutan.
8. Setiap penulis yang menyumbangkan karya (tulisannya) tidak akan mendapatkan royalti, namun hanya mendapatkan satu eksemplar buku sebagai bukti terbit, dan akan diberikan pada saat peluncuran buku.
9. Esai dapat dikirim mulai 18 November 2018 hingga batas waktu 1 Desember 2018
10. Esai yang terpilih untuk dibukukan akan diumumkan pada 3 Desember 2018.
11. Selanjutnya buku akan diproses cetak, dan kemudian dilaunching. 

Begitu kiranya, kami tunggu karya Saudara.
Salam.

Medan Keabadian Kata
Jarak Dekat Art Production

Barang Bukti Bangun Kreativitas #9 (Kelas Menulis Kreatif)


Rabu, 14 November 2018

Jurasik #26 (Sanggar Lontong Opor dan Musik Punk Rock asal Boja Meriahkan Jurasik)


Jurasik #26

Sanggar Lontong Opor dan Musik Punk Rock asal Boja Meriahkan Jurasik




Sanggar Longtong Opor (SLOP) dan band beraliran  Punk Rock Alternatif asal Boja yanng bernamakan Lowsaider Boja PunkRock dihadirkan dalam Jurasik edisi 26 yang diselenggarakan di Balai Kesenian Remaja Kendal, jumat 21 September 2018.

Acara jurasik ke-26 ini dimulai dengan penampilan Lowsaider Boja PunkRock. Mereka membawakan lagu ciptaan mereka sendiri yang berjudul Suara Kami. Setelah itu dilanjutkan dengan sharing session dengan Sanggar Lontong Opor dan Lowsaider Boja Punk Rock.
Lowsider Boja Punk Rock merupakan komunitas band punk rock alternatif asal Boja. Band dengan beranggotakan Heru Hermawan (Vocal+Guitar), Ficki (Bass), dan Winkan (Drum) ini telah merilis 5 lagu. “Sejak terbentuk pada 26 Desember 2017 lalu, kami sudah rilis 5 lagu yaitu Suara Kami, Boja Punk Rock, Kausa, Goresan Mimpi, Tresnomu As” kata Heru Hermawan, Vokalis Lowsider Boja Punk Rock.

Setelah Lowsider Boja Punk Rock selesasi, dilanjut sesi berikutnya yaitu Sanggar Lontong Opor yang merupakan komunitas seni rupa yang ada di Kendal. Komunitas ini merupakan metamorfosa dari Kendal Sketcher(KS). “KS dibentuk awal 2012 setelah proses perkenalan dari perupa ketika momen pameran Seni Adalah Senjata pada Desember 2011. Sampe pada akhirnya Idul Fitri 2017 kami merubah nama komunitas menjadi SLOP seperti sekarang ini”. Kata Dante Abdul Muis, Ketua SLOP.

Perihal nama. Dante menambahkan bahwa momen idul fitri mempunyai andil besar atas pergantian nama komunitas ini. “Kami merubah nama komunitas bertepatan dengan momen idul fitri. Maka dari itu kami namai Sanggar Lontong Opor, karena Idul Fitri identik dengan Lontong Opor hehe..”. Dalam kirahnya, SLOP beberapa mengadakan kegiatan berkaitan dengan seni rupa. Diantaranya yaitu Pameran Kelompok dan Wokshop Seni Cukil.
Acara Jurasik malam itu ditutup oleh penampilan kembali dari Lowsider Boja Punk Rock. (JRS/CDR)

Selasa, 13 November 2018

Jurasik #22 (Buku Puisi Tuna Asmara Segera Diterbitkan)

Jurasik #22

Buku Puisi Tuna Asmara Akan Segera Diterbitkan



Jarak Dekat Media, salah satu media yang dinaungi oleh Jarak Dekat Art
Production, sebentar lagi akan menerbitkan sebuah buku antologi puisi yang
bertajuk "Tuna Asmara". Buku tersebut merupakan kumpulan puisi dari
beberapa pengamat, pelaku, maupun pemerhati kaum Tuna Asmara, atau yang
akrab disebut Jomblo. Sebelum terbit, rencana penerbitan Buku Antologi
Puisi ini dibahas dalam forum Jurasik (Jumat Sore Asik) pada Jumat, 24
Agustus 2018 mulai pukul 19.30 WIB sampai selesai di Balai Kesenian Remaja
Kendal (BKR). Selain membahas tentang rencana penerbitan buku, Jurasik kali
ini juga menampilkan beberapa karya yaitu musikalisasi puisi, gamelan, dan
tembang macapat.


Buku Tuna Asmara pertama kali diinisiasi oleh salah seorang peserta Jumat
Sore Asik (Jurasik) yang kerap menyebut orang yang belum mempunyai pasangan
sebagai Tuna Asmara. "Ya awalnya sih ini dari bercandaan anak-anak di
Jurasik. Tapi setelah seseorang mengusulkan bercandaan itu menjadi sebuah
buku, akhirnya kami tim Jarak Dekat Media meresponnya dengan membuat Buku
Antologi puisi Tuna Asmara". kata salah seorang koordinator Jarak Dekat
Media, Chadori Ichsan.

Buku terbitan Jarak Dekat Media tersebut rencana akan dilaunching pada awal
bulan November namun sistem Pre-Order dari buku tersebut telah dibuka.
"Rencana kami akan launching kalau tidak Oktober akhir, ya November awal
lah, semoga saja bisa cepat. Buku bisa dipesan lewat saya di wa
08979112799" tambah Chadori.

Jarak Dekat Art Production sebagai badan yang menaungi Jarak Dekat Media
berharap buku ini akan menjadi langkah awal untuk terus berlaku kreatif
dalam hal penulisan. Ia juga berharap hal ini dapat lebih meningkatkan
kualitas dan kuantitas para penulisnya.***(JRS/CDR)

Jurasik #21 (Bincang bersama Kendal Aksara dan Pshyco Iron)


Jurasik #21

Bincang bersama Kendal Aksara dan Pshyco Iron




Pekan kali ini tanggal 17 Agustus 2018 bertepatan dengan Peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73, Jurasik(Jumat, Sore, Asik) kembali hadir menyapa para hadirin yang ada di Halaman Balai Kesenian Remaja(BKR) Kendal. Kali ini Jurasik menampilkan Komunitas Pshyco Iron dan Komunitas Kendal Aksara.

Ada yang berbeda dengan Jurasik kali ini. Bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan RI, sebelum acara sharing session Jurasik dimulai, para hadirin terlebih dahulu menyanyikan lagu-lagu kemerdekaan. Hal tersebut merupakan bentuk rasa nasionalisme para pegiat seni yang saat itu datang ke Jurasik. Setelah menyanyikan lagu kemerdekaan, dilanjut dengan sharing session.

Sharing session dimulai dengan Komunitas Kendal Aksara. Kendal Aksara merupakan komunitas seni rupa yang terbentuk sejak Februari 2017. “Kami terbentuk sudah setahun lebih. Tepatnya Februari 2017. Awalnya ya terbentuk atas kegelisahan yang sama yakni belum adanya wadah bagi seniman yang berfokus di Hand Lettering”. Kata Rifqi, Ketua Kendal Akara.

Pria yang akrab disapa Bajuri tersebut juga menyampaikan bahwa dalam kiprahnya Kendal Aksara sudah beberapa kali mengadakan kegiatan. “Sama seperti komunitas lain kami juga beberapa kali mengadakan acara, Mas. Diantaranya Sharing Session, Mural, dan Workshop”. Tambahnya.

Selain Kendal Aksara, Narasumber yang dihadirkan dalam Jurasik #21 yaitu Pshyco Iron, Komunitas Motor Custom Kendal. Pshyco Iron terbenuk dari obrolan beberapa orang di media sosial Facebook tentang motor custom. “Awalnya kita sering ngobrol motor custom di grup Facebook, Mas. Kemudian kami mengadakan kopdar di salah satu kedai kopi untuk mempertemukan region Kendal dan Kaliwungu”. Kata Zinda Muzaki, salah satu anggota Pshyco Iron.

Zinda juga menjelaskan mengapa komunitas tersebut diberi nama Pshyco Iron dan tipe-tipe motor custom apa saja yang digelutinya. “Saat kopdar tersebut kita sepakati memakai nama Pshyco Iron yang artinya penggila besi atau penggila modif motor custom. Ada beberapa tipe custom diantaranya Choper, Boober, Tracker, Scrambler, Caferacer, Japstyle, Trail Tua”. Imbuhnya.

Selain sharing session, Pshyco Iron juga menampilkan display motor customnya di Jurasik. (JRS/SBS)



Jurasik #31 (Tukang Kebun Obrolkan Buku di Jurasik)


Jurasik #31

Tukang Kebun Obrolkan Buku di Jurasik



“Orang boleh pandai setinggi langit. Namun selama ia tak menulis, maka ia akan akan hilang di masyarakat dan dari sejarah” kira-kira seperti itulah kata Pramoedya Ananta Toer.

Choeru Somad, tukang kebun yang bekerja di SMA N 2 Kendal, baru-baru ini telah menerbitkan sebuah buku yang berjudul “Sekolahku Tempat Wisataku”. Buku yang menceritakan segala sesuatu tentang sekolah yang menjadi tempat kerjanya tersebut dilaunching saat acara Jurasik yang ke-30 yang digelar pada .

“Bagi saya ini hal yang luar biasa. Seorang tukang kebun yang tugasnya mengurusi kebersihan sekolahnya, namun selain itu Mas Choeru Somad ini juga mampu menerbitkan sebuah buku. Maka dari itu beliau kami undang ke Jurasik”. Kata koordinator Jurasik, Tanjung Alim Sucahya.

Ada hal menarik yang mungkin mampu menginspirasi para pegiat sastra atau tulisan. Berbeda dengan penulis kebanyakan yang selalu identik dengan alat menulis semacam laptop, Choeru Somad mengawali proses menulisnya melalui tulisan manual di kertas HVS.
“Saya mengawali menulis buku itu pada bulan Mei, Mas. Awalnya saya menulis manual di kertas HVS. Karena saya kan tidak punya laptop/komputer. Tapi hal semacam itu  bagi saya tidak begitu masalah”. Ungkap Choru Somad.

Semangat Choeru Somad patut ditiru oleh para seniman dan masyarakat. Meski menulis bukanlah pekerjaan utamanya sebagai Tukang Kebun, namun kini ia berhasil menerbitkan sebuah buku.

Ditanya soal apa motivasinya membuat buku, ia menyampaikan bahwa Tukang Kebun bisa lebih dari sekedar bersih-bersih lingkungan. “saya membuat buku itu karena saya tidak mau menjadi Tukang Kebun yang hanya sekedar Tukang Kebun. Saya ingin membuktikan bahwa Tukang Kebun bisa lebih dari sekadar bersih-bersih”. Terang Tukang Kebun SMA N 2 Kendal tersebut.

Dalam akhir sesi, ia berharap semangatnya menulis mampu ditiru oleh masyarakat khususnya pegiat sastra di Kabupaten Kendal (JRS/CDR)



Jurasik #30 (Jurasik Jawara baca puisi tampil di Jurasik)

Jurasik #30

Jawara Baca Puisi Tampil di Jurasik



Muhammad Sulkhan dan Tri Setyaningsih, jawara baca puisi asal Kendal tampil di Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang dilaksanakan pada 19 Oktober 2018 di Balai Kesenian Remaja(BKR) Kendal. Keduanya baru saja dinobatkan sebagai juara I dan II dalam ajang lomba baca puisi online umum tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas PGRI Semarang.

“Kendal punya bakat yang bagus dalam hal puisi, baik penulis maupun pembacanya. Untuk penulis kita tahu Mas Setia Naka Andrian yang baru saja meraih penghargaan dari Litera. Kali ini kita datangkan pembaca puisi yang juga baru saja mendapat juara”. Kata Tanjung Alim Sucahya, koordinator acara Jurasik.

Muhammad Sulkhan, yang baru saja mendapat juara I lomba baca puisi online tersebut mulai menekuni puisi sejak duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. “Pertama kali saya baca puisi itu pas SD mas kelas 3. Dulu saya disuruh ikut lomba baca puisi sejak SD dan sering menang juga alhamdulillah”. Kata Sulkhan, yang juga baru saja mendapat juara 2 lomba baca sajak Bambang Sadono Kota Tegal. Beberapa prestasi membaca puisi telah ditorehkan oleh Sulkhan. Salah satunya adalah Juara 1 FLS2N Kabupaten Kendal 2012.

Berbeda dengan Sulkhan, Tri Setyaningsih yang baru saja menjadi juara II Lomba Baca Puisi Online, bercerita tentang pengalamannya mengikuti lomba baca puisi tersebut. “Saya membuat video baca puisi sore setelah pulang kuliah dan hanya 1 kali take saja. Setelah sore itu langsung saya edit, dan langsung saya share ke Youtube”. Kata Tri.

Selain berbagi pengalaman tentang puisi, Sulkhan dan Tri juga menunjukkan kebolehannya membacakan puisi dihadapan hadirin Jurasik. (JRS/CDR)




Jumat, 09 November 2018

Jurasik #27 (Jurasik Adakan Diskusi Tentang Sulap)


Jurasik #27


Jurasik Adakan Diskusi Tentang Sulap



Jurasik (Jumat Sore Asik) yang digelar di Balai Kesenian Remaja Kendal (BKR) menghadirkan salah satu komunitas sulap yang ada di Kendal untuk menjadi narasumber pada episodenya yang ke-27. Komunitas tersebut adalah Indonesian Brotherhood of Mentalist (Mindonesia) Chapter Kendal. Acara yang digelar pada jumat (28/9) tersebut dimulai sejak pukul 19.30 wib sampai tengah malam.
Selain komunitas sulap, band akustik yang bermukim di Gedung BKR, BKR n’ Friends, juga turut memeriahkan acara Jurasik tersebut.

Tanjung Alim Sucahya, selaku koordinator Jurasik mengatakan bahwa keputusannya menghadirkan komunitas sulap yaitu untuk memberikan pengetahuan tentang sulap kepada peserta Jurasik.
“Kami ingin memberikan hal yang baru untuk Jurasik. Sebagian temen-temen di BKR ini kan masih agak awam soal sulap, maka dari itu kami undang komunitas Indonesian Brotherhood of Mentalist ini.” Tutur Tanjung.

Seperti biasa, acara Jurasik dimulai oleh penampilan dari BKR n’ Friends dengan membawakan lagu-lagu romantisnya. Setelah BKR, dilanjut dengan acara inti yaitu Sharing Session.
MIndonesia terbilang komunitas yang masih baru. Pasalnya, komunitas sulap yang beraliran mentalism ini baru terbentuk pada 6 Agustus 2018. “Sebagai komunitas sulap, kami masih terbilang baru, Mas. Awalnya kami hanya beranggotakan 3 orang saja. Karena dalam seleksi masuk komunitas ini kami terbilang cukup ketat” kata Zulfa Fahmy selaku pembina MIndonesia.

Fahmy juga menjelaskan mengapa komunitas ini terbentuk. Menurutnya hal yang melatarbelakangi terbentuknya komunita ini adalah masih jarangnya komunitas yang beraliran mentalist. “Kami membuat komunitas ini karena aliran mentalis masih jarang yang mempelajarinya. Kebanyakan pesulap beraliran ilusi dan manipulasi”. Tambahnya.

Dengan adanya narasumber dari komunitas sulap ini Jurasik berharap seni alternatif pertunjukan semacan mentalist ini akan lebih dikenal masyarakat, khususnya para seniman dan pelaku komunitas.

Setelah sharing session, Jurasik kembali ditutup oleh penampilan BKR n’ Friends dan beberapa peserta yang ingin menunjukan karyanya. (JRS/CDR)


Senin, 05 November 2018

Jurasik #29 (Bincang-Bincang Workshop dan Manajemen Seni Rupa)


Jurasik #29

 Bincang-Bincang Workshop dan Manajemen Seni Rupa




Jumat 12 Oktober 2018 pada pukul 19.30 WIB, Jurasik kembali hadir menyapa para pelaku maupun penikmat kesenian yang ada di Kendal. Acara Jurasik yang ke-29 tersebut bertempat di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja(BKR) Kendal.

Malam itu mungkin menjadi malam yang panjang bagi pelaku ataupun penikmat seni rupa yang ada di Kendal, pasalnya Jurasik kali ini membahas tentang seni rupa dengan tajuk "Bincang-Bincang Workhsop dan Manajemen Seni Rupa". Narasumber dari acara tersebut yaitu Alexander el Malik, Nazril Ilyas Assegaf, Ali Achmad Murtadho, Lutfi Choirul Anam, dan Dicky Aditya yang baru saja mengikuti workshop manajemen seni rupa yang diadakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Jawa Tengah dan Biennale Jawa tengah di Hotel Horison pada 10-11 Oktober 2018.

Salah satu dari kelima narasumber tersebut, Alexander El Malik, menyebutkan bahwa dalam seni rupa tidak hanya sekedar melukis lalu selesai, tapi ada tahap lain yang harus ditempuh seorang pelaku seni rupa. "Untuk menghasilkan karya yang baik, pelaku seni rupa harus melalui tahapan analisis situasi terlebih dahulu supaya mendapatkan gambar yang bagus. Namun pelaku seni rupa terkadang melupakanya" kata mahasiswa jurusan Manajemen UDINUS tersebut.

Senafas dengan Malik, Nazril Ilyas Assegaf juga menyoroti manajemen dalam seni rupa. "Dewasa ini kita sebagai pelaku seni rupa harus memperhatikan manejemennya mas. Tidak melulu melukis kemudian tak ada tindak lanjut" kata pria yang kerap disapa Ilyas tersebut.

Selain membahas segala tentang seni rupa, malam itu Jurasik juga menampilkan perform musik dari BKR n' Friends. Kehadiran mereka membuat suasana pada malam itu menjadi lebih menarik. (JRS/CDR)


Minggu, 04 November 2018

Jurasik#23 (Sharing Puisi Bersama Aris Esha)


Jurasik#23

Sharing Puisi Bersama Aris Esha



Jurasik yang ke 23 menghadirkan seorang penulis puisi Aris Esha asal Brangsong Kendal.
Pada Jum'at 31 Agustus 2018 Pukul 20.00 WIB, Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal telah di padati pemuda-pemudi yang tidak sabar berbincang-bincang bersama narasumber.

Menulis dengan jangka yang cukup dekat memudahkan Aris meracik puisi yang dapat dikatakan nyambung dengan puisi-puisi sebelumnya (tematik) hingga akhirnya dia berniat membukukan nya.

Ya, Aris yang rencananya akan membukukan kumpulan puisinya dia juga dengan rendah hati membacakan beberapa puisi karyanya di Jurasik pekan ini.

Para apresian bergilir membacakan puisi karya narasumber, suasana bahagia campur haru menjadi rasa tersendiri di dalam kegiatan santai, intens nan asyik ini.

Aris sering mengikuti lomba puisi salah satunya yang di selenggarakan Pelataran Sastra Kaliwungu, dia berhasil memperoleh juara 3.

Ungkapnya "Saya harap, hobi dapat menjadikan seseorang lebih produktif dalam berkarya" .

Tidak hanya itu, sastrawan yang sudah cukup elok seperti Bung Bahrul Ulum Amalik ikut berpartisipasi memberi semangat buat segenap yang hadir terutama terhadap sesama pelaku seni .

Setelah diskusi berjalan dengan khidmat, perlahan namun parti alunan syahdu akustik BKR N Friend lekas mencairkan suasana.
di lanjutkan musikalisasi puisi dari Sambas Ryd yang spontan merespon karya narasumber di iringi petikan guitar oleh Mr. Dadang yang menyayat hati dan segera memanah para kaum hawa. (JRS/CMT)



Jurasik #19 (Laku Kreatif Mahasiswa DKV UNISS)


Jurasik #19 

Laku Kreatif Mahasiswa DKV UNISS


Jumat, 3 Agustus 2018  merupakan gelaran Jurasik (Jumat Sore Asik) ke-19. Acara yang bertempat di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja(BKR) Kendal tersebut secara konsisten merespon laku kreatif para pegiat seni dan komunitas yang ada di Kendal. Pada Jurasik #19 ini menghadirkan narasumber dari Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Selamat Sri (UNISS) Kendal.

Pukul 20.00 WIB acara dibuka oleh penampilan BKR n' Friends yang selalu menghibur audiens melalui sajian lagu-lagu romantis yang dibawakannya. Tak jarang pula audiens juga turut menyumbangkan kebolehannya dalam bernyanyi maupun memainkan alat musik.

Setelah itu dilanjutkan dengan acara inti yaitu diskusi. Pembahasan diawali dengan kegiatan pameran yang diselenggarakan oleh Mahasiswa DKV UNISS setiap satu semesternya yang kebetulan pada semester ini diselenggarakan di Gedung BKR.

Dalam pameran ke-4 kalinya ini DKV UNISS menyuguhkan eksebisi dan wokshop yang dihibur dengan penampilan musik akustik. Pameran kali ini bertemakan "Wang Sinawang" yang secara  dapat diartikan saling melihat, refrensi, intropeksi diri juga ajang saling apresiasi sesama seniman. Selain untuk pameran, kegiatan para Mahasiswa DKV UNISS ini sekaligus untuk memenuhi tugas mata kuliah mereka.

"Dalam hal melukis, yang paling penting melihat sebuah proses menuju progress" ungkap Lutfi, Ketua Pameran DKV UNISS tersebut.

"Mungkin, pentingnya pengalaman dapat menjadi bumbu khusus karena
membuat pameran bukanlah hal sepele, perlu kerjasama tim yang serius" sambung pria yang akrab disapa Ucil tersebut.



Ditanya soal apa yang akan mereka lakukan setelah lulus dari Jurusan DKV, mereka optimis akan terus melahirkan karya-karya dibidang Komunikasi Visual. "Setelah ini ya tentu kami akan terus mendalami dunia desain kemudian kami akan mengembangkannya. Percuma saja jika mahasiswa DKV setelah lulus kok berhenti mendalami dunia desain" kata Iqbal TM, yang juga merupakan Wakil Ketua Pameran.

Dalam diskusi tersebut juga ditampilkan beberapa karya dari Mahasiswa DKV UNISS. Salah satunya adalah lukisan pada totebag. Acara pameran akan dilaksanakan kembali oleh Mahasawa DKV UNISS pada semester-semester berikutnya. Di penghujung acara, Jurasik ditutup oleh penampilan kembali dari BKR n' Friends yang berkolaborasi dengan audiens. (JRS/CMT)



Sabtu, 08 September 2018

Jurasik #24 (Bedah Buku Puisi Jejak Tubuh karya Tegsa Teguh Satriyo)

Jurasik #24

Bedah Buku Puisi Jejak Tubuh karya Tegsa Teguh Satriyo



Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal (BKR) kembali ramai dihadiri oleh para seniman dan masyarakat umum pada Jumat 7 September 2018. Pasalnya di hari tersebut acara diskusi mingguan Jurasik kembali dilaksanakan. Meski angin di malam itu bertiup sedikit kencang, namun tak menyurutkan antusiasme para hadirin di halaman gedung belakang GOR Bahurekso Kendal tersebut.

Jurasik yang ke-24 ini menghadirkan narasumber seorang penulis buku puisi "Jejak Tubuh" yang bernama Tegsa Teguh Satriyo. Selain Tegsa, acara Jurasik juga menampilkan grup band akustik, BKR n' Friends.

Acara yang berlangsung selepas isya' tersebut dibuka dengan pembacaan puisi yang ada di buku Jejak Tubuh oleh para hadirin. Secara bergantian mereka mengapresiasi karya Tegsa tersebut dengan membacakan puisi-puisinya didepan panggung Jurasik.

Setelah puisi Tegsa selesai dibacakan, hadirin langsung di suguhi penampilan dari BKR n' Friends. Membawakan beberapa lagu dari grup band Padi, penampilan grup band yang bermukim di Gedung BKR tersebut mampu menghibur para hadirin.
Foto: Tegsa membaca puisinya diiringi oleh BKR n' Friends
Tegsa merupakan guru di SMA Kesatrian 2 Semarang. Kecintaannya terhadap dunia seni dimulainya sejak kelas 2 SMA. "Saya dulu berawal dari teater, segala sesuatu tentang teater saya suka dan sudah pernah saya jalani. Mulai dari aktor, penulis naskah, hingga menjadi sutradara" kata Tegsa.

Kegemaran menulis puisinya berawal dari sifat kepengenannya dalam berbagai hal. Yang dulunya hanya menulis naskah drama, kemudian merambah ke cerpen dan puisi. "Saya itu orangnya mudah kepengen dalam berbagai hal. Saya dulu lihat teman menulis puisi, jadi pengen nulis juga. Alhamdulillah berkat kepengenan saya itu kini sudah menjadi buku Jejak Tubuh ini" imbuh pria kelahiran Pati tersebut.
Dalam sesi diskusi, hadirin mengungkapkan kekagumannya terhadap puisi Tegsa. Dalam beberapa puisi yang terdapat di buku Jejak Tubuh menampilkan sisi kereligiusan seorang Tegsa. Namun ada juga yang memberikan masukan kepada Tegsa.

Kekaguman terhadap Tegsa salah satunya disampaikan oleh Ketua Lesbumi Kendal, Muslichin. Menurutnya gaya bahasa yang digunakan dalam buku puisi tersebut menggambarkan perasaan Tegsa yang religius. "Saya cukup tertarik dengan buku Jejak Langkah ini, karena beberapa mengandung makna religius yang cukup bagus. Namun tentunya, Tegsa perlu meningkatkan skill membuat puisinya lagi mengingat dia masih muda. Saya yakin di buku-buku berikutnya Tegsa akan jauh lebih baik" ungkap Muslichin, yang juga seorang guru SMA N 2 Kendal.
 
Foto: suasana diskusi

Selepas diskusi tentang buku Jejak Tubuh selesai, acara kembali dihibur oleh BKR n' Friends. Para hadirin secara sukarela menyumbangkan kebolehannya dalam bernyanyi. Karena seperti biasa, panggung Jurasik terbuka bagi siapa saja yang ingin menampilkannya karyanya. Jurasik akan kembali hadir pada Jumat yang akan datang. ***(JRS/CDR)

Minggu, 12 Agustus 2018

Hari Jadi Kendal ke-413, Menjaga Kendal Sepenuh Hati


Oleh Chadori Ichsan


413 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah kota untuk memajukan daerahnya. Kendal telah mengalami beberapa perubahan seiring dengan peradaban zaman. Tata kota, pendidikan, kesenian, dan segala sesuatunya telah berbeda. Contoh kecil saja dulu rata-rata pendidikan masyarakat di Kendal mungkin hanya sampai pada SD maupun SMP saja. Namun saat ini banyak pelajar di Kendal yang sampai pada jenjang Perguruan Tinggi, bahkan banyak pula yang kuliah di Luar Negeri. Adanya pergeseran ini tentunya menimbulkan dampak yang postif dan negatif bagi Kendal.

Sekilas tentang kondisi sosiologis, masyarakat Kendal sebagian besar adalah masyarakat pedesaan yang masih memegang erat kearifan lokalnya. Entah itu dalam hal agama maupun kehidupan sosialnya. Diantaranya yaitu beberapa tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Kendal yaitu Ziarah ke Makam Wali, Weh-Wehan, Dugderan, Dundunan/Mudun Lemah, Syawalan dan masih banyak lagi. Dalam konteks komunikasi, masyarakat Kendal memiliki ciri khas sendiri yaitu dengan tambahan kosakata Ra dan Meni/Neni. Misalnya wingi awake dewe dolan ning Kendal, kotane apik neni ra (Kemarin kita main ke Kendal, kotanya bagus sekali kan). Selain Ra dan Meni/Neni ada juga kosakata ciri khas Kendal yaitu dengan menambahkan suku kata terakhir untuk menegaskan suatu hal. Misalnya Wong Kendal ki sangar-ngar, Kendal ki dalane apik-pik (Orang Kendal itu hebat sekali. Kendal itu jalannya sangat bagus).

Dalam hal perindustrian, kini Kendal sudah mulai dilirik oleh investor-investor baik dalam maupun luar negeri. Bahkan beberapa investor sudah menanamkan sahamnya di Kendal. Contoh terbaru adalah PT Jababeka Tbk dan skala kota asal Singapura, Sembcorp Development Indonesia Ltd yang telah membangun Kawasan Industri Kendal (KIK) dengan porsi kepemilikan saham 51:49 persen. KIK rencanannya akan menyerap sebanyak 500.000 tenaga kerja. Letak KIK sangat strategis, berada di Jalur Lingkar Kaliwungu Kendal, akses dari KIK ke Pelabuhan Kendal dapat ditempuh dengan hanya sekitar 10 menit saja. Pun dengan jarak KIK dengan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang yang dapat ditempuh hanya dengan waktu sekitar 1 jam. Maka tak heran, dengan luas 2700 ha2 KIK digadang-gadang akan menjadi Kawasan Industri terbesar di Jawa Tengah, bahkan akan menyaingi Kawasan Industri terbesar di Indonesia yang berada di Karawang Jawa Barat.

Berbicara soal masa depan, generasi muda Kendal sepertinya mempunyai tanggung jawab yang lebih dari yang lain. Dalam transisi menuju kiblat industri, banyak yang harus dipersiapkan oleh pemuda Kendal. KIK menjadi hembusan angin segar bagi seluruh masyarakat Kendal. Terutama bagi pemuda yang masih kesulitan mencari pekerjaan. Namun jangan sampai karena seringnya angin itu berhembus, masyarakat terlena dan angin itu hanya menjadi hembusan semata. Pemuda Kendal harus menyiapkan skill mereka dalam hal apapun untuk menyongsong kota industi Kendal. Tentu seorang manager akan memilih calon tenaga kerja yang skillnya bagus untuk dapat bekerja di perusahaannya.

Kendal sering disebut sebagai ruang antara karena posisi kota ini yang setengah-setengah. Maksudnya yaitu kota ini dikatakan maju belum sepenuhnya, karena masih kalah dari Semarang, dikatakan kota yang tertinggal juga tidak karena kota Kendal sudah mulai berbenah dalam berbagai hal. Tentunya kondisi ini menjadi perhatian bagi masyarakat Kendal khususnya para pemudanya. Generasi muda Kendal harus tahu apa yang harus mereka persiapkan. Mau dibawa kemana kota ini suatu saat nanti. Sebagai warga Kendal kita harus memiliki Kendal sepenuhnya. Tentu kita tak mau jika KIK nantinya terbangun megah, namun kita hanya dapat menikmati limbah dan asap industrinya saja. Pun dengan pariwisata yang ada di Kendal. Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi tukang parkir, penjual es, dan pedagang asongan di objek wisatanya. Sementara hasil wisata masuk ke dalam kantong kapitalis.

Dibalik hingar-bingar menuju kota Industri, Kendal masih mempunyai seniman-seniman yang secara konsisten melahirkan karya-karyanya untuk kota ini. Salah satunya adalah acara diskusi Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang dinaungi oleh Jarak Dekat Art Production. Acara yang digelar pada hari jumat sore di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal tersebut secara istiqomah menjadi wadah diskusi bagi seluruh komunitas yang ada di Kendal setiap minggunya. Baik komunitas seni, motor, olahraga, dan lain-lain. Jurasik disambut baik oleh seniman dan komunitas baik di dalam maupun luar kota. Tidak ada pendanaan dari pihak manapun, baik Pemda maupun Sponsor. Segala sesuatu yang menunjang acara Jurasik diperoleh dari patungan secara sukarela dari peserta Jurasik melalui koin kreatif. Meskipun beberapa ada yang menyayangkan kondisi gedung BKR yang kurang layak pakai, tetapi hal tersebut disikapi dengan dingin oleh seniman Kendal. Bagi mereka, melahirkan karya demi karya merupakan tujuan utama mereka daripada harus meributkan soal tempat. Selain Jurasik, seniman dan komunitas yang ada di Kendal setiap tahunnya juga mengadakan acara Kendali Seni Kendal (KSK). Yaitu sebuah acara yang mempertemukan seluruh seniman dan komunitas yang ada di Kendal beserta karya-karya yang ditampilkannya. Tahun 2018 ini merupakan gelarannya yang ke-3 kalinya. Rencana KSK #3 akan digelar pada bulan Oktober di Alun-Alun Kabupaten Kendal.

Disamping menggelar Jurasik dan KSK, beberapa tahun terakhir ini para pegiat seni di Kendal mencoba mencari tahu dan mencoba memperkenalkan salah satu suku yang ada di Kabupaten Kendal, yaitu Suku Kalang yang nantinya juga akan diangkat menjadi tema dalam Kendali Seni Kendal #3. Dalam kisah sejarahnya, Suku Kalang memiliki beberapa versi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Kendal, Muslichin, Suku Kalang sudah ada sejak zaman kerajaan hindu dahulu. Suku ini berasal dari Srilangka dan sekitarnya. Suku Kalang ini ada kaitannya dengan legenda sejarah Sangkuriang. Dulu orang-orang Kalang dikenal sebagai orang yang sangat gigih dalam melakukan suatu pekerjaan. Suku Kalang tersebar di beberapa desa yang ada di Kendal. Diantaranya Poncorejo Gemuh, Montongsari Weleri, dan Sendang Dawuhan Weleri. Suku kalang masih menjaga betul tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh Suku Kalang yaitu tradisi Mendak. Mendak dalam Bahasa Jawa berarti memperingati. Tradisi Mendak Suku Kalang yaitu memperingati orang yang telah meninggal dunia dengan melaksanakan beberapa prosesi diantaranya Weh-Wehan Mangan, Sesangonan, dan Kalang Obong. Acara mendak biasanya dilaksanakan oleh Suku Kalang 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 3 tahun setelah orang meninggal dunia. Suku Kalang merupakan salah satu kekayaan sejarah yang ada di Kendal yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kendal.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk meriwayatkan segala sesuatu yang ada di Kendal. Dengan berbagai kesibukan, mereka menyisihkan waktu mereka. Waktu untuk bekerja, untuk tidur, bahkan waktu berkumpul dengan anak dan istri, mereka ikhlaskan untuk terus menjaga kekayaan kota ini. Tak ada imbalan apapun dari itu semua. Tak jarang mereka mengorbankan uang pribadinya untuk keperluan tersebut yang terkadang tidak sedikit. Dalam hidup mereka mempunyai prinsip Sugih tanpa Bandha (Kaya tanpa Materi). Hal itu menjadi tamparan keras bagi sebagian orang di kota ini yang berkontribusi untuk Kendal hanya untuk mendapatkan uang ataupun kekuasaan. Tapi ya orang yang menggadaikan cintanya kepada Kendal memang harus ditampar, bahkan lebih.

Di usianya yang ke-413, Kendal pantas berterimakasih kepada seniman dan komunitas yang ada di Kendal. Bahkan mereka layak diberi penghargaan. Dibalik ramainya beberapa orang yang berebut proyek untuk pemilu yang sebentar lagi bergulir, mereka secara konsisten menjaga jatidiri dan kekayaan Kendal dengan tangan dingin dan ketulusan hati mereka.

Mencintai Kendal adalah bagaimana kita mengikhlaskan hati, pikiran, dan raga kita untuk memajukan kota ini. Sama seperti Tumenggung Bahurekso dulu yang mengikhlaskan segala yang ia punya untuk berperang melawan tentara VOC. Semangat dan ketulusan hati Bahurekso harus mampu diteladani oleh seluruh elemen yang ada di Kendal. Baik itu anak kecil, pemuda maupun orang tua. Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mempersembahkan sesuatu untuk kota yang telah melahirkan dan membesarkan kita ini.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk menjaga kekayaan di Kendal dan mencintai Kendal dengan sepenuh hati tanpa imbalan apapun. Lalu kita kapan akan berjuang bersama mereka?

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan dan mempunyai hobi berkesenian. Berasal dari pinggiran Kota Kendal. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”