Kamis, 06 Februari 2020

Jurasik #44 (Barangkali Ada Rumput di Tubuh Kampung)




Ada berbagai aktivitas yang terkadang kita sendiri luput untuk meriwayatkan, bahkan kadang sampai pada taraf mengabaikan. Semua itu, jangan sampai melingkupi tubuh-tubuh kita, mencatat dan meriwayatkan apa saja yang hinggap dalam pandangan dan ingatan kita. Termasuk laku dan gerak kesenian dari kampung-kampung, yang masih melibatkan tubuh pemuda-pemuda. Sungguh, begitu banyak sumbu-sumbu kesenian dari kampung halaman kita, jika kita tidak lekas menjelajahi desa-desa.

Segala aktivitas itu misalnya tumbuh di Desa Bojonggede, yang kini sedang mengupayakan tubuh-tubuh pemuda untuk membangun desanya melalui gerak kesenian dan laku aktivitas lainnya.
Kita, akan menjadi saksi dan meriwayatkan bersama, bagaimana gerak pemuda dan tumbuhnya laku-laku aktivitas kreatif dalam tubuh sebuah desa.

Mari, datang dan duduk bersila dalam Jurasik#44 "Barangkali Ada Rumput di Tubuh Kampung"

Penampilan Spesial:
- Uthuk-uthuk
- Seketika Band

Jum'at, 7 Februari 2020 | 19.00 sampai tenggelam

di Balai Desa Bojonggede - Jalan KH. Abdul Wahab Km 2 Kec. Ngampel, Kab. Kendal

Kami memulai dari hal kecil, dan dilakukan di kota kecil. Namun, impian kami besar, Kawan!

Minggu, 02 Februari 2020

Sesudah Modern Dance, Mau ke Mana?



Laila Nuur Mutia beberapa kali meluncurkan pesan singkat WhatsApp yang terpatah-patah menuju ponsel (setengah) pintarku. Ia kerap bertanya, aku harus ngomong apa, aku harus memulai dari mana? Dan tentu, sebagai junior yang baik, aku melakukan tindakan sederhana: menyemangatinya. Meski juga: melempar beban-beban kecil. Entah saat itu disadarinya atau tidak. Jika dapat disimak, kali pertama beban kecil aku sematkan tipis dalam tajuk Jurasik #43 tersebut.
Ya, benar. Sebelum kalimat pendek berikut kulempar ke hadapan khalayak, tentu kulempar bertubi-tubi dulu kepada Laila Nuur Mutia. Kami berdiskusi kecil perihal tubuh dan imajinasi dalam jagat seni gerak itu. Meski kerap pula pesan kami saling patah-patah, akibat aktivitas lain yang cukup menyita. Namun tetaplah, dapat kami temukan setidaknya semacam titik terang, meski masih remang. Dalam reruntuhan pemantik kecil berikut.
Tubuh dan imajinasi dalam tari kerap berjalan berdampingan, atau kadang juga dijumpai saling mendahului; dalam konteks penciptaan. Medan seni gerak ini hadir di mata khalayak dengan berbagai kejutan; tak terduga. Bagaimana tubuh hadir duluan melampaui segala imajinasi yang membentuk dan membentur segenap bangunan-bangunan yang menyokong ruang penciptaan. Selanjutnya, akan tersisa berdesakan makna di benak dan batin kita. Begitulah kiranya yang akan kita simak dari penyaji kali ini.
Sejak 2011 hingga saat ini dan sampai kapan pun, penari yang bakal hadir, berkisah, dan presentasi karya ciptanya ini telah bergelut dalam berbagai bentuk. Di antaranya Gymnastic Dance Contemporer, Modern Dance, Bellydance, Line Dance, Sexy Dance, Fire dance, dan dengar kabar akhir-akhir ini ia sedang menginjaki proses teater gerak. Penasaran? Bolehlah sedikit, namun jangan kebablasan.  Santai saja, sederhana saja. Biar karya cipta yang bicara. Jangan ditunggangi dengan embel-embel apa pun. Kasihan. Biar ia lahir dengan caranya, tentu yang paling mulia.


Tentu itu bukan sesuatu yang besar, atau dapat dicap sebagai pijakan kokoh. Namun setidaknya melalui itu, Laila Nuur Mutia telah memulai separuh perjalanan pendeknya dalam segenap perjalanan panjang yang pasti dapat direngkuhnya tanpa menemukan titik berhenti sama sekali.
Bahkan tanpa dibocorkan panjang, dalam forum Jurasik malam itu, 31 Januari 2020 di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Hadirin yang tak begitu riuh itu menangkap dengan baik apa yang awalnya telah kami bisikkan pelan dalam percakapan pesan singkat yang patah-patah itu. Ya, aku dan Laila Nuur Mutia begitu yakin. Sebab moderator tidak tetap (honorer) malam itu pun, yang tak lain adalah Akhmad Sofyan Hadi, Direktur Artistik Jarak Dekat, sama sekali tak tahu dengan rahasia kami sebelumnya.
Pelan-pelan hadirin masuk dalam rahasia kami, tentu itu semua mengalir selepas Laila Nuur Mutia memberikan godaan dalam pertunjukan fire dance. Seusai moderator tidak tetap itu mengumbar pemantik lain, selepas Laila Nuur Mutia berkisah pula mengenai perjalanan panjang prosesnya yang diyakini masih pendek itu. Sebab dalam obrolan malam itu, ia sangat meyakinkan diri bahwa prosesnya masih sangat panjang.
Meski sempat diumbar berbagai penghargaan atas kemenangan lomba-lombanya dalam ajang tari oleh Akhmad Sofyan Hadi, tetap saja Laila Nuur Mutia merasa masih ingin bergerak lagi. Termasuk ketika ia hendak turut serta dalam proses teater gerak (tubuh) yang hendak dilangitkan oleh Teater Atmosfer. Sebuah grup teater di Kendal yang masih culun namun selalu ingin memberi tawaran-tawaran baru itu.


Bahkan sempat pula, Laila Nuur Mutia mendapat pertanyaan dari hadirin, yang tak perlu aku sebutkan namanya. Ia bertanya, “Anda sesungguhnya lebih klik menjalani genre tari yang mana sih? Dari sekian bentuk modern dance yang telah dikerjakan selama ini?”
Apa jawaban Laila Nuur Mutia? Ia menjawab dengan serius, bahwa ia mengaku sangat klik dengan semua genre itu. Hadirin turut menatap Laila Nuur Mutia dengan nada melongo. Ya, malam itu hadirin didominasi oleh adik-adik muda dari kalangan celana abu-abu itu yang entah dikirim dari sekolah mana. Aku lupa menanyakan asal-usul atau rumah kelahiran mereka. Aku kira tak perlu. Mereka sudah hadir tanpa paksaan saja sudah sangat membahagiakan. Dan memang seharunya begini. Sebuah acara disuguhkan bukan untuk mencari banyak-banyak hadirin. Apalagi harus marah-marah ketika yang hadir hanya bijian. Sudahlah, lupakan.
Selepas itu, ada sosok muda yang masih terkenal jomblo itu, ia bernama Budiawan. Malam itu ia memberi tanggapan cukup panjang. Bahkan aku, moderator, bahkan haidirin lain pun turut merasakan ada yang beda dengan Budiawan malam itu. Sungguh, kali itu ia tak seperti biasnya. Itu malam, Budiawan menumpahkan banyak hal mengenai seabrek riwayatnya dalam mengarungi berbagai acara. Tentu dalam lingkup kacamatanya sebagai pegiat EO, yang sudah cukup memiliki jam terbang itu.
Budiawan lebih memberikan tantangan-tantangan yang cukup menggoda bagi Laila Nuur Mutia. Di antaranya terkait proyek yang sepertinya akan mereka kerjakan bersama. Nah, menariknya ya itu. Dalam sebuah forum intim serupa Jurasik tersebut menjadi jembatan panjang untuk melakukan kerja-kerja berikutnya. Meski kerja tersebut seperti apa, tidak akan aku sampaikan dalam tulisan ini.


Biar saja Laila Nuur Mutia dan Budiawan serta hadirin malam itu saja yang tahu. Meski saat malam itu, juga menjadi ajang mempertemukan antara senior dan junior. Antara kakak kelas dan adik kelas. Sebab Budiawan itu ternyata adik kelasnya Laila Nuur Mutia, saat masa mengelus bangku SMA dulu. Dan, mereka baru tahu ya malam itu. Subhanallah, betapa tidak penuh berkahnya Jurasik malam itu. Meski tidak menemukan jodohnya Budiawan, namun minimal menemukan kakak kelasnya. Hehe.
Ada sekitar sepuluh saksi mata yang merelakan sepenuh mata, telinga, dan segenap hatinya untuk merayakan Jurasik #43 yang dibintangi oleh Laila Nuur Mutia itu. Hampir 80% hadirin angkat bicara semua. Bahkan ada yang tidak hanya sekali. Panjang-panjang pula yang disampaikan. Hingga semua itu, membuat Laila Nuur Mutia cukup cemas, dalam hati, kapan aku pulang, kapan aku pulang kalau kalian tak ada berhentinya bertanya, berbicara.
Kian malam, kian larut hadirin dalam hangat perbincangan. Meski awalnya Laila Nuur Mutia juga sangat khawatir, sebab sebelumnya turun hujan. Ia cemas, kiranya acara akan jadi atau tidak. Namun, Akhmad Sofyan Hadi, sang moderator menyampaikan kepadanya, “Semua akan tetap berjalan. Akan tetap digas, apa pun yang terjadi.” Laila Nuur Mutia dan seksi apa saja malam itu, yakni Sindhu Praba pun kian tenang. Meski sesungguhnya masih was-was pula. Takut hujan lebat, takut BKR kebanjiran. Seperti yang sempat yang terjadi saat dulu itu. Pas ketika Jurasik, hujan lebat dan air memenuhi lantai BKR. Masuk, air-air itu turut serta pentas.
Ini hal terakhir yang akan aku sampaikan dalam catatan kecil ini. Hal terakhir yang juga ada dalam rahasia, yang tentu sangat kami bicarakan serius dalam percakapan. Yang kami gelisahkan saat percakapanku yang patah-patah dengan Laila Nuur Mutia dalam pesan singkat. Yakni tantangan yang ditawarkan hadirin, bahwasanya selepas bergelut dalam modern dance ini, lalu mau ke mana?
Maka sampailah perbincangan pada wilayah tradisional. Apakah kiranya trasdisional itu akan menjadi pijakan, akan menjadi pondasi untuk menemukan bentuk baru atas bekal tubuh “modern” yang selama ini telah digeluti. Atau barangkali akan merekonstruksi ulang, atau bahkan mendekonstruksi?


Jawaban selanjutnya selepas ini, kita serahkan kepada Laila Nuur Mutia. Kita tunggu saja. Selepas ia berproses dengan Teater Atmosfer, lalu ia akan mengerjakan PR apa? Penciptaan apa yang akan ia gerakkan selanjutnya? Tentunya segala itu kita harapkan bukan kerja penciptaan yang biasa-biasa saja. Tentunya bukan pula pekerjaan atas tuntutan kerja saja. Dan, kami semua malam itu telah meyakini. Bahwa Laila Nuur Mutia telah begitu menaruh kesadaran lebih atas kedua wilayah itu. Mana kerja matrealisme, mana kerja idealisme.[] (JRS/SNA).

Sabtu, 01 Februari 2020

Jurasik #43 (Tari: Tubuh dan Imajinasi)




Tubuh dan imajinasi dalam tari kerap berjalan berdampingan, atau kadang juga dijumpai saling mendahului; dalam konteks penciptaan. Medan seni gerak ini hadir di mata khalayak dengan berbagai kejutan; tak terduga. Bagaimana tubuh hadir duluan melampaui segala imajinasi yang membentuk dan membentur segenap bangunan-bangunan yang menyokong ruang penciptaan. Selanjutnya, akan tersisa berdesakan makna di benak dan batin kita. Begitulah kiranya yang akan kita simak dari penyaji kali ini.
Sejak 2011 hingga saat ini dan sampai kapan pun, penari yang bakal hadir, berkisah, dan presentasi karya ciptanya ini telah bergelut dalam berbagai bentuk. Di antaranya Gymnastic Dance Contemporer, Modern Dance, Bellydance, Line Dance, Sexy Dance, Fire dance, dan dengar kabar akhir-akhir ini ia sedang menginjaki proses teater gerak. Penasaran? Bolehlah sedikit, namun jangan kebablasan.  Santai saja, sederhana saja. Biar karya cipta yang bicara. Jangan ditunggangi dengan embel-embel apa pun. Kasihan. Biar ia lahir dengan caranya, tentu yang paling mulia.



JURASIK (Jumat • Sore • Asik) #43


Menyuguhkan:
LAILA NUUR MUTIA
1. Juara 2 Dance INBOX
2. Juara 1 Line Dance Forda Provinsi Jawa Tengah
3. Juara 1 Danceterapia Fornas Nasional
4. Pengajar tari di berbagai ruang

31 Januari 2020

19.00 sampai terasa

di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal.


Penampilan spesial:
Tari dari bintang tamu, dan kejutan lainnya.


Kami memulai dari hal kecil, dan dilakukan di kota kecil. Namun impian kami besar, Kawan!

Muhajir, Dongeng, dan Kerumun Anak-anak Itu



“Ketika seseorang menyimak dongeng maka ia bisa membayangkan tokoh pahlawan sebagaimana imajinasinya masing-masing. Setiap orang mungkin beda membayangkan sosok pahlawannya, justru itu kelebihannya. Ruang imajinasi itu sangat luas dan tidak terbatas.” Begitu yang dilangitkan Muhajir Arrosyid, penulis buku Menggelar Tikar dan Menggambar Bulan dalam Gendongan.
Malam itu, pada 24 Januari 2020, hujan sempat mengguyur cukup lebat di Perumahan Griya Pantura Regency dan sekitarnya. Namun segala itu tak menyurutkan niat Muhajir Arrosyid untuk mengalirkan dongengnya Sidang Para Menthok dalam forum JURASIK (Jumat • Sore • Asik) #42.
Rumah bernomor A4 yang cukup dikenal sedikit orang dengan nama Sarang Lilin itu menjadi saksi kecil perjumpaan dongeng dengan khalayak. Khusunya anak-anak perumahan yang begitu antusias, bahkan sudah sejak sore hari. Saat Muhajir Arrosyid baru saja sampai bersama rombongannya di rumahku. Ya, di Sarang Lilin yang nampak cukup berantakan dengan pasir dan batu-batu, sebab sedang ada renovasi kecil-kecilan di bagian belakang rumah.
“Wah, ini orang yang mau mendongeng itu ya?” celetuk salah seorang anak.
“Ya, benar. Orang ini yang akan mendongeng nanti malam,” tambah seorang anak lain, sambil tersenyum bungah.
“Aku melihat di hape tadi, orang ini memang yang akan mendongeng nanti...” anak lain turut meyakinkan, mereka bergerombol, nampak sangat bahagia menjumpai Muhajir Arrosyid sebelum manggung. Akhirnya mereka pun diajak bernyanyi-nyanyi dan juga bertanya-tanya kepada Muhajir Arrosyid.
Langit sudah nampak sangat gelap. Memang sepertinya hujan benar-benar akan jatuh. Aku, Muhajir Arrosyid, dan teman lain mencoba untuk tenang. Doa-doa tentu kami taburkan, agar hujan tak jadi datang. Meskipun jadi singgah, sejenak saja, dan acara tetap merangkak lancar.
Sekitar pukul 20.00 WIB, acara pun dimulai. Lampu halogen 120 watt menyorot teduh area panggung sederhana dengan bangku panjang, ban mobil ring 31 dianyam tambang, dan tentu, properti mendongeng Muhajir Arrosyid sudah dibocorkan. Di balik kain putih yang lebarnya tak lebih dari bentangan kedua tangan Muhajir Arrosyid itu, berdiri sebuah pohon serta beberapa tokoh binatang yang hendak dimainkan dalam dongengnya. Di antaranya ada dua menthok, burung, dan kucing. Mereka menancap di sebuah gedebok, disiram lampu halogen 120 watt pula dari belakang panggung. Tepat di depan kain hitam, pembatas panggung yang tak terbatas dalam pandangan mata itu.
Chadori Ichsan mengangkat pelantang suara. Menyambut hadirin dan sedikit menyampaikan perihal forum Jurasik, yang kerap hadir sebagai salah satu program Jarak Dekat. Lembaga seni nirlaba yang kian hari kian mencoba menyisir laku-laku kecil itu. Namun tetap dengan mimpi besar. Seperti yang kerap menempel dalam poster-poster Jurasik, “Kami memulai dari hal kecil, dan dilakukan di kota kecil. Namun impian kami besar, Kawan!”

Sebelum Muhajir Arrosyid mendongeng, penampilan spesial pun ditunaikan. Sesuai dengan yang ada dalam poster yang telah disebar sebelumnya. Ya, Ashabul Syimal, sebuah grup yang dikomandoi oleh Kang Muse itu menjadi penampil pembuka. Dibawakanlah lagu yang sudah cukup dikenal masyarakat, apalagi bagi orang Jawa. Lir-ilir dibawakan dengan aransemen yang beda, mengalir ke telinga penonton. Termasuk anak-anak yang begitu banyak itu berkerumun tidak dalam tubuh-tubuh mereka saja, namun berkerumun dalam suara pula. Mereka menyanyi bersama-sama, mengikuti Ashabul Syimal melantunkan Lir-ilir dengan hangat dan penuh pukau. Meskipun Kang Muse, gitaris tangan kiri yang cukup populer di kalangan Jamaah Jurasik itu, mengucap mohon maaf bahwa pada kesempatan yang baik itu hanya datang berdua. “Maaf, kami hanya datang berdua. Salah seorang pemain berhalangan hadir. Entah kenapa, semoga tidak untuk minta resign seperti pemain kami yang lain yang sudah resign duluan,” gurau Kang Muse, yang kemudian memecah tawa hadirin.

Satu lagu saja Ashabul Syimal membuka penampilannya pada malam itu. Sepertinya grup yang baru saja meluncurkan logo barunya itu paham, di hadapannya sudah berkerumun puluhan anak yang sudah sangat menanti penampilang dongeng Sidang Menthok yang bakal dibawakan Muhajir Arrosyid. Maka barangkali Kang Muse membatin, “Sudahlah, satu lagu saja. Kasihan jika adik-adik menunggu kelamaan, kalau sampai mereka jenuh dan kabur malah bisa bahaya.”
Muhajir Arrosyid memulai penampilannya. Ia sepertinya sudah bersiap cukup lama, bahkan sebelum Ashabul Syimal pentas, ia sudah berdiam menanti Chadori Ichsan menyilakan untuk mulai ngegas dongengnya. Ya, Muhajir Arrosyid yang selama ini dikenal memang sebagai penulis. Telah lama pula ia menulis, sudah sejak mahasiswa. Ia menulis cerita pendek dan juga esai. Pemuda yang sudah tidak begitu pantas lagi disebut muda itu lahir dan tinggal di Demak. Awal masa mudanya, saat kali pertama menginjakkan kaki ke Semarang untuk kuliah di IKIP PGRI Semarang (UPGRIS), ia berproses di Teater Gema. Sebagai aktor, sutradara dan juga penulis lakon. Namun belakangan ini, terutama saat ia sudah mengabdikan diri, mengajar di almamaternya itu, sepertinya sudah sangat jauh dengan dunia panggung pertunjukan. Muhajir Arrosyid begitu dikenal dan melejit karena tulisan-tulisannya. Dan, kali ini, ia memulai menginjakkan kaki lagi di jagat panggung yang disorot lampu-lampu, beraksi di depan kai hitam lagi.
Muhajir Arrosyid memulai dongengnya dengan adegan kehadiran menthok yang diejek, diolok-olok oleh kucing dan burung. Mereka mengolok-olok menthok, menyanyi bersama: Menthok-menthok tak kandani e mlakumu a ngisin-ngisini, mbokyo ojo ngetok, ono kandang wae enak-enak ngorok ora nyambut gawe. Menthok.
Sidang Para Menthok ini merupakan dongeng pertama yang dipentaskan Muhajir Arrosyid dalam proyek kelilingnya di berbagai kota. Di antaranya di Semarang, Demak, dan Kendal. “Ini merupakan pentas dongeng saya yang pertama saya kelilingkan. Meski sebenarnya dongeng ini sempat saya pentaskan di hadapan anak-anak PAUD yang dikelola istri saya. Juga pastilah dongeng ini sempat saya dongengkan kepada anak-anak saya di rumah. Ini dongeng pertama, saya pentaskan keliling di tiga kota. Selanjutnya saya akan membuat dan mementaskan dongeng dengan tema lain pula. Semoga juga bisa keliling seperti Sidang Para Menthok ini,” tutur Muhajir Arrosyid beberapa saat selepas ia pentas.

Menurut Muhajir Arrosyid, dalam dongeng Sidang Para Menthok tersebut, ia ingin menawarkan kegelisahannya terhadap bahaya bullying. Khususnya yang terjadi di kalangan anak-anak. Terutama anak-anak usia PAUD atau anak SD kelas awal. “Meski juga penting juga saya sampaikan ini semua ke hadapan orangtua mereka. Sebab merekalah yang tentu akan berhadapan langsung dengan anak-anaknya. Dan alhamdulillah, di acara Jurasik kali ini selain anak-anak yang begitu antusias menyaksikan dongeng hingga selesai, orangtua mereka, bapak dan ibu mereka juga turut serta hadir mendampingi. Bahkan dalam diskusi pula mereka semua antusias menyimak dan melempar pertanyaan-pertanyaan,” ungkap Muhajir Arrosyid, yang telah berniat membukukan dongeng-dongengnya selepas selesai dipentaskan. Pada akhir tahun nanti, buku dongengnya akan diluncurkan.

Dalam pementasan dongengnya ini, Muhajir Arrosyid juga menyisipkan nyanyian yang begitu akrab bagi anak-anak. Termasuk pelangi-pelangi dan suwe ora jamu, begitu lekat di benak anak-anak. Maka tak ayal, kerumunan anak-anak yang menonton di barisan paling depan itu turut serta menyanyi. Bahkan sesekali juga merespon tiap-tiap adegan yang diguyurkan oleh pendongeng. Antara pendongeng dan anak-anak berkomunikasi dan seakan telah ambil bagian dalam pementasan tersebut.
“Anak-anak ini sungguh luar biasa. Sangat jarang pada masa sekarang ini terjadi semacam ini. Mereka sama sekali datang tanpa diundang. Berbondong-bondong hadir, mengikuti sajian dongeng dengan antusias. Bahkan sebelum acara dimulai sejak sore tadi pun mereka sudah membuntuti pendongengnya,” pungkas Harjito, Dosen S-2 PBSI UPGRIS.[] (JRS/SNA).



Jurasik #42 (Sidang Para Menthok)


Jurasik #41 (Kisah Para Guru Jawara Menulis)


[Segera Hadir] Barang Bukti Bangun Kreativitas #10


Minggu, 19 Januari 2020

Laku Kesenian di MTS NU 20 Kangkung


:catatan pergelaran & pameran karya MTS NU 20 Kangkung

Pagi hingga siang hari itu mungkin menjadi hari yang paling sibuk
bagi guru maupun siswa MTS NU 20 Kangkung. Baik siswa
maupun guru hari itu melaksanakan acara kesenian
 yang diberi judul Pergelaran & Pameran Karya
Siswa MTS NU 20 Kangkung.
.



Kecamatan Kangkung akhir-akhir ini seperti sedang membangun peradaban seninya. Tak lama setelah acara Kendali Seni Kendal #4 usai dilaksanakan, acara kesenian kembali terselenggara di kecamatan pemekaran dari Cepiring ini. MTS NU 20 Kangkung, sebuah sekolah yang berada kurang lebih 500m dari Pasar Kangkung, merupakan inisiator sekaligus pelaksana dari acara kesenian di Kangkung yang dilaksanakan pada Sabtu, 18 Januari 2020. Acara kolaborasi antara siswa dan guru itu berjudul Pergelaran & Pameran Karya Siswa MTS NU 20 Kangkung.

Sabtu, 18 Januari 2020

Kisah Para Guru Jawara Menulis

Gambar: Orang-orang memadati Balai Kesenian Remaja pada Jurasik#41


Ada yang berbeda pada penyelenggaraan Jurasik edisi ke-41 kali ini. Sebab, pada edisi kali ini, Jurasik menghadirikan dua orang sosok guru yang beberapa waktu lalu menjadi Jawara menulis Balai Bahasa Jawa Tengah. Ya, Jurasik kali ini hendak memberikan gambaran kepada banyak orang, bahwa guru, yang sehari-harinya mengajar di dunia pendidikan formal juga harus bisa menjadi juara, bukan hanya siswa-siswinya yang selalu gemilang dalam menorehkan prestasi. Gurupun nyatanya bisa!.

Dua guru ini yang hadir di Jurasik ini menunjukkan bahwa guru memang digugu dan ditiru. Kisah Para Guru Jawara Menulis begitulah tema Jurasik pada malam ini, 17 Januari 2020. Kiranya, tema kali ini menunjukkan bagaimana gagahnya dua orang guru dari Kendal yang memenangkan kompetisi menulis tingkat Jawa Tengah. Beliaulah, Rinto Murdomo sebagai Pemenang I Sayembara Penulisan Cerpen bagi Guru - Balai Bahasa Jawa Tengah 2019 dan Muslichin sebagai Pemenang Harapan I Sayembara Penulisan Esai bagi Guru - Balai Bahasa Jawa Tengah 2019.

Meski sempat diguyur gerimis sore hari, nampaknya langit masih terlihat cerah dan tak memberi isyarat apa-apa perihal hujan. Sejak sore hari, beberapa orang telah datang di Balai Kesenian Remaja (BKR) dan menanti obrolan luar biasa ini. Beberapa lagi telah sibuk menyiapkan segalanya di luar, apalagi, seperti diketahui, seluruh perkakas yang digunakan di Jurasik -sound, tikar, pelantang, gallon dan segalanya- harus dibawa setiap hari Jum’at sore dari kecamatan seberang, Kecamatan Brangsong.

Begitu luar biasanya Jurasik kali ini, dua pembicara yang tentu memiliki banyak anak didik berhasil menggiring anak didiknya untuk hinggap di BKR dan melingkar hangat bersama beberapa orang yang lainnya. Rupanya, Jurasik telah berhasil untuk kesekian kalinya menghadirkan wajah-wajah muda yang masih bersekolah di tingkat menengah dan orang-orang lain yang kini telah memenuhi sebagian BKR. Meski, ada kegiatan lain yang terlihat ramai di luar BKR, parkiran sempat ditutup beberapa supporter yang hendak mendukung timnya berlaga di GOR Bahurekso.

Sebagai pembuka, Adlina Islamiyah, penulis buku Nyanyian Bumi membacakan cerpen berjudul Menipu Arwah karya Rinto Murdomo yang mendapat penghargaan Pemenang I itu. Dilanjutkan penampilan akustik oleh Joko Tri Hariyanto dan Norita dari SMA Negeri 2 Kendal yang menyanyikan lagu dari Naff berjudul Kenanglah Aku dan dari Danny Caknan berjudul Sugeng Ndalu.

Selepas dua penampilan itu, Chadori Ichsan, sebagai moderator memimpin jalannya diskusi dengan mengenalkan dua profil narasumber dan mengundang untuk maju ke tempat ‘persidangan’, diadili di depan para hadirin sekalian. Sesi pertama, moderator mempersilahkan Pak Muslichin bercerita bagaimana awal mula mengikuti sayembara dan mendapatkan nomor-nomor.

Muslichin yang juga guru SMA Negeri 2 Kendal dan Ketua Lesbumi Kendal menceritakan bagaimana awal mula mengikuti sayembara di Balai Bahasa Jawa Tengah. “Awal mula, saya tidak hendak mengikuti sayembara ini, tetapi ternyata, Naka mendorong saya untuk mengikuti sayembara dengan berbagai argumentasinya. Sehingga saya akhirnya mengikuti sayembara dan mendapatkan nomor Pemenang Harapan I ini,” ungkap Muslichin mengawali obrolan.

Kemudian Muslichin memberikan gambaran bagaimana sebenarnya perbedaan antara esai dan artikel secara sederhana. Melalui catatan yang dibagikan kepada hadirin yang hadir, Muslichin mengungkapkan pendapatnya secara gamblang perbedaan esai dan artikel sampai bagaimana membuat esai yang sebenarnya mudah.

“Secara proses, esai lebih memusatkan pada bacaan yang maha luas sebagai dasar pembuatan tulisan. Sebaliknya artikel, penulisnya lebih menyukai gagasan dan persoalan dulu sebelum akhirnya mencari referensi-referensi yang sesuai dengan tujuan menulisnya. Esai lebih subjektif dibandingkan dengan artikel yang objektif dan ilmiah,” demikian Muslichin menjelaskan seperti pada catatannya.

Di akhir sesi, Pak Mus memberikan pandangannya bahwa menulis esai sebenarnya tidak sesulit menulis cerpen. Kuncinya adalah keseriusan dalam membaca esai-esai top karya esais-esais terdahulu. “Ternyata membuat esai itu mudah. Saya hanya membuka laptop dan menekan tuts demi tuts dan tak sadar sudah terbentuk naskah esai. Jika cerpen, tentu saja saya harus berkontemplasi, berimajinasi, dan menakar emosi agar terbentuk cerita yang merangsang pembaca,” ujar Pak Mus menutup sesi pertama.

Obrolan dilanjutkan dengan sesi kedua, moderator mempersilahkan Pak Rinto sapaan akrabnya. Beliau yang merupakan guru SMK Lentera Kendal sekaligus Ahli Keris atau biasa disebut eMpu menceritakan pengalamannya dalam menulis, jatuh bangun dalam menulis dan sampai bisa mendapatkan anugerah dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Kepada orang-orang yang hadir, Pak Rinto bercerita bahwa dia menulis sejak kecil dengan berbagai rintangannya, segala hal yang menjadi kegelisahannya ditulis sedemikian rapi di buku tulisnya. “Saya sebenarnya menulis sejak kecil, berupa diary, yang berisi aktivitas-aktivitas dan kegelisahan saya, baik galau, tidak punya uang dan segala yang menimpa saya. Lalu kemudian diarynya hilang dan saya berhenti menulis. Dan suatu ketika saya tidak mempunyai uang dan belum mendapat kiriman, lalu saya membaca cerpen di koran, dalam benak saya, kok cuma seperti ini. Akhirnya saya menulis cerpen berkali-kali dan dimuat di koran dan mendapatkan (honorarium) 15 - 30ribu,” kenang Pak Rinto tentang masa kecilnya.

Kemudian Pak Rinto mengungkapkan bahwa sebenarnya yang mengirimkan cerpennya kepada panitia Sayembara Penulisan Cerpen bagi Guru itu adalah istrinya. “Jadi, sebenarnya yang mengirimkan cerpen saya itu istri saya, mengetik dari awal mula di buku tulis. Kemudian tiba-tiba ada pengumuman nama saya. Tetapi, karena peraturan dari panitia mengenai batas maksimal, sebenarnya cerpen itu terpotong,” tutup Pak Rinto.
 
Gambar: Seorang hadirin terlihat bertanya pada kedua narasumber
Sebelum sesi tanya jawab dimulai, kembali ditampilkan akustik dari tim OSIS SMA Negeri 2 Kendal dengan menyanyikan lagu Cantik karya Kahitna dan Kartonyono Medhot Janji ciptaan Danny Caknan. Dan dilanjutkan sesi tanya jawab dan diskusi menarik yang begitu mengalir. Obrolan semakin malam semakin hangat ketika kritikan-kritikan dan saling lempar pendapat antara narasumber dan orang-orang yang hadir.

Di tengah-tengah diskusi, Pak Rinto menjelaskan bagaimana sebenarnya menulis itu mudah. “Menulis itu ndak sulit, gampang sekali. Nulis cerpen itu kewahyon. Menulis cerpen mudah sekali, apalagi fiksi. Cerpen saya yang dilombakan berjudul Menipu Arwah itu sebenarnya adalah kritik sosial di masyarakat yang modern tetapi cara berpikir yang urban,” ungkap Pak Rinto.

Jurasik#40 dipaksa ditutup oleh moderator karena sudah mulai larut malam dan dilanjutkan dengan obrolan santai bagi yang masih hendak hinggap di BKR. (JRS/LUK)

Sabtu, 11 Januari 2020

Pulang dari Belanda, Naka Bagikan Oleh-oleh Kata di Jurasik#40


Minggu kedua di bulan Januari masih menyisakan euforia tahun baru, masih begitu terasa bagaimana tahun baru mewarnai tubuh-tubuh kota dengan berbagai gelaran perayaan yang begitu mewah. Tepat hari Jum’at Kliwon, 10 Januari 2020, Jurasik kembali hadir menyapa hujan dan segenap hal-hal yang pernah menjadi kenangan, di tubuh kita, di tubuh kota, dan di tubuh siapa saja, begitu pula di tubuh sebuah negara. Gelaran diskusi mingguan yang telah sampai pada angka 40 edisi ini mendiskusikan segala kenangan kita yang ada di negeri Belanda, negeri Penjajah dan segala hal yang pernah ada dan memiliki riwayat cukup panjang, dibawa langsung dari Negeri Kincir Angin. Diskusi kali ini bertajuk, Cendera Kata dari Leiden.

Selepas Maghrib, hujan deras turun begitu singkat, seolah tau akan ada gelaran yang bakal menyisakan banyak kenangan, gerimis sempat mengguyur beberapa saat sebelum gelaran benar-benar dimulai. Orang-orang mulai datang menuju ke tempat diskusi yang kali ini bertempat di KopiSufi, Brangsong, Kendal. Kopi Sufi yang selalu membawa tagline #bukancafe ini menjadi tempat yang sangat terhormat sebab kedatangan narasumber yang sedang wangi-wanginya, sebab baru pulang dari Leiden Belanda. Tubuhnya masih dingin dengan suhu udara di Leiden Belanda, ingatannya masih terbawa oleh ingatan masa lalu yang dibacanya dari lembar-lembar riwayat sebuah kota yang begitu terjaga di pustaka.

Kali ini, Jurasik#40 sengaja bergeser ke Kopi Sufi, sebab permintaan khusus dari narasumber yang mendapat dua beasiswa sekaligus di tahun 2019, Setia Naka Andrian. Dua residensi sekaligus dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diembannya begitu berat, bukan sekadar jalan-jalan dan mengunjungi sebuah kota begitu saja. Beasiswa itu yang pertama, Pengiriman Sastrawan Berkarya ke Wilayah 3T tahun 2019 di Polewali Mandar, Sulawesi Barat dari Badan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan yang kedua, Beasiswa Residensi Penulis Indonesia 2019 di Leiden Belanda dari Komite Buku Nasional dan Program Beasiswa Unggulan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Malam itu, gerimis sempat hinggap di sekitaran Kopi Sufi, mengguyur tanah-tanah dan segala yang musti disingkirkan dengan air, racun-racun kemalasan, kotoran-kotoran yang berkelakar dan segalanya yang musti dibersihkan secara alami oleh gerimis yang manis. Sekaligus menciptakan aroma tanah yang begitu khas, menambah suasana dan dinamika di Jurasik#40 ini.

Tikar-tikar yang sempat digelar, terpaksa harus dilipat sembari menunggu gerimis reda sepenuhnya. Maklum saja, Kopi Sufi selalu ramai dengan kedatangan orang-orang tatkala sebuah acara di gelar, sampai-sampai, persiapan yang dilakukan oleh Presiden PSK sekaligus pemiliki Kopi Sufi ini selalu sampai di depan bangunan bahkan sampai menutup sebagian jalan.

Sekira 30 menit dari jadwal yang diumumkan, gerimis reda penuh, orang-orang mulai berdatangan memenuhi bangunan, tikar-tikar kembali digelar sampai bahu jalan, obrolan dibuka dengan membaca Al-Fatihah bersama-sama, sesuai adat dan tradisi di Kopi Sufi, memulai segalanya dengan surat pembuka. Bahrul Ulum A. Malik, Presiden PSK, Pemilik Kopi Sufi dan segala yang melekat dalam dirinya, didapuk sebagai moderator memimpin jalannya diskusi mingguan Jurasik kali ini.

Sebelum diskusi dimulai, sebuah kenang-kenangan dibagikan kepada para hadirin yang telah hinggap malam itu, kenang-kenangan cendera kata langsung dari Belanda, berupa pembatas buku yang berisi satu buah puisi Naka yang ditulisnya di Leiden, Belanda sana. Kemudian sebuah kalimat pertanyaan mulai dilemparkan kepada pembicara, dimintanya untuk bercerita dan menarasikan pengalamannya kepada kawan-kawan malam itu.

Setia Naka Andrian memulai dengan permohonan maaf, karena hanya membagikan sebuah cendera kata berupa pembatas buku, yang barangkali dianggap tidak begitu rupa bagi sebagian orang. “Dari dulu pergi kemana-mana tidak pernah yang namanya pulang membawa oleh-oleh. Jadi ya barangkali hanya bisa membagikan oleh-oleh cerita. Karena saya berangkat ke sana (Belanda) karena cerita ya pulang juga membawa cerita pula,” ujarnya memulai obrolan.

Naka kemudian melanjutkan cerita, pengalamannya di tahun 2019 yang sungguh luar biasa, mendapatkan dua beasiswa residensi sekaligus, yang mana semua itu diraih berkat kerja kerasnya dalam bidang yang ditekuninya, “Yang dibutuhkan adalah fokus pada bidang itu, lebih baik mengerjakan satu hal tetapi fokus ketimbang mengerjakan banyak hal tetapi tidak fokus. Barangkali segala riwayat memang harus dicatat. Semua butuh itu, bahasa kerennya Curiculum Vitae,” tegas Naka sedikit gemas.

Kemudian Naka mengingatkan untuk berhati-hati dalam berbicara, barangkali kalimat ‘Ucapan adalah doa’ begitu diamini olehnya, bagaimana tidak, ia mengenang setahun silam, ketika membaca puisi di sebuah gelaran yang diadakan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Kendal. Dia sempat berceloteh ketika membacakan puisi karya Sigit Susanto, penyair asal Kendal yang kini berada di Swiss.

“Saya berawal dari kegiatan di KNPI, membacakan puisi mas Sigit, mengenalkan puisi dari orang Kendal yang masih di Swiss dan kita bacakan sebagai (bentuk) apresiasi, waktu itu saya bilang, barangkali suatu saat kita diundang kesana. Dan itu baru dikabulkan setelah setahun, meski baru saya sendiri yang berangkat. Yang lain belum, belum. Mulai sekarang hati-hati dengan bicara. Meskipun sedikit bercanda tapi tetap serius di hati,” lanjutnya.

Selain bercerita pengalamannya di Belanda, mengunjungi gedung-gedung yang menyimpan riwayat negara kita, yang dijaganya begitu baik, Naka juga bercerita tentang kebaikan mas Sigit, yang telah banyak membantu segala sesuatunya, seperti mencarikan tiket perjalanannya mengelilingi Negeri Kincir Angin dan segala yang dirasa perlu dibantu. “Mas sigit yang begitu baik, memberikan bantuan-bantuan kepada saya,” tutup Naka.

Selepas Naka menarasikan perjalanannya yang teramat lama namun terasa singkat itu, moderator mempersilahkan kepada segenap yang hadir untuk melempar pertanyaan apa saja, dan bebas melempar dari mana saja. Satu persatu, hadirin mengangkat tangannya simbol hendak mengajukan pertanyaan. Dengan demikian ramah, moderator memutarkan pelantang kepada para hadirin yang hendak bertanya tadi.

Ada beberapa pertanyaan dan sedikit yang memberikan kritikan bagi Naka, bagi tubuhnya, bagi dirinya sendiri dan bagi segenap yang hadir. Diantara beberapa pertanyaan itu terkait bagaimana proses kreatif Naka dan hal-hal yang menarik disana. Kemudian, dengan gaya khasnya, Naka mencoba memberikan tanggapan dengan tenang dan santai. Sempat pula dibuka sesi selanjutnya untuk bertanya. Dan obrolan semakin hangat saja. Di akhir diskusi, persembahan dari Naka, membacakan puisi dengan judul Meneroka Tubuh dengan begitu syahdu diiringi rintik-rintik yang mulai datang, pertanda obrolan harus selekasnya diselesaikan. (JRS/LUK)