Breaking News

Jumat, 07 September 2018

Jurasik #24 (Bedah Buku Puisi Jejak Tubuh karya Tegsa Teguh Satriyo)

Jurasik #24

Bedah Buku Puisi Jejak Tubuh karya Tegsa Teguh Satriyo



Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal (BKR) kembali ramai dihadiri oleh para seniman dan masyarakat umum pada Jumat 7 September 2018. Pasalnya di hari tersebut acara diskusi mingguan Jurasik kembali dilaksanakan. Meski angin di malam itu bertiup sedikit kencang, namun tak menyurutkan antusiasme para hadirin di halaman gedung belakang GOR Bahurekso Kendal tersebut.

Jurasik yang ke-24 ini menghadirkan narasumber seorang penulis buku puisi "Jejak Tubuh" yang bernama Tegsa Teguh Satriyo. Selain Tegsa, acara Jurasik juga menampilkan grup band akustik, BKR n' Friends.

Acara yang berlangsung selepas isya' tersebut dibuka dengan pembacaan puisi yang ada di buku Jejak Tubuh oleh para hadirin. Secara bergantian mereka mengapresiasi karya Tegsa tersebut dengan membacakan puisi-puisinya didepan panggung Jurasik.

Setelah puisi Tegsa selesai dibacakan, hadirin langsung di suguhi penampilan dari BKR n' Friends. Membawakan beberapa lagu dari grup band Padi, penampilan grup band yang bermukim di Gedung BKR tersebut mampu menghibur para hadirin.
Foto: Tegsa membaca puisinya diiringi oleh BKR n' Friends
Tegsa merupakan guru di SMA Kesatrian 2 Semarang. Kecintaannya terhadap dunia seni dimulainya sejak kelas 2 SMA. "Saya dulu berawal dari teater, segala sesuatu tentang teater saya suka dan sudah pernah saya jalani. Mulai dari aktor, penulis naskah, hingga menjadi sutradara" kata Tegsa.

Kegemaran menulis puisinya berawal dari sifat kepengenannya dalam berbagai hal. Yang dulunya hanya menulis naskah drama, kemudian merambah ke cerpen dan puisi. "Saya itu orangnya mudah kepengen dalam berbagai hal. Saya dulu lihat teman menulis puisi, jadi pengen nulis juga. Alhamdulillah berkat kepengenan saya itu kini sudah menjadi buku Jejak Tubuh ini" imbuh pria kelahiran Pati tersebut.
Dalam sesi diskusi, hadirin mengungkapkan kekagumannya terhadap puisi Tegsa. Dalam beberapa puisi yang terdapat di buku Jejak Tubuh menampilkan sisi kereligiusan seorang Tegsa. Namun ada juga yang memberikan masukan kepada Tegsa.

Kekaguman terhadap Tegsa salah satunya disampaikan oleh Ketua Lesbumi Kendal, Muslichin. Menurutnya gaya bahasa yang digunakan dalam buku puisi tersebut menggambarkan perasaan Tegsa yang religius. "Saya cukup tertarik dengan buku Jejak Langkah ini, karena beberapa mengandung makna religius yang cukup bagus. Namun tentunya, Tegsa perlu meningkatkan skill membuat puisinya lagi mengingat dia masih muda. Saya yakin di buku-buku berikutnya Tegsa akan jauh lebih baik" ungkap Muslichin, yang juga seorang guru SMA N 2 Kendal.
 
Foto: suasana diskusi

Selepas diskusi tentang buku Jejak Tubuh selesai, acara kembali dihibur oleh BKR n' Friends. Para hadirin secara sukarela menyumbangkan kebolehannya dalam bernyanyi. Karena seperti biasa, panggung Jurasik terbuka bagi siapa saja yang ingin menampilkannya karyanya. Jurasik akan kembali hadir pada Jumat yang akan datang. ***(JRS/CDR)
Read more ...

Senin, 03 September 2018

Puisi-Puisi Setia Naka Andrian

http://www.litera.co.id/2018/09/01/puisi-puisi-setia-naka-andrian-2/
Read more ...

Minggu, 12 Agustus 2018

Hari Jadi Kendal ke-413, Menjaga Kendal Sepenuh Hati


Oleh Chadori Ichsan


413 tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi sebuah kota untuk memajukan daerahnya. Kendal telah mengalami beberapa perubahan seiring dengan peradaban zaman. Tata kota, pendidikan, kesenian, dan segala sesuatunya telah berbeda. Contoh kecil saja dulu rata-rata pendidikan masyarakat di Kendal mungkin hanya sampai pada SD maupun SMP saja. Namun saat ini banyak pelajar di Kendal yang sampai pada jenjang Perguruan Tinggi, bahkan banyak pula yang kuliah di Luar Negeri. Adanya pergeseran ini tentunya menimbulkan dampak yang postif dan negatif bagi Kendal.

Sekilas tentang kondisi sosiologis, masyarakat Kendal sebagian besar adalah masyarakat pedesaan yang masih memegang erat kearifan lokalnya. Entah itu dalam hal agama maupun kehidupan sosialnya. Diantaranya yaitu beberapa tradisi yang masih dilakukan oleh masyarakat Kendal yaitu Ziarah ke Makam Wali, Weh-Wehan, Dugderan, Dundunan/Mudun Lemah, Syawalan dan masih banyak lagi. Dalam konteks komunikasi, masyarakat Kendal memiliki ciri khas sendiri yaitu dengan tambahan kosakata Ra dan Meni/Neni. Misalnya wingi awake dewe dolan ning Kendal, kotane apik neni ra (Kemarin kita main ke Kendal, kotanya bagus sekali kan). Selain Ra dan Meni/Neni ada juga kosakata ciri khas Kendal yaitu dengan menambahkan suku kata terakhir untuk menegaskan suatu hal. Misalnya Wong Kendal ki sangar-ngar, Kendal ki dalane apik-pik (Orang Kendal itu hebat sekali. Kendal itu jalannya sangat bagus).

Dalam hal perindustrian, kini Kendal sudah mulai dilirik oleh investor-investor baik dalam maupun luar negeri. Bahkan beberapa investor sudah menanamkan sahamnya di Kendal. Contoh terbaru adalah PT Jababeka Tbk dan skala kota asal Singapura, Sembcorp Development Indonesia Ltd yang telah membangun Kawasan Industri Kendal (KIK) dengan porsi kepemilikan saham 51:49 persen. KIK rencanannya akan menyerap sebanyak 500.000 tenaga kerja. Letak KIK sangat strategis, berada di Jalur Lingkar Kaliwungu Kendal, akses dari KIK ke Pelabuhan Kendal dapat ditempuh dengan hanya sekitar 10 menit saja. Pun dengan jarak KIK dengan Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang yang dapat ditempuh hanya dengan waktu sekitar 1 jam. Maka tak heran, dengan luas 2700 ha2 KIK digadang-gadang akan menjadi Kawasan Industri terbesar di Jawa Tengah, bahkan akan menyaingi Kawasan Industri terbesar di Indonesia yang berada di Karawang Jawa Barat.

Berbicara soal masa depan, generasi muda Kendal sepertinya mempunyai tanggung jawab yang lebih dari yang lain. Dalam transisi menuju kiblat industri, banyak yang harus dipersiapkan oleh pemuda Kendal. KIK menjadi hembusan angin segar bagi seluruh masyarakat Kendal. Terutama bagi pemuda yang masih kesulitan mencari pekerjaan. Namun jangan sampai karena seringnya angin itu berhembus, masyarakat terlena dan angin itu hanya menjadi hembusan semata. Pemuda Kendal harus menyiapkan skill mereka dalam hal apapun untuk menyongsong kota industi Kendal. Tentu seorang manager akan memilih calon tenaga kerja yang skillnya bagus untuk dapat bekerja di perusahaannya.

Kendal sering disebut sebagai ruang antara karena posisi kota ini yang setengah-setengah. Maksudnya yaitu kota ini dikatakan maju belum sepenuhnya, karena masih kalah dari Semarang, dikatakan kota yang tertinggal juga tidak karena kota Kendal sudah mulai berbenah dalam berbagai hal. Tentunya kondisi ini menjadi perhatian bagi masyarakat Kendal khususnya para pemudanya. Generasi muda Kendal harus tahu apa yang harus mereka persiapkan. Mau dibawa kemana kota ini suatu saat nanti. Sebagai warga Kendal kita harus memiliki Kendal sepenuhnya. Tentu kita tak mau jika KIK nantinya terbangun megah, namun kita hanya dapat menikmati limbah dan asap industrinya saja. Pun dengan pariwisata yang ada di Kendal. Jangan sampai masyarakat lokal hanya menjadi tukang parkir, penjual es, dan pedagang asongan di objek wisatanya. Sementara hasil wisata masuk ke dalam kantong kapitalis.

Dibalik hingar-bingar menuju kota Industri, Kendal masih mempunyai seniman-seniman yang secara konsisten melahirkan karya-karyanya untuk kota ini. Salah satunya adalah acara diskusi Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang dinaungi oleh Jarak Dekat Art Production. Acara yang digelar pada hari jumat sore di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal tersebut secara istiqomah menjadi wadah diskusi bagi seluruh komunitas yang ada di Kendal setiap minggunya. Baik komunitas seni, motor, olahraga, dan lain-lain. Jurasik disambut baik oleh seniman dan komunitas baik di dalam maupun luar kota. Tidak ada pendanaan dari pihak manapun, baik Pemda maupun Sponsor. Segala sesuatu yang menunjang acara Jurasik diperoleh dari patungan secara sukarela dari peserta Jurasik melalui koin kreatif. Meskipun beberapa ada yang menyayangkan kondisi gedung BKR yang kurang layak pakai, tetapi hal tersebut disikapi dengan dingin oleh seniman Kendal. Bagi mereka, melahirkan karya demi karya merupakan tujuan utama mereka daripada harus meributkan soal tempat. Selain Jurasik, seniman dan komunitas yang ada di Kendal setiap tahunnya juga mengadakan acara Kendali Seni Kendal (KSK). Yaitu sebuah acara yang mempertemukan seluruh seniman dan komunitas yang ada di Kendal beserta karya-karya yang ditampilkannya. Tahun 2018 ini merupakan gelarannya yang ke-3 kalinya. Rencana KSK #3 akan digelar pada bulan Oktober di Alun-Alun Kabupaten Kendal.

Disamping menggelar Jurasik dan KSK, beberapa tahun terakhir ini para pegiat seni di Kendal mencoba mencari tahu dan mencoba memperkenalkan salah satu suku yang ada di Kabupaten Kendal, yaitu Suku Kalang yang nantinya juga akan diangkat menjadi tema dalam Kendali Seni Kendal #3. Dalam kisah sejarahnya, Suku Kalang memiliki beberapa versi. Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejarawan Kendal, Muslichin, Suku Kalang sudah ada sejak zaman kerajaan hindu dahulu. Suku ini berasal dari Srilangka dan sekitarnya. Suku Kalang ini ada kaitannya dengan legenda sejarah Sangkuriang. Dulu orang-orang Kalang dikenal sebagai orang yang sangat gigih dalam melakukan suatu pekerjaan. Suku Kalang tersebar di beberapa desa yang ada di Kendal. Diantaranya Poncorejo Gemuh, Montongsari Weleri, dan Sendang Dawuhan Weleri. Suku kalang masih menjaga betul tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang mereka secara turun temurun. Salah satu tradisi yang sering dilakukan oleh Suku Kalang yaitu tradisi Mendak. Mendak dalam Bahasa Jawa berarti memperingati. Tradisi Mendak Suku Kalang yaitu memperingati orang yang telah meninggal dunia dengan melaksanakan beberapa prosesi diantaranya Weh-Wehan Mangan, Sesangonan, dan Kalang Obong. Acara mendak biasanya dilaksanakan oleh Suku Kalang 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, dan 3 tahun setelah orang meninggal dunia. Suku Kalang merupakan salah satu kekayaan sejarah yang ada di Kendal yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Kendal.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk meriwayatkan segala sesuatu yang ada di Kendal. Dengan berbagai kesibukan, mereka menyisihkan waktu mereka. Waktu untuk bekerja, untuk tidur, bahkan waktu berkumpul dengan anak dan istri, mereka ikhlaskan untuk terus menjaga kekayaan kota ini. Tak ada imbalan apapun dari itu semua. Tak jarang mereka mengorbankan uang pribadinya untuk keperluan tersebut yang terkadang tidak sedikit. Dalam hidup mereka mempunyai prinsip Sugih tanpa Bandha (Kaya tanpa Materi). Hal itu menjadi tamparan keras bagi sebagian orang di kota ini yang berkontribusi untuk Kendal hanya untuk mendapatkan uang ataupun kekuasaan. Tapi ya orang yang menggadaikan cintanya kepada Kendal memang harus ditampar, bahkan lebih.

Di usianya yang ke-413, Kendal pantas berterimakasih kepada seniman dan komunitas yang ada di Kendal. Bahkan mereka layak diberi penghargaan. Dibalik ramainya beberapa orang yang berebut proyek untuk pemilu yang sebentar lagi bergulir, mereka secara konsisten menjaga jatidiri dan kekayaan Kendal dengan tangan dingin dan ketulusan hati mereka.

Mencintai Kendal adalah bagaimana kita mengikhlaskan hati, pikiran, dan raga kita untuk memajukan kota ini. Sama seperti Tumenggung Bahurekso dulu yang mengikhlaskan segala yang ia punya untuk berperang melawan tentara VOC. Semangat dan ketulusan hati Bahurekso harus mampu diteladani oleh seluruh elemen yang ada di Kendal. Baik itu anak kecil, pemuda maupun orang tua. Kita semua mempunyai tanggung jawab untuk mempersembahkan sesuatu untuk kota yang telah melahirkan dan membesarkan kita ini.

Seniman dan komunitas di Kendal sudah memulai untuk menjaga kekayaan di Kendal dan mencintai Kendal dengan sepenuh hati tanpa imbalan apapun. Lalu kita kapan akan berjuang bersama mereka?

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan dan mempunyai hobi berkesenian. Berasal dari pinggiran Kota Kendal. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”





Read more ...

Rabu, 08 Agustus 2018

Jurasik #20 (Suket Teki, PST Netra, Teater Soca, dan Peduli Lombok)


Jurasik #20

Suket Teki, PST Netra, Teater Soca, dan Peduli Lombok





JURASIK #20 bertepatan pada Jumat, 10 Agustus 2018. Seperti biasa, Jurasik (Jumat Sore Asik) tetap bergulir dan tetap mendatangkan pelaku-pelaku kreatif, asik dan sedikit rumpi menarik nan menggemaskan setiap minggunya. Berbagai pelaku seni yang singgah kali ini dari komunitas pecinta alam Suket Teki, tari PST Netra, Teater Soca dan kegiatan sosial yang dilakukan kawan-kawan BKR Peduli Lombok.

Komunitas pecinta alam Suket Teki mengawali obrolan setelah dibuka oleh grup musik BKR N' Friends. Duo MC kocak (Ulin & Sambas) bentukan dari Balai Kesenian Remaja Kendal menyapa hangat para pelaku seni yang hadir. Lagu pembuka dari Banda Neira berjudul Yang Patah Tumbuh Yang Hilang Berganti menjadi pemantik semangat para hadirin sekaligus menjadi prolog obrolan mengenai alam bersama komunitas pecinta alam Suket Teki.

Ulin sebagai moderator mencoba memantik beberapa obrolan mengenai alam dan kecintaan mereka terhadapnya. "Kami disatukan melalui kesukaan yang sama, hobi sebagai pecinta alam," tegas Fakhrur Ramadhani selaku penggagas komunitas Suket Teki. Rokhim menambahkan, "berawal dari hobi naik gunung, akhirnya terbentuk komunitas Suket Teki." Obrolan semakin menarik dengan dukungan  instalasi dari panitia memasang kain perca warna-warni yang bergelantungan layaknya chain flag pada acara pesta. Ibarat pelangi ketika kain-kain perca dibenturkan dengan cahaya lampu spotlight.

Sesi tanya-jawab dilontarkan moderator kepada para pelaku seni yang hadir untuk menanggapi beberapa hal terkait Suket Teki. Menurut Tanjung alim Sucahya, "Kebanyakan pecinta alam berpikir ke hulu daripada memikirkan hilir". Hal ini ditanggapi oleh Setia Naka Andrian mengenai banyak sungai di bawah yang berpotensi untuk dijadikan laku aktivitas yang elok, misalnya 'Kali Aji Festival' atau semacamnya. "Jika dijadikan festival (sungai), warga dengan sendirinya akan sadar untuk tidak membuang sampah di sungai daripada kita gencar membuat baliho besar-besaran tentang kelestarian lingkungan khusunya sungai," tutur Setia Naka Andrian yang kerap disapa Naka.

Sesi kedua dilanjutkan oleh komunitas tari dari PST Netra. Avita sebagai penari yang mengawali diskusi, melekuk tubuhnya dengan balutan lagu India yang di eksplor dengan gerakan selendang ala PST Netra. Menurut Etika Tiara selaku ketua komunitas PST Netra, "Avita mencoba mengeksplor tarian India dengan cara dia sendiri, permainan selendang dan lekuk tubuh mendominasi tariannya. Dibubuhi beberapa gerakan tangan ala tari India". Evita sendiri mengaku baru saja bergabung dengan komunitas. Sedikit canggung dan kurang totalitas ketika perform.

Sesi ketiga, yakni komunitas teater dari SMK Negeri 4 Kendal (Teater Soca) mementaskan deklamasi puisi yang di musikalisasikan. Dua puisi yang berlatar belakang kemelutnya politik di Indonesia dibawakan dengan tepat. Suasana getir, marah dan sendu komplit melengkapi musikalisasi mereka. Angin malam yang tidak seperti biasanya menambah suasana menjadi punya ruh dalam perform mereka. Tempat di teras Balai Kesenian Remaja, lampu sorot, kain perca dan instrumen mereka sekan menjadi satu. Tepuk tangan dari para pelaku seni menambah kesuksesan mereka dalam pertunjukannya.

Kemudian setelah telinga, mata dan jiwa digetirkan oleh Teater Soca, obrolan dilanjutkan dengan kegiatan sosial yang dilakukan pelaku seni dari BKR Peduli Lombok. Budiawan sebagai pemrakarsa acara, mencoba menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini murni dilakukan untuk saudara-saudara yang tertimpa musibah di Lombok, Nusa tenggara Barat. "Saat ini banyak saudara kita di Lombok yang kehilangan keluarga, rumah dan lainnya. TV sering menyiarkan berita duka, kitapun terketuk hatinya untuk melakukan hal yang bisa meringankan beban mereka, salahsatunya membantu penggalangan dana." Ungkap Budiawan. Kegiatan yang dilakukan dengan cara ngamen, musikalisasi puisi, jualan buku dan beberapa lukisan yang dijual, sepenuhnya untuk didonasikan. Acara diadakan sejak tanggal 7 hingga 11 agustus di seputaran alun-alun Kendal. Dadang Sjarifudin selaku panitia acara menambahkan, "Berapapun nominal yang disumbangkan, sangat berharga untuk mereka (korban bencana Lombok)." (JRSK/SBS)




Read more ...

BKR Kendal Peduli Lombok


BKR Kendal Peduli Lombok



BKR Kendal Peduli Lombok merupakan sebuah laku kecil yang dilakukan beberapa seniman dan pegiat komunitas di Kabupaten Kendal. Mereka, yang terbiasa berproses kreatif di sebuah gedung kecil di belakang GOR Bahurekso Kendal yang bernama Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Oleh sebab itu, mereka bersepakat untuk memberi nama aktivitas amalnya dengan nama BKR Kendal Peduli Lombok.

“Selama 3 hari, 8 hingga 10 Agustus, kami menyelenggarakan aktivitas ini, ngamen ini, untuk menggalang dana guna disumbangkan kepada saudara kita yang sedang tertimpa musibah di Lombok, NTB. Selain pementasan-pementasan seni dari para seniman, komunitas dan masyarakat umum, kami juga menyediakan lapak untuk berjualan buku, lukisan, dan karya seni lainnya untuk dijual dan sepenuhnya digunakan untuk disumbangkan kepada korban bencana di Lombok,” tutur Budiawan, penanggung jawab kegiatan,”

Ditambahkan oleh Budiawan, seorang ustaz muda di Pondok Pesantren Manba’ul Hikmah tersebut menegaskan bahwasanya dana yang terkumpul nanti akan disumbangkan dengan ditransfer langsung kepada salah seorang kawan seniman dari Kendal yang kebetulan telah tinggal di Lombok, dan ia juga kini tengah menjadi relawan. Ia adalah Paox Iben, yang dalam beberapa waktu lalu pun sempat menyambangi BKR Kendal dan berdiskusi panjang lebar tentang seni dan budaya di forum Jurasik (Jumat Sore Asik).

“Hari pertama kami gelar panggung kecil-kecilan di alun-alun mini Kendal, alhamdulillah mampu memperoleh sekitar 500 ribu lebih. Kemudian hari kedua, di Taman Garuda Kendal, donasi yang terkumpulkan mencapai satu juta lebih. Alhamdulillah, saya kira ini akan terus bertambah, ketika nanti kami semakin akan gencarkan lagi promosi, termasuk lelang karya dan penjualan karya-karya yang disumbangkan dari para seniman. Tesmasuk saat acara Jurasik pada hari Jumat ini, akan kami gencarkan,” pungkas Budiawan. (JD/SNA)

Read more ...

Lesbumi Kendal Luncurkan Buku Karya Seniman dan Santri


Lesbumi Kendal Luncurkan Buku Karya Seniman dan Santri


Untuk kali pertamanya Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PCNU Kendal, Jawa Tengah, menerbitkan sebuah buku. Tidak tanggung-tanggung, kali pertama ini langsung dua buku sekaligus diluncurkan. Buku tersebut di antaranya, buku kumpulan esai berjudul “Ramadan di Kampung Halaman” yang ditulis oleh 12 penulis asal Kendal dan buku kumpulan pantun “Randu Alas” karya Muhammad Mahzum, santri Al-Itqon Patebon Kendal. Kedua buku tersebut diluncurkan secara resmi oleh Ketua PCNU Kab. Kendal, Bapak KH. Muhammad Danial Royyan pada Minggu, 5 Agustus 2018 di Gedung NU Kab. Kendal.

Penerbitan kedua buku yang apik dari Lesbumi PCNU Kendal ini sampul buku Randu Alas dikerjakan oleh Nalendra Ajib Afisaputra, santri kelas pertama MTs dari Pondok Pesantren Al-Itqon, serta sampul buku Ramadan di Kampung Halaman dikerjakan oleh Djoko Susilo, seorang kartunis Suara Merdeka. Dalam diksusi yang berlangsung, didapuk beberapa pembicara, di antaranya, Muslichin (Ketua Lesbumi PCNU Kendal), dan Kusfitria Marstyasih (Ketua Koruki Demak). Selain diskusi buku, juga diawali dengan pemutaran film pendek berjudul Keduwung Mburi karya MA NU 3 Sunan Kantong Kaliwungu Kendal, serta penampilan musikalisasi puisi dari Teater Dipas SMA Ma’arif NU 04 Kangkung yang berkolaborasi dengan Dadang Syarifudin (Gitaris BKR n’ Friends).

“Penerbitan buku ini merupakan salah satu program kerja dari Lesbumi Kendal. Sementara ini, kami berfokus pada tiga program, yakni penerbitan buku, pementasan seni, dan diskusi-diskusi seni budaya. Nah, kali pertama peluncuran buku, alhamdulillah langsung meluncurkan dua buku sekaligus. Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya, pengurus, dan tentu bagi para ulama NU di Kabupaten Kendal,” ungkap Muslichin, Ketua Lesbumi PCNU Kendal, seorang guru sejarah SMA N 2 Kendal.

Ditambahkan oleh Muslichin, bahwasanya penerbitan ini diselenggarakan secara sederhana saja. Awalnya tidak disengaja, hanya karena penyelenggaraan sebuah diskusi tentang Ramadan dan Kampung Halaman. Lalu akhirnya, di antara peserta diskusi berkeinginan bahwa apa saja yang telah ditemukan dan diobrolkan panjang-lebar dari diskusi tidak berhenti begitu saja, hanya menyisakan foto bersama semata. Namun, haruslah ada dokumentasi yang utuh dan kuat terkait segala hal yang diobrolkan dalam diskusi. Maka akhirnya, dibukukanlah segala hal terkait tema yang telah didiskusikan sebelumnya.

“Untuk kumpulan pantun Randu Alas karya Muhammad Mahzum, kami bekerjasama dengan Komunitas Rumah Kita (KORUKI) Demak, salah satu komunitas yang serius menggerakkan literasi. Kebetulan, orangtua dari pemilik komunitas tersebut memiliki anak yang mondok di pesantren Al-Itqon, kebetulan yang melukis sampul buku pantun tersebut. Akhirnya klop, sama-sama berproses untuk menggerakkan aktivitas nyata dalam jagat literasi. Khususnya yang saat ini berfokus menerbitkan karya-karya dari seniman yang berada di lingkungan pesantren,” tambah Muslichin.

Dalam buku kumpulan esai “Ramadan di Kampung Halaman” berisi 12 judul esai dari 12 penulis, di antaranya berjudul Aku dan Mercon Bumbung (Heri CS), Jalan-Jalan ke Gereja, Ngabuburit di Klenteng (Subhan Abidin), Kampung dan Ingatan Masa Kecil (Muslichin), Mangan Iwak Pitik (Muhamad Kundarto), Menuai Berkah Bulan Suci di Kota Santri (Muhammad Hilal Ibnu Hasan), Ramadan dan Ingatan Masa Kecil (M. Lukluk Atsmara Anjaina), Ramadan di Kampung Halaman (Setia Naka Andrian), Ramadan di Kampung Halaman Orang (M. Yusril Mirza), Ramadan dan Jatidiri Islam Kendal (Chadori Ichsan), Serba-Serbi Ramadan di Kampung (Najmah Munawaroh), Tradisi Silaturahmi yang Nyaris Terganti (Ermin Siti Nurcholis), dan Kampung Tani dan Pesantren Tanpa Papan Nama (Agus Susanto).

“Selepas penerbitan kedua buku ini, berikutnya Lesbumi Kendal akan bergerak lagi untuk menunaikan beberapa penerbitan karya. Di antaranya buku kumpulan puisi, anekdot, cerita pendek, profil kiai, profil pesantren, dan beberapa penerbitan lain yang kiranya akan menjadi sumbangan dokumentasi sejarah tersendiri bagi khalayak,” tutur Bahrul Ulum A. Malik, salah seorang motor penggerak Lesbumi PCNU Kendal yang juga aktif berproses sastra di Pelataran Sastra Kaliwungu.

Ditambahkan pula oleh Bahrul, dalam penerbitan-penerbitan karya tersebut, kelak juga akan diimbangi dengan ajang perlombaan karya, baik bagi pelajar, mahasiswa atau masuarakat umum. “Sehingga nantinya, beberapa karya yang dibukukan juga telah melewati seleksi ketat dalam sebuah perlombaan. Sehingga secara tidak langsung, upaya kuantitas karya juga akan berimbang dengan kualitas sebuah karya,” pungkas Bahrul Ulum A. Malik, seorang penyair yang kini juga sedang bersiap-siap menerbitkan buku kumpulan puisi tunggal. (JD/SNA)
Read more ...

Minggu, 05 Agustus 2018

Jurasik #19 (Laku Kreatif Mahasiswa DKV UNISS)


Jurasik #19

Laku Kreatif Mahasiswa DKV UNISS



Jumat, 3 Agustus 2018  merupakan gelaran Jurasik (Jumat Sore Asik) ke-19. Acara yang bertempat di Halaman Gedung Balai Kesenian Remaja(BKR) Kendal tersebut secara konsisten merespon laku kreatif para pegiat seni dan komunitas yang ada di Kendal. Pada Jurasik #19 ini menghadirkan narasumber dari Mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Selamat Sri (UNISS) Kendal.

Pukul 20.00 WIB acara dibuka oleh penampilan BKR n' Friends yang selalu menghibur audiens melalui sajian lagu-lagu romantis yang dibawakannya. Tak jarang pula audiens juga turut menyumbangkan kebolehannya dalam bernyanyi maupun memainkan alat musik.

Setelah itu dilanjutkan dengan acara inti yaitu diskusi. Pembahasan diawali dengan kegiatan pameran yang diselenggarakan oleh Mahasiswa DKV UNISS setiap satu semesternya yang kebetulan pada semester ini diselenggarakan di Gedung BKR.

Dalam pameran ke-4 kalinya ini DKV UNISS menyuguhkan eksebisi dan wokshop yang dihibur dengan penampilan musik akustik. Pameran kali ini bertemakan "Wang Sinawang" yang secara  dapat diartikan saling melihat, refrensi, intropeksi diri juga ajang saling apresiasi sesama seniman. Selain untuk pameran, kegiatan para Mahasiswa DKV UNISS ini sekaligus untuk memenuhi tugas mata kuliah mereka.

"Dalam hal melukis, yang paling penting melihat sebuah proses menuju progress" ungkap Lutfi, Ketua Pameran DKV UNISS tersebut.

"Mungkin, pentingnya pengalaman dapat menjadi bumbu khusus karena membuat pameran bukanlah hal sepele, perlu kerjasama tim yang serius" sambung pria yang akrab disapa Ucil tersebut.
 
foto: diskusi berlangsung dipimpin oleh moderator.
Ditanya soal apa yang akan mereka lakukan setelah lulus dari Jurusan DKV, mereka optimis akan terus melahirkan karya-karya dibidang Komunikasi Visual. "Setelah ini ya tentu kami akan terus mendalami dunia desain kemudian kami akan mengembangkannya. Percuma saja jika mahasiswa DKV setelah lulus kok berhenti mendalami dunia desain" kata Iqbal TM, yang juga merupakan Wakil Ketua Pameran.
 
foto: karya Mahasiswa DKV UNISS
Dalam diskusi tersebut juga ditampilkan beberapa karya dari Mahasiswa DKV UNISS. Salah satunya adalah lukisan pada totebag. Acara pameran akan dilaksanakan kembali oleh Mahasawa DKV UNISS pada semester-semester berikutnya. Di penghujung acara, Jurasik ditutup oleh penampilan kembali dari BKR n' Friends yang berkolaborasi dengan audiens yang hadir. ***(JRS/CMT)



Read more ...

Jumat, 27 Juli 2018

Jurasik #18 (Stand Up Indo Kendal Open Mic di Jurasik)

Jurasik #18

Stand Up Indo Kendal Open Mic di Jurasik




Jurasik kembali hadir menyapa seluruh pegiat seni yang ada di Kendal. Acara tersebut digelar di Halaman Gedung Balai Kesenian (BKR) Kendal Jumat 27 Juli 2018. Ini merupakan gelaran ke-18 kalinya sejak pertama kali Jurasik dilaksanakan beberapa bulan yang lalu. Pada Jurasik #18 ini menghadirkan Komunitas Stand Up Indo Kendal. “Alhamdulillah Jurasik konsisten untuk terus menjadi wadah diskusi bagi seniman maupun komunitas apa saja yang ada di Kendal. Kali ini kita menghadirkan Stand Up Indo Kendal” kata Tanjung Alim Sucahya, koordinator acara Jurasik.

Acara diawali dengan penampilan musik dari BKR n’ Friends. Grup musik yang terbentuk dari sekelompok seniman yang menghuni gedung BKR tersebut membawakan beberapa lagu untuk menghibur para peserta yang telah memadati halaman gedung. Selain penampilan BKR n’ Friends, beberapa peserta yang hadir juga ikut dengan menampilkan beberapa karya puisi.


Stand Up Indo Kendal terbentuk pada tanggal 29 Desember 2014 silam. Awal mula komunitas tersebut terbentuk yaitu dari grup media sosial. “Kami pertama kali terbentuk itu sebenarnya tidak sengaja. Jadi ada orang yang membuat grup Facebook bernama Stand Up Kendal. Kemudian kita saling bertukar materi disitu” Kata Ade Prasetyo, salah satu pendiri Komunitas Stand Up Indo Kendal. “Bermula dari saling tukar materi tersebut setelah itu kita mengadakan kumpul bareng untuk kemudian membuat komunitas Stand Up Indo Kendal ini” Imbuh komika yang sering dipanggil Ade Kentos tersebut.

Dalam diskusi tersebut mereka juga menyampaikan bahwa dalam Stand Up Comedy, materi yang dibawakan harus mempunyai batasan-batasan tertentu. “Oh iya mas, saat kita perform juga tidak asal-asalan ngomong. Harus ada batasan. Contohnya kita tidak boleh membawakan materi yang berbau SARA, menjudge fisik seseorang yang ia tak bisa rubah, dll” kata M Nur Jauhan, Ketua Stand Up Comedy Kendal.


Dalam promosinya, Stand Up Indo Kendal juga pernah Open Mic di acara sekolah-sekolah yang ada di Kabupaten Kendal. Selain itu mereka juga pernah menggelar acara bertajuk “Roasting Bupati” dengan menghadirkan Bupati Kendal, dr Mirna Annisa, langsung saat hari ulang tahun mereka yang ke-3. “Tidak hanya perform mas, tapi kita juga sekalian promosi tentang komunitas ini. Kami pernah ke sekolah-sekolah dan setiap hari ulang tahun kami mengadakan open mic. Terakhir kita mengadakan open mic dengan menghadirkan Bupati Kendal” Kata Fatih ‘Ainal Yaqin, Admin Instagram Stand Up Indo Kendal.

Setelah diskusi, Stand Up Indo Kendal juga menampilkan kebolehannya dalam Stand Up Comedy. Beberapa komika sukses menghibur peserta yang hadir pada Jurasik malam itu. ***(JRS/CDR)


Read more ...

Sabtu, 21 Juli 2018

Jurasik #17 (Ngobrol Sastra bareng PSK)


Jurasik #17

Ngobrol Sastra Bareng PSK




17 kali sudah acara Jurasik (Jumat Sore Asik) menyapa para pegiat seni yang ada di Kabupaten Kendal dan sekitarnya. Malam itu Jumat 21 Juli 2018 Gedung BKR kembali ramai kedatangan orang-orang yang akan mengikuti acara Jurasik. Pada kiprahnya kali ini Jurasik mengangkat tema "Ngobrol Sastra" dengan menghadirkan narasumber dari Komunitas Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK) dan wartawan senior Slamet Priyatin.

Sekitaran pukul 19.00 WIB para hadirin mulai memadati tiap sudut Gedung BKR. Dengan kopi dan teh yang telah disediakan, mereka saling tegur sapa sebelum acara inti diskusi dimulai. Tak hanya dari Kendal, pada Jurasik #17 ini juga kedatangan 2 tamu dari Kota Pahlawan, Surabaya.

Acara dimulai dengan beberapa penampilan musik dan pembacaan puisi. Salah satu tamu yang hadir asal Surabaya, Cak Ndut, juga turut menyumbangkan kebolehanya dalam hal tarik suara di Jurasik malam itu. Semakin malam para hadirin yang datang semakin memadati gedung belakang GOR Kendal tersebut.

Selesai para hadirin menampilkan karya-karyanya, diskusipun dimulai. PSK merupakan salah satu komunitas yang bermukim di Kecamatan Kaliwungu Kendal yang bergerak dalam bidang literasi. "PSK berawal dari perkumpulan beberapa orang yg giat dalam bidang literasi. Kemudian kami membentuk komunitas satra yang kami namai Pelataran Sastra Kaliwungu. Kami mengambil kata Pelataran karena PSK ini menjadi latar atau wadah bagi siapa saja yang ingin belajar dalam hal literasi" Kata Presiden PSK, Bahrul Ulum Amalik.

"Dalam kiprah kami, kami telah mengadakan beberapa kegiatan berkaitan dengan literasi. Diantaranya Ngopi Sastra, Lomba, dan yang terbaru ini Partikelir" imbuh Ulum, yang juga salah satu pendiri PSK tersebut.
 
Foto: Peserta diskusi mendengarkan materi dengan khidmad.
PSK tidak hanya diisi oleh pegiat sastra saja. Siapapun boleh gabung untuk belajar sastra. Salah satu anggota PSK yang bukan dari sastra adalah Djoko Susilo. "Saya sebenernya bukan orang sastra. Namun karena saya rasa sastra itu dibutuhkan oleh segala bidang kesenian, maka saya ikut di PSK ini" kata seniman karikatur tersebut.

Selain PSK, kali ini jurasik mendatangkan salah satu wartawan senior kompas yaitu Slamet Priyatin. Dalam diskusinya ia menyampaikan soal geliat sastra. "Saya dari dulu sudah bergerak dalam seni khususnya sastra. Untuk sastra di Kendal saya bersama teman-teman dulu pernah membuat komunitas yaitu Kelompok Kantong Budaya Kendal. Kami pernah mengadakan beberapa kegiatan yaitu Pentas Keliling, Kelompok Wayang Koplak, maupun diskusi kecil-kecilan tentang sastra. Ya hampir seperti Jurasik ini" kata seniman yang telah lama malang melintang di dunia jurnalistik tersebut.

Ditanya soal kaidah-kaidah dalam sastra, wartawan senior tersebut menjawab penulis tidak harus selalu terpaku dalam kaidah. "Sastra itu sebenarnya bebas. Tapi lebih enak di dengar ya memang harus mengikuti rimanya" imbuhnya.

Acara diskusi tentang sastra tersebut ditutup oleh penampilan musik dari BKR n' Friends. Beberapa hadirin juga secara bergantian menampilkan karyanya diiringi kelompok musik yang bermukim di BKR tersebut. Setelah acara selesai, beberapa hadirin tidak langsung pulang kerumah. Mereka kembali berdiskusi secara santai sembari menikmati seduhan kopi. Acara Jurasik akan kembali hadir pada setiap Jumat sore. ***(JRS/CDR)
Read more ...

Rabu, 11 Juli 2018

Jurasik #16 (Ngobrol tentang Musik, Ruang, dan Sekitarnya, Musisi Kendal Padati Gedung BKR)


Jurasik #16

Ngobrol tentang Musik, Ruang, dan Sekitarnya, Musisi Kendal Padati BKR



Jumat malam, 13 Juli 2018 menjadi malam yang panjang bagi para pegiat musik yang ada di Kendal. Pasalnya di Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal, Jurasik (Jumat, Sore, Asik) mengadakan diskusi dengan tajuk "Musik, Ruang, dan Sekitarnya". Acara Jurasik yang ke-16 ini merupakan follow up dari kegiatan Musik Berseni-Seni yang terselenggara beberapa waktu lalu.

Pada gelaran ke-16 ini, Jurasik menghadirkan pembicara yang sudah lama malang melintang di dunia permusikan Kendal, yaitu Qyi Matricide (Musisi, Penggiat Event Musik), Adi Wibowo (Owner Studio Musik 10), Dadang Moe (Musisi, Penggiat Seni), Farid Musthofa (Owner Studio Musik Selecta), Abdullah Khanif (Musisi, Penggiat Seni) dan juga Sambas (Musisi, Penggiat Seni) sebagai moderator. Acara tersebut juga diisi oleh penampilan spesial dari Band The Gstring dan Teater Soca SMK N 4 Kendal.

Acara dimulai dengan penampilan Teater Soca Kendal. Teater asal SMK N 4 Kendal tersebut membawakan naskah berjudul "Tentang Seorang yang Membunuh Keadilan di Penjaga Konstitusi" karya Remy Sylado. Penampilan di Jurasik ini juga merupakan persiapan mereka untuk mengikuti lomba teater di Solo, 21-22 Juli 2018 besok. Usai penampilan mereka juga membuka ruang untuk berdiskusi, meminta kritik maupun saran dari hadirin yang datang.

(foto: salah satu aktor teater soca sedang memerankan tokoh pejabat yang korupsi)
Acara dilanjutkan dengan penampilan band musik asal Weleri, The Gstring. Band bergenre Folk tersebut mampu menarik perhatian hadirin yang datang dengan alunan musiknya. The Gstring juga merupakan salah satu band yang ikut serta dalam kegiatan Musik Berseni-Seni.

Setelah penampilan Teater Soca Kendal dan The Gstring, acara diskusi dimulai. Menurut salah satu Narasumber, gelaran (event) musik yang ada di Kendal beberapa tahun terakhir ini mengalami sedikit penurunan yang disebabkan oleh kurang konsistennya para musisi dan pegiat event. "Ya akhir-akhir ini di Kendal sebuah event musik sudah jarang ditemukan. Meskipun tetap ada, namun tak sesering dulu. Dulu dalam sepekan saja kita dapat menemukan beberapa event musik" Kata Qyi Matricide, salah satu pegiat event musik di Kendal yang juga musisi beraliran Metal. "Sebenarnya ini bukan salah pihak kepolisian maupun dinas terkait yang tidak memberikan ruang untuk bermusik. Namun terkadang ketika diberi izin, kita tidak konsisten menjaga kondisifitas acara. Atau ulah beberapa oknum saja yang imbasnya kepada kita semua" Imbuhnya.

(foto: narasumber menghibur penonton yang hadir di tengah-tengah diskusi)
Hal senada juga disampaikan oleh Farid Musthofa. Menurutnya, kurangnya geliat musik di Kendal ini dapat dilihat juga dari semakin sedikitnya anak sekolah yang latihan musik. "Dulu semasa saya sekolah, kegiatan musik yang ada di sekolah-sekolah masih banyak. Kalau sekarang sih sedikit mulai berkurang" Kata musisi yang juga owner Studio Musik Selecta tersebut.

Namun meski begitu, mereka berdua dan narasumber yang lain optimis bahwa dunia musik yang ada di Kendal ini akan kembali ramai seperti dulu. Apalagi melihat band-band baru yang mempunyai potensi yang bagus.

Setelah usai diskusi, The Gstring kembali menyapa hadirin dengan lagu-lagu yang dibawakanya. Begitu pula dengan BKR n' Friends yang menyanyikan beberapa lagu dari Naiff dan Anji. Seperti biasa, panggung Jurasik terbuka oleh siapa saja yang ingin menampilkan karyanya. ***(JRS/CDR)



Read more ...

Selasa, 10 Juli 2018

Suatu Hari di Sanggar Kejeling

Suatu Hari di Sanggar Kejeling
Oleh Chadori Ichsan


                Sekilas tak ada yang berbeda pada suasana Kota Kendal siang itu. Langit cerah disertai awan dan udara yang cukup panas khas daerah pantura. Arus lalu lintaspun tak ada yang berbeda, ramai lancar seperti hari-hari biasa di kota ini. Namun ditengah membosankannya aktivitas kota hari itu, muncul suatu kegiatan yang menjadi obat bagi orang-orang “kurang dolan” seperti saya ini di suatu sanggar seni yang berada tak jauh dari jalan pantura Cepiring Kendal tepatnya di Desa Sidomulyo Kecamatan Cepiring. Sanggar seni tersebut bernama Sanggar Kejeling. Sempat saya dengar beberapa kali di acara Jurasik (Jumat Sore Asik), namun selebihnya saya kurang begitu tahu banyak apa itu Sanggar Kejeling.
                Bermodalkan rasa ingin tahu lebih, siang itu saya sempatkan waktu untuk berkunjung ke Sanggar Kejeling. Kebetulan pada hari itu juga sedang diadakan kegiatan Pelatihan Melukis menggunakan Pelepah Pisang dengan mendatangkan mentor jauh-jauh dari Kota Apel Malang. Yang menambah semangat berlipat ganda, hadir pula Komunitas Model Kendal dalam acara tersebut. Maklum, sebagai orang yang merdeka tanpa kekasih seperti saya ini sangat antusias jika dipertemukan dengan yang "seger-seger" seperti itu. Namun tentunya tanpa mengurangi tujuan substansial saya yaitu belajar seni. Karena belajar seni bagi saya adalah salah satu hal yang dapat membuat hidup kita tidak menjenuhkan dan lebih berwarna. Kata Seno Gumira Adjidarma “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor,tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa”
                Setelah sempat bingung mencari jalan terdekat menuju sanggar, sekitaran pukul 13.30 wib saya sampai pada tempat Sanggar Kejeling. Tetibanya disana, saya langsung disambut oleh gapura bertuliskan “Selamat Datang di Sanggar Kejeling”. Sekalipun gapura itu kecil dan bertuliskan hanya beberapa kata saja, namun cukup membuat saya merasa disambut dengan istimewa. Salah satu anggota Sanggar Kejeling yang sepertinya masih berusia smp dengan menggunakan kaos bertuliskan “Sanggar Kejeling, Bangun Budaya” mempersilahkan saya masuk dengan hangat. Kemudian sayapun turun dari sepeda motor sengkrek warisan orang tua itu, hendak menuju ke tempat yang digunakan untuk kegiatan. Baru sekitar 10-20 langkah menginjakkan kaki di Sanggar, mata ini langsung dihadapkan pada sebuah pemandangan yang indah. Buku-buku berjajar tertata rapi dengan anak-anak kecil yang berkegiatan disitu. Ada yang membaca buku, ada yang bermain karambol, dan lain sebagainya. Tahu akan hal tersebut, otakku langsung mensugesti kaki dan tubuhku untuk berjalan menuju rak buku tadi. Sempat mataku terpana melihat salah satu buku, yaitu buku “Babad Tanah Kendal” buku sakral yang sebenarnya sudah lama sekali ingin saya khatamkan. Sempat pula saya berdiskusi dengan teman Sanggar disana soal “Dimana sebenarnya Tumenggung Bahureksa (Bupati pertama Kendal) dikebumikan?”.
                Kemudian saya melanjutkan ke tujuan utama yaitu tempat kegiatan melukis di Sanggar Kejeling. Mata saya kembali dimanjakan oleh tata panggung Sanggar Kejeling. Alat-alat gamelan tertata sesuai posisinya, replika gunungan dan sepeda onta tua turut menambah suasana Jawa pada panggung alam yang berukuran 4x6 meter tersebut. Alunan lagu jawa yang berirama dengan angin dan pepohonan sekitar menambah aura kebudayaan pada tiap-tiap sudut sanggar ini. Sanggar Kejeling tak ubahnya sebagai hotel seni berbintang bagi seseorang yang mengagumi nuansa jawa seperti saya ini. Sempat berfikir materil, uang darimana hingga bisa membuat sanggar yang begitu megah ini? Tapi kemudian saya ingat perkataan guru seni sekolah alam saya, “Berkesenianlah, jangan takut pada biaya. Karena seni itu sering menggunakan teori MPC (Mbuh piye carane)”. Tak lama saya mengagumi tempat dan suasana pada Sanggar ini, kegiatan Melukis dengan Pelepah Pisangpun dimulai. Terlihat awan sudah mulai menutupi matahari seakan ia tahu bahwa acara akan segera dimulai. Cuaca yang tadinya begitu panas menjadi agak sedikit redup. Tak hanya dari Komunitas Model Kendal ternyata, Taman Baca Nglarasati Kaliwungu dan salah satu guru SD Universal Ananda juga turut hadir menjadi saksi hidup geliat kesenian di Sanggar Kejeling ini.
                Acara dibuka dengan penampilan seni musik Gamelan yang dimainkan oleh anak-anak sanggar yang memakai baju kebesaran mereka bertuliskan “Sanggar Kejeling, Bangun Budaya”. Terlihat raut wajah dan sorot mata dari para pemain mengisyaratkan bahwa mereka begitu semangat dan haus akan kesenian. Sering saya melirik manja ke arah peserta (model kendal -red) yang hadir, mereka sangat terhibur olehnya. Bagaimana tidak, anak yang baru sekitaran SD dan SMP sudah bisa menyatukan suara demi suara alat musik gamelan menjadi suatu irama yang indah. Tak heran, selesainya tampil mereka mandapat tepuk tangan yang meriah. Selepas mereka tampil, acara dilanjutkan pada acara inti yaitu Melukis. Pelatih memberikan semacam teori atau cara bagaimana melukis menggunakan media pelepah pisang. Tak lupa juga ia memamerkan beberapa karyanya. Kemudian peserta dibagi menjadi beberapa kelompok, perkelompok diisi 5 orang dengan berbagai komunitas. Kembali saya melirik para cewek yang cantik nan anggun itu, dalam hati pesimis “Bisa ndak ya, wong biasanya merias wajah kok ini harus merias papan menggunakan pelepah pisang”. Namun ternyata rasa pesimis itu dibayar tuntas tanpa DP oleh para model melalui karya yang telah mereka buat. Tak kusangka, orang yang biasa tampil anggun di depan lensa kamera ternyata lihai juga membuat lukisan. Sekitar 1,5 jam membuat lukisan, acara ditutup dengan memberikan hadiah kepada 3 lukisan terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap suatu karya.
                Rasa terkesan saya tak cukup sampai pada acara, setelah acara selesai rupanya para penggiat seni di sanggar ini tidak langsung pulang kerumahnya masing-masing untuk beristirahat. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu di sanggar untuk berdiskusi, membicarakan “apa yang akan dilakukan selanjutnya”. Melihat ada ruang diskusi seperti itu, saya pun mengurungkan niat saya untuk pergi kerumah gebetan. Angin yang berhembus di samping telinga sayapun seakan turut berbisik mencegah saya untuk pergi “Ojo bali ndishik, bar iki mangan” begitulah kiranya. Saya merasa berada di suasana yang seharusnya ada untuk pemuda. Berkarya, berdiskusi, bercanda gurau bersatu dalam balutan kemesraan dan kekeluargaan.
                Kembali saya sempat berkata dalam hati “Begitu luar bisanya Sanggar ini, tak hanya tentang berkesenian namun juga perilaku mereka sangat santun kepada orang lain”. Pemuda Kendal memang butuh ruang-ruang untuk berkesenian seperti ini. Karena pemuda sejatinya memang ingin berkespresi dan diakui oleh orang lain. Maka tak heran, jika pemuda tidak bisa menemukan ruang berekspresi mereka dan tidak diakui oleh orang lain maka mereka cenderung untuk melakukan hal-hal yang negatif. Di tengah era Industrialisasi yang terjadi di Kendal dengan adanya Kawasan Industri Kendal, sudah seyogyanya masyarakat khususnya para pemuda untuk membentengi diri mereka dengan seni dan skill hidup. Tentu kita tak akan mau jika suatu saat nanti kekayaan alam Kendal ini akan dikuasai oleh orang lain dan pribumi Kendal hanya menjadi pengusaha sampingan seperti tukang parkir dsb. Orang Kendal ya harus berkuasa di daerahnya sendiri. Tentu juga kita tak mau jika seni dan budaya yang ada di Kendal ini akan hilang dengan sendirinya. Maka dari itu, jalan yang harus pemuda Kendal lakukan adalah dengan cara berkesenian dan berpendidikan.
                Bagi saya, Sanggar Kejeling merupakan suatu stimulus bagi pembibitan dan pendidikan seni yang ada di Kendal. Anak-anak Sanggar Kejeling merupakan manifestasi perjuangan para pahlawan terdahulu. Pada pundak-pundak merekalah kesenian dan kebudayaan Kendal akan tetap hidup, merekalah yang akan menjaga Kendal di tengah-tengah carut marutnya zaman, namun tentunya tanpa menyampingkan eksistensi Tuhan dan karya seniman lain. Semoga apa yang dilakukan oleh para penggiat kesenian di Sanggar Kejeling selalu mendapat ridlo dari-Nya. Semoga ia terus menjadi cahaya bagi orang-orang di sekitarnya.

“Bagi saya Kendal adalah puisi. Puisi itu tak akan terbakar ditelan api. Begitu pula hakikat dan jatidiri Kendal, tak akan sedikitpun hilang meskipun akan menjadi kota industri”

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan dan mempunyai hobi berkesenian. Berasal dari pinggiran Kota Kendal. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta” 

Read more ...

PRE ORDER Buku Lesbumi NU Kendal "Ramadan di Kampung Halaman"



Read more ...

Rabu, 04 Juli 2018

Jurasik #15 (Jurasik adakan Bincang-Bincang tentang Lingkungan dan Mencintai Alam)

Jurasik #15 

(Jurasik adakan Bincang-Bincang tentang Lingkungan dan Mencintai Alam)


Fenomena mendaki gunung akhir-akhir ini ramai dilakukan, khususnya oleh para pemuda. Baik kaum adam maupun hawa antusias untuk menikmati keindahan alam ciptaan Sang Khaliq tersebut. Inilah yang menjadi alasan para pegiat seni di Kendal untuk mengadakan diskusi tentang pendakian dan merawat alam pada acara Jurasik (Jumat Sore Asik), 6 Juli 2018 di Halaman Gedung Kesenian Remaja Kendal.
Jurasik yang telah berlangsung selama 15 kali tersebut mendatangkan pembicara dari Komunitas 1001 Pendaki Tanam Pohon Gunung Ungaran (1001 PTP).  "Acara Jurasik ke-15 ini sengaja kami datangkan komunitas pecinta alam sebagai narasumber untuk memantik para peserta.. Saya berharap dengan acara diskusi ini dapat membangun kesadaran siapa saja untuk terus merawat bumi ini" kata Tanjung Alim Sucahya, koordinator acara Jurasik.
Seperti biasa, acara Jurasik tak hanya diisi dengan diskusi namun juga penampilan seni bagi siapa saja yang ingin menampilkan karyanya. Pada acara Jurasik #15 itu BKR n' Friends, salah satu grup akustik yang bermarkas di gedung balai Kesenian Remaja Kendal, menyempurnakan acara diskusi dengan membawakan lagu-lagu khas kaum muda. Ditambah, lampu yang sedikit remang menambah kekhidmatan dan keromantisan pada acara Jurasik malam itu.
1001 PTP melakukan aktivitasnya di daerah Promasan, di Lereng Gunung Ungaran meski tak jarang juga mereka berkiprah di pesisir. Komunitas tersebut pertama kali dibentuk oleh seorang pegiat lingkungan yang mempunyai jiwa tulus mencintai alam. "Awal mulanya kami di bentuk oleh seorang pemersatu relawan asal Salatiga, beliau bernama Mbah Santo pada tahun 2015 yang didasari semangat melestarikan alam. Dalam kegiatannya kami juga tak hanya berfokus di Gunung, beberapa kali juga kami beraktivitas di daerah pantura Kendal". Kata Nurul Machrudin, wakil ketua Komunitas 1001 Pendaki Tanam Pohon sektor Promasan.
Dalam ikhtiarnya menjaga alam sekitar, 1001 PTP juga mengajak semua elemen untuk berpartisipasi dalam kegiatan merawat alam tersebut. Seorang pegiat alam, Must Noer, atau yang kerap disapa Demit menyampaikan bahwa PTP bahkan sudah merambah ke sekolah maupun kampus untuk mengajak siswa dan guru untuk ikut merawat alam. "Kami sudah melakukan branding ke sekolah-sekolah. Bahkan kami sudah mengusulkan agar komunitas pecinta alam harus ada pada ekstrakurikuler sekolah ataupun kampus. Namun kekhawatiran orang tua siswa masih menjadi kendala bagi kami. Yang di fikirkan orang tua adalah komunitas pecinta alam itu selalu identik dengan naik gunung. Padahal, membersihkan sampah diselokan pun merupakan kegiatan mencintai alam" katanya.
Sembari memberikan materi diskusi, 1001 PTP juga turut mengajak seluruh pegiat seni yang hadir dalam acara Jurasik untuk mencintai dan merawat alam. "Kami berharap dengan adanya diskusi tentang mencintai alam ini, para seniman yang hadir dalam acara Jurasik dapat bersama kami untuk menanam dan merawat pohon sebagai bentuk cintai kepada alam. Kami tak hanya menanam pohon, namun juga merawatnya." Kata Fajar Taufik yang merupakan anggota 1001 PTP.
1001 PTP akan melanjutkan aktivitas mencintai alamnya dengan melakukan aksi perawatan pohon yang akan digelar pada 15 Juli 2018 besok di daerah Promasan, Lereng Gunung Ungaran. Usai diskusi, para penikmat acara Jurasik kembali dimanjakan oleh lagu-lagu yang dibawakan oleh BKR n' Friends. ***(JRS/CDR)
Read more ...

Kamis, 28 Juni 2018

Jurasik #14 (Jurasik Datangkan 2 Wanita Pegiat Literasi di Kendal)


Jurasik #14

Jurasik Datangkan 2 Wanita Pegiat Literasi di Kendal


Literasi merupakan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Begitulah kiranya pengertian literasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). mengingat pentingnya peran literasi dalam hidup tersebut, Jurasik di edisinya yang ke-14 membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan literasi di Gedung Balai Kesenian Remaja Kendal, Jumat 29 Juni 2018.

Acara yang berlangsung kurang lebih 3-4 jam tersebut mendatangkan 2 Narasumber yang kebetulan keduanya seorang cewek. Tak heran dalam posternya Jurasik #14 ini mengambil tema "Laku Srikandi Kita". Mereka berdua adalah penggiat literasi yang ada di Kendal. Yaitu Sitta Saraya yang merupakan Dosen Fakultas Hukum Universitas Selamat Sri (UNISS) dan Ngarminingsih yang merupakan Ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kabupaten Kendal

Seperti biasa, sebelum acara diskusi dimulai para peserta yang hadir diperbolehkan menampilkan karyanya diatas panggung. Beberapa peserta menampilkan puisi untuk membuka diskusi pada malam tersebut.

Selepas pembacaan puisi tersebut acarapun dimulai dengan membahas budaya literasi yang ada di Kendal. Menurut Sitta yang juga merupakan pegiat wisata Kendal, antusiasme literasi di Kendal masih sangat rendah. "Kalau di Kendal sih masih rendah ya, Mas. Apalagi sekarang ini game online merajalela. Jadi pemuda itu lebih memilih alokasi waktunya untuk bermain game". Namun meskipun antusias literasi di Kendal rendah, Sitta tetap mempunyai harapan agar Kendal itu di kenal sebagai kota literasi"

Usai Sitta, diskusi dilanjut ke narasumber kedua yaitu Ngarminingsih atau yang kerap disapa Bu Nining. Beliau sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Sitta yaitu budaya literasi di Kendal memang masih rendah. "Memang ya mas, saya itu suka heran kenapa kok di Kendal susah sekali menumbuhkan jiwa literasi. Menurut data kami, ada 60 Taman Baca Mayarakat yang ada di Kendal. Namun ironisnya, hanya sekitar 10 yang masih aktif" terang wanita yang menjadi ketua Forum Taman Baca Masyarakat Kabupaten Kendal tersebut.

"Di Kendal sendiri ada 2 lingkup TBM yaitu TBM Mandiri dn TBM yang merupakan program dari PKBM(Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat)" imbuhnya. Dalam diskusi tersebut salah satu peserta, Ermin Nur Cholis, memberikan pendapatnya soal literasi "Budaya literasi itu dimulai sejak kecil. Orang tua ataupun guru ya harus agak memaksa anak untuk membaca. Karena dimulai dari paksaan tersebut anak akan terbiasa" kata guru SMP N 1 Brangsong dan juga penulis buku yang berjudul Literasi untuk Siapa? tersebut. Para peserta lain juga memberikan saran atau usulan kepada narasumber untuk kemajuan literasi di Kendal. Salah satunya yaitu program TBM ke pada keluarga.

Selepas diskusi, seperti para peserta disuguhkan musik akustik yang dibawakan oleh BKR n' Friend untuk menghibur dan mencairkan suasana dengan lagu-lagu romantis karya Sheila on 7 dan juga Jamrud. ***(JRS/CDR)
Read more ...
Designed By