Senin, 10 Desember 2018

Launching Gubug Seni, Karang Taruna di Patean Undang Penyair Nusantara





Karang Taruna Tunas Muda 28 di Patean Kendal Jawa Tengah, tepatnya di Desa Mlatiharo meresmikan sanggar kesenian yang mereka namai Gubug Seni Karya Kita, Minggu (9/12).

Dalam peresmiannya, mereka mengundang para penyair nusantara diantaranya Hadi Lempe, Bambang Eka P, Slamet, Hugo, Arintoko Robert, Imam RRI, Wahyu Ranggati, Luqni Maulana dan Venny Zega. Tak hanya Penyair Nusantara, beberapa komunitas dan perguruan tinggi juga turut hadir dalam persemian tersebut, diantaranya Pelataran Sastra Kaliwungu (PSK), Teater Atmosfer, Universitas Negeri Semarang (UNNES), dan Univeritas Tidar (UNTIDAR).

Acara dimulai pada pukul 14.00 wib waktu setempat dengan beberapa penampilan dari Karang Taruna Tunas Muda 28 dan beberapa sekolah yang ada di Patean, salah satunya SMK N 7 Kendal. Setelah itu dilanjut oleh beberapa penampilan dari Penyair Nusantara dan komunitas yang hadir dalam acara tersebut.

Launching Gubug Seni Karya Kita ini sebagai ikhtiar dari pegiat seni yang ada di Patean Kendal untuk megenerasi pegiat seni yang ada disana. Kebanyakan remaja sekarang yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersamai gawai juga turut melatarbelakangi terbentuknya Gubub Seni tersebut.

“Kami membentuk Gubug Seni ini supaya anak-anak disini punya kreativitas. Karena sekarang kan banyak remaja yang lebih seneng main hp daripada berproses kreatif” kata Dhiyah Endarwati, salah satu pegiat seni di Patean.


Dhiyah yang juga merupakan penyair tersebut berharap dengan adanya Gubug Seni ini laku kesenian yang ada di Patean khususnya di Desa Mlatiharjo akan terus hidup dan menghasilkan karya-karya yang dapat dinikmati oleh semua orang.

“Minta doanya, Mas. Semoga anak-anak disini istiqomah dalam berkesenian di Gubug ini dan karya-karya mereka bisa dinikmati siapapun” tambahnya.

Senada dengan Dhiyah, Hadi Sulistyono, yang juga merupakan salah satu pencetus Gubug Seni menyadari bahwa masih kurangnya ruang-ruang berkesenian yang ada di Patean ini.

“Kesenian saat ini digandrungi remaja. Namun yang menjadi persoalan adalah kurangnya ruang berkenian yang dapat menampung kreativitas mereka dan sulitnya menemukan ruang dengan pembinaan secara benar. Maka dari itu lewat Gubub Seni Karya Kita ini semoga mampu menjawab persoalan-persoalan tersebut” kata Hadi Lempe, panggilan akrabnya.


Pria yang merupakan seorang Jurnalis tersebut menjelaskan bahwa Gubug Seni Karya Kita ini nantinya tidak hanya di fokuskan kepada Karang Taruna Tunas Muda 28 saja, namun juga masyarakat umum.

“Gubug Seni ini tidak hanya Karang Taruna saja yang boleh ikut. Namun kami juga akan mengajak anak-anak sekolah dari TK sampai SMA, dan juga Mahasiswa. Bahkan nanti masyarakat umum seperti petani yang ada disini boleh untuk bergabung disini” tambahnya.

Keberadaan Gubug Seni Karya Kita ini mungkin akan menjadi stimulus bagi para pegiat seni yang ada di Patean dan sekitarnya. Meskipun Patean merupakan daerah atas Kabupaten Kendal yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Temanggung, namun para pegiat seni dan para remaja yang ada disini tetap semangat untuk terus berkontribusi untuk Kendal. ***(CDR)




Selasa, 04 Desember 2018

Buku Antologi Puisi Tuna Asmara, Eksistensi Jomblo di Kendal


Oleh Chadori Ichsan



Berbicara soal jomblo, tentu semua orang mengetahuinya. Entah itu sebagi pelaku, mantan, pemerhati atau yang lainnya. Beberapa orang di Kendal menyebut seorang jomblo dengan sebutan Tuna Asmara, yaitu seseorang yang tidak punya cinta, dalam konteks ini adalah pasangan. Sering kita jumpai pula, seorang Jomblo biasanya agak sedikit dipandang sebelah mata oleh kawannya yang telah mempunyai pasangan. Beberapa justifikasi tentang jomblo seperti kurang tampan, tidak laku, dan yang lain melekat didadanya. Padahal seseorang memutuskan untuk menjadi jomblo bukan hanya karena itu saja. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit pula yang memang menjomblo karenanya.

Ada banyak cara yang kita lakukan untuk menunjukan eksistensi kita. Olahraga, bernyanyi, atau bermain musik misalnya. Namun ada hal berbeda yang dilakukan oleh 23 jomblo asal Kendal. Mereka mengekspresikan dan menasbihkan diri sebagai seorang jomblo dengan berproses kreatif menerbitkan buku antologi puisi yang bertajuk Tuna Asmara. Sontak saja, hal itu membuat kaget para pihak yang selama ini mendiskreditkan seorang jomblo. Serius? Kok bisa seorang jomblo menerbitkan buku?. Namun hal itu nyata adanya.

Perjalanan ke-23 jomblo Kendal menerbitkan buku antologi puisi Tuna Asmara dimulai dari hal yang bisa kita katakan sangat sederhana. Bahkan beberapa orang dan lainnya tak menyangka dari hal sesederhana itu bisa menjadi laku kreatif. Ya, hal itu dimulai saat acara diskusi mingguan Jurasik (Jumat, Sore, Asik) yang digelar di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Suatu ketika, peserta Jurasik yang telah berkeluarga dan yang telah mempunyai pasangan menyebut beberapa jomblo yang ada di dalam forum Jurasik dengan sebutan kaum Tuna Asmara.

Sebutan kaum Tuna Asmara terus melekat pada jomblo yang hadir di acara yang digelar setiap Jumat sore tersebut. Hingga beberapa episode Jurasik akhirnya sebutan Tuna Asmara menjadi sebuah kebiasaan. Hal semacam itu mungkin bisa dikatakan sebagai ledekan untuk jomblo yang hinggap di Jurasik. Namun bedanya, ledekan itu disikapi dengan istimewa oleh jomblo disitu. Bukan minder atau balas meledek, mereka malah bangga dengan kejombloannya dan membalas ledekan yang disematkan padannya dengan rencana menerbitkan sebuah buku. Bahkan karena rasa bangganya mereka sempat menamakan perkumpulannya tersebut sebagai KETAKS (Kerabat Tuna Asmara Kendal dan Sekitarnya). Meskipun anggota yang ada disitu yaitu beberapa jomblo yang sering hadir di BKR saja. Perekrutan anggota Ketaks pun tak perlu syarat apapun. Jika seorang jomblo yang datang ke Jurasik, maka secara otomatis, sadar atau tidak, ia adalah bagian dari Ketaks.

Rencana yang diinisiasi oleh Ketaks nyatanya bukan rencana kaleng-kaleng. Meski berangkat dari hal yang tak begitu serius, malah terkesan guyonan, namun mereka sangat serius dalam berlaku kreatif. Mungkin jika tak berlebihan, anggota Ketaks ini bisa dikatakan adalah jomblo-jomblo yang berkelas. Karena ia mampu mengonversi hal-hal kecil, di kota yang kecil pula, menjadi sebuah rencana karya yang besar.

Dalam menerbitkan buku Tuna Asmara ini Ketaks tidak sendirian. Beberapa hari berselang setelah rencana penerbitan buku diumumkan oleh Ketaks, mreka langsung menyebar info penerbitan buku ke seluruh jagad raya Kendal dan sekitarnya. Ketaks membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi jomblo yang ada di Kendal entah itu muda atau tua, sebentar atau lama mereka menjomblo, yang hendak ikut berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut. Alhasil setelah melewati berbagai rintangan, sebanyak 23 penyair jomblo asal Kendal dan sekitarnya berhasil terjaring, yang kemudian mengirimkan karya-karya tentang ketuna asmaraannya.

Dalam puisi-puisi yang ditulisnya, para jomblo Kendal ini pun unik-unik dan menggemaskan. Salah satunya yaitu puisi yang berjudul Tertinggal karya Abdullah Khanif. Seperti ini puisinya,“Dalam rangka mengejar cintamu, aku terlambat kasih. Aku baru sampai Palimanan, sedang kau telah sampai pelaminan”. Meski Khanif seorang musisi beraliran Metal yang kesehariannya berpenampilan sangar, namun ketika dihadapkan pada realita percintaan yang dialaminya, Khanif seolah-olah tak berdaya. Selain puisi Tertinggal karya Khanif tersebut, masih banyak lagi puisi-puisi yang unik dan menggemaskan lainnya.

Fenomena peluncuran buku yang digawangi oleh Ketaks ini seakan-akan menjadi tamparan keras bagi mereka yang mendiskreditkan jomblo sebagai orang yang kekurangan cinta dari lawan jenisnya. Lewat beberapa syair yang dituangkannya kedalam buku tersebut, seketika mereka mampu untuk menghadirkan sosok yang diimpikannya, meskipun hanya dalam tulisan. Seperti apa yang disampaikan oleh pengantar buku antologi puisi Tuna Asmara, Muslichin, S. S., M.Pd. Ia menyebut beberapa puisi dari penyair tuna asmara menggambarkan bahwa penyair sedang bermasturbasi cinta dengan menghadirkan sosok yang seakan-akan ada dalam hatinya. Padahal sebenarnya, ia hening, seperti halnya hati Abdullah Khanif tadi.

Sungguh, apa yang dilakukan oleh Ketaks ini menjadi suatu peristiwa yang begitu mengharukan. Bahwa meskipun mereka sulit mengungkapkan perasaannya kepada seseorang, namun ia mampu mengungkapkan perasaannya menjadi sebuah puisi dan diterbitkan dalam sebuah buku antologi puisi. Kini mereka hanya perlu belajar satu hal saja, yaitu bagaimana cara mereka mengungkapkan rasa kepada orang yang dicintainya dengan tepat dan sampai ke hati. Karena hal itulah sebenarnya yang menjadi kelemahan para penyair jomblo asal Kendal ini. Seperti pada puisinya “Aku paling bisa menulis kata tentang cinta. Namun dalam hal mengungkapkan rasa kepada seseorang, aku merasa yang paling bodoh didunia ini”.

Mereka patut bersyukur, karena predikat kejombloanya mereka mampu melahirkan sebuah karya yang tak main-main seperti ini. Mungkin jika saat Jurasik tidak ada ledekan kaum tuna asmara tersebut, Ketaks tidak mulai merencakan itu menjadi sebuah karya, mungkin guyonan itu hanya menjadi guyonan belaka dan buku antologi puisi Tuna Asmara ini tidak akan tercipta. Andaikan pula, waktu itu mereka mempunyai pasangan dan terlalu nyaman dengan pasangannya. Belum tentu mereka mampu berproses kreatif seperti ini. Jadi untukmu yang kini punya pasangan dan belum berproses kreatif, boleh coba untuk jomblo sejenak. Siapa tahu pacarmu nanti bakal pacaran dengan penyair tuna asmara ini. Hehehe...

Dilihat dari kualitas puisi, tentu kita tak bisa membandingkan kualitas puisi penyair jomblo ini dengan puisi-puisi karya penyair nasional semacam Djoko Pinurbo, Sapardi Djoko Darmono, ataupun yang lain. Terlepas dari itu semua, kita bisa belajar dari Ketaks dan penyair tuna asmara ini. Bahwa sebuah karya yang besar, belum tentu dimulai dari hal yang besar pula. Bisa jadi lewat guyonan, ledekan, atau apapun hal yang begitu sederhana, mampu melahirkan karya yang besar. Asalkan kita serius dan tulus dari dalam lubuk hati kita. Namun jika buku antologi puisi Tuna Asmara ini dikatakan jelek, kurang tepat juga. Nyatanya hanya dalam 2 minggu, buku antologi puisi Tuna Asmara tersebut telah terjual habis. Bahkan, mereka berencana untuk melakukan penerbitan ke-2. Wow!

Rencana, buku antologi puisi Tuna Asmara ini akan dibedah di acara Kendali Seni Kendal 2018 yang akan digelar di Kantor Kecamatan Kaliwungu, 22-23 Desember mendatang.

Semoga dengan terbitnya buku antologi Tuna Asmara ini menjadi stimulus bagi kita semua untuk tetap breproses kreatif. Sesederhana apapun caranya. Semoga pula Ketaks dan penyair jomblo Kendal ini mampu melahirkan karya-karya barunya.

Salam..

Chadori Ichsan, Mahasiswa Fakultas Ilmu Keolahragaan UNNES, Penggila bola yang kuliah di jurusan kesehatan. Bermukim di pinggiran Kota Kendal dan chadoriichsan.blogspot.com. Penggemar berat Via Vallen dan Nella Kharisma. Pemuda yang mempunyai prinsip “maido adalah cinta”. Dapat disapa melalui ig @superchadori dan wa 08979112799

Minggu, 02 Desember 2018

Begini Cara PSK Rayakan Ulang Tahun



Setiap orang, organisasi, maupun komunitas mempunyai caranya tersendiri dalam merayakan hari ulang tahunnya. Ada yang merayakannya dengan tumpengan, doa bersama, atau yang lainnya.

Pelataran Sastra Kaliwungu atau yang kerap disingkat PSK, merayakan ulang tahunnya dengan proses kreatif yaitu dengan cara mengadakan pelatihan menulis puisi dengan mendatangkan narasumber Heri Condro Santoso atau yang akrab disapa Heri CS.

Heri CS merupakan penyair dan jurnalis yang giat bergerak dalam bidang literasi. Beberapa karyanya pernah dibukukan, salah satunya dalam antologi esai "Ramadan di Kampung Halaman" yang diinisiasi oleh Lembaga Seni dan Budaya (Lesbumi) NU Kendal.

Selain sebagi penulis, Heri CS juga merupakan pegiat komunitas yang ada di Kendal. Ia merupakan koordinator Komunitas Lereng medini Kendal. Komunitas yang bergerak dalam bidang literasi tersebut mempunyai beberapa program. Salah satunya acara tahunan yang bertajuk Kemah Sastra. Sebuah wadah diskusi literasi dengan mendatangkan penyair kelas nasional.

Acara Pelatihan Menulis Puisi yang adakan dalam rangka ulang tahun PSK ke-7 tersebut disambut baik oleh beberapa peserta. Tercatat, sebanyak 26 peserta antusias mengikuti pelatihan yang diadakan di MI NU 04 Kumpulrejo Kaliwungu pada minggu pagi, 2 Desember 2018. Tak hanya dari Kendal, beberapa mahasiswa dari Semarang pun turut hadir mengikuti pelatihan.

Presiden PSK, Bahrul Ulum Amalik, menuturkan bahwa pelatihan menulis ini sebagai ikhtiar PSK untuk terus bergerak dalam dunia literasi, khususnya di Kabupaten Kendal. "Pelatihan ini adalah salah satu rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati hari lahir PSK. Pelatihan ini juga sebagai ikhtiar kami dalam meningkatkan laku kreatif dalam hal sastra"

Pria yang akrab disapa Ulum tersebut juga menambahkan, dalam kiprahnya selama 7 tahun ini PSK telah mengadakan beberapa program. "PSK lahir pada tanggal 9 Desember 2011, waktu itu para pegiat sastra di Kaliwungu ini ingin ada sebuah wadah yang bisa memberikan ruang untuk bergerak dalam bidang sastra. Makanya dari obrolan satu sama lain kami sepakat membentuk Pelataran Sastra Kaliwungu. Kami mempunyai 2 sub program. Program yang sifatnya diskusi, masuk dalam sub ngopi sastra. Sedangkan yang sifatnya apresiasi sastra masuk dalam sub D'Ruang"

Dalam pelatihan, Heri CS menjelaskan beberapa kiat-kiat menulis puisi. Menurutnya salah satu hal yang paling mendasar dalam menulis entah itu puisi, esai, atau yang lain adalah SPOK. "Sebagai penulis, hendaknya kita menguasai beberapa teknik. Salah satunya yaitu bahasa dan SPOK. Bahasa adalah alat kita dalam menulis. Sama halnya seperti kuli bangunan yang mempunyai alat semacam palu untuk membangun sebuah rumah, sastrawan juga harus mempunyai alat untuk membangun sebuah tulisan". Ungkap pria yang merupakan alumni Sastra Indonesia Universitas Diponegoro Semarang tersebut.

Ia juga menambahkan, bahwa membaca puisi dari penyair lokal maupun nasional sangat membantu dalam menulis puisi. "Untuk menulis puisi, hendaknya kita membaca puisi-puisi orang lain agar kita bisa tahu gaya penyair dalam menulis puisi. Misalnya Sapardi Djoko Darmono dengan gaya puisinya yang sederhana namun sangat mengena, puisi WS Rendra yang kebanyakan menceritakan tentang kehidupan sosial, ataupun Wiji Tukul yang puisinya merupakan bentuk kritik terhadap pemerintahan".

Selain itu, Heri CS juga meminjam salah metode Ki Hajar Dewantara dalam menulis puisi. Menurut Ki Hajar Dewantara, ada metode 3N dalam menulis puisi, Niteni (membaca), Nirokke (menirukan), dan Nambahi yaitu (Menambahkan, Mengarang)


Tidak hanya sekedar materi yang disampaikan oleh narasumber, para peserta pun dituntut untuk menulis puisi pada pelatihan tersebut. Beberapa karya dari peserta diapresiasi oleh narasumber dengan diberikan buku.

Rencana puisi-puisi yang telah ditulis oleh peserta pelatihan menulis puisi yang diadakan PSK tersebut akan dibukukan.

***(CDR)

Sabtu, 24 November 2018

Jurasik #32 (Setelah Sempat Libur, Jurasik Kembali Hadir Apresiasi Film)


Jurasik (Jumat, Sore, Asik), acara diskusi mingguan komunitas dan seniman Kendal, kembali hadir setelah beberapa minggu libur.

Pada Jurasik kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Biasanya kita kenal Jurasik dilaksanakan di Gedung Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Namun, pada Jurasik edisi ke-32 ini dilaksanakan di Halaman MI NU 04 Kumpulrejo Kecamatan Kaliwungu.

"Kami sengaja menggelar Jurasik minggu ini disini. Alasannya supaya Jurasik lebih fleksibel dan lebih dikenal masyarakat luas. Biasanya kita hanya stay di BKR, namun kami mencoba hal yang baru dengan mendatangi masyarakat" terang Tanjung Alim Sucahya, koordinator Jurasik.

Hal tersebut disambut baik oleh masyarakat sekitar MI. Bahkan ada masyarakat yang dengan senang hati meminjamkan pengeras suaranya untuk Jurasik dan ada juga yang mengirim makanan. "Alhamdulillah respon masyarakat disini baik. Semoga ini menjadi awal silaturahmi Jurasik dengan masyarakat sini" tambah Tanjung.

Kehadiran Jurasik kali ini membawa tema apresiasi film pendek pelajar Kendal. 5 film pendek garapan asal Kendal ditayangkan dalam acara tersebut. Antara lain Kapan?(SMA NU 04 Kangkung), Keduwung Mburi(MA NU 03 Sunan Katong Kaliwungu), Goresan Mimpi (SMP Unggulan PMS Kendal), Tiwas(SMA N 1 Kaliwungu), Gara-Gara SUSU(SMP Unggulan PMS Kendal).

Sutradara dari kelima film tersebut, Sutrisno, dihadirkan dalam acara Jurasik ke-32 tersebut. Ia berharap dengan adanya film pelajar tersebut dapat melatih kreativitas pelajar yang ada di Kendal di dunia perfilman. "Kita tahu tidak semua sekolah yang ada di Kendal mempunyai ekstrakurikuler film. Nah semoga dengan adanya film yang dimainkan oleh pelajar Kendal ini dapat memicu sekolah-sekolah untuk mulai bergerak dalam perfilman" kata Sutris, panggilan akrabnya.

Selain sutradara dari film, hadir pula dari perwakilan Kabelan Id yang merupakan salah satu cabang dari Indonesian Film Coorporate, Tatang. Ia sangat mengapresiasi acara Jurasik. "Saya bangga dengan adanya acara Jurasik ini. Semoga dengan adanya diskusi film semacam ini, dapat meningkatkan kualitas perfilman Indonesia" kata pria yang berasal dari Cepiring tersebut.

Rencananya di minggu kedepan Jurasik akan kembali hadir menyambangi desa-desa maupun kota-kota untuk melebarkan sayapnya. ***(JRS/CDR)


Senin, 19 November 2018

UNDANGAN MENULIS "Bacaan Pertama"


Info Penerbitan Buku

Jarak Dekat Art Production melalui program kreatifnya,  Medan Keabadian Kata mengundang kepada siapa saja dalam kerja penulisan esai hingga tulisan-tulisan tersebut selanjutnya dihimpun dalam sebuah penerbitan buku. Esai tersebut bertema,

"Bacaan Pertama" 
tentang pengisahan pengalaman pertama membaca Anda, tentang perjumpaan diri Anda dengan dunia bacaan, baik dengan buku-buku sastra, majalah,  komik,  atau bacaan-bacaan lain yang tentu segala itu menjadi pijakan awal bagi peristiwa membaca Anda selanjutnya, dan begitu berarti bagi hidup Anda.

Syarat dan ketentuan:
1. Penulis adalah Warga Negara Indonesia (diutamakan alumni/peserta Kelas Menulis Kreatif Barang Bukti Bangun Kreativitas #9), namun terbuka pula bagi siapa saja yang hendak mengikuti pembukuan ini. 
2. Esai ditulis dalam file ms word (RTF).
3. Esai dengan panjang antara 4000 s.d 6000 karakter (dengan spasi).
4. Sertakan biodata singkat dalam satu file ms word tersebut. Termasuk nomor ponsel yang bisa dihubungi.
5. File tersebut dikirim ke email: jarakdekat.art@gmail.com atau ke wa 08979112799
6. Setiap karya yang masuk akan diseleksi oleh tim kurator.
7. Penerbitan buku ini tidak dikenai biaya, hanya saja jika memungkinkan nanti akan ada bantingan seikhlasnya untuk mengganti biaya cetak. Seikhlasnya namun tetap mempertimbangkan kepatutan.
8. Setiap penulis yang menyumbangkan karya (tulisannya) tidak akan mendapatkan royalti, namun hanya mendapatkan satu eksemplar buku sebagai bukti terbit, dan akan diberikan pada saat peluncuran buku.
9. Esai dapat dikirim mulai 18 November 2018 hingga batas waktu 1 Desember 2018
10. Esai yang terpilih untuk dibukukan akan diumumkan pada 3 Desember 2018.
11. Selanjutnya buku akan diproses cetak, dan kemudian dilaunching. 

Begitu kiranya, kami tunggu karya Saudara.
Salam.

Medan Keabadian Kata
Jarak Dekat Art Production

Barang Bukti Bangun Kreativitas #9 (Kelas Menulis Kreatif)


Rabu, 14 November 2018

Jurasik #26 (Sanggar Lontong Opor dan Musik Punk Rock asal Boja Meriahkan Jurasik)


Jurasik #26

Sanggar Lontong Opor dan Musik Punk Rock asal Boja Meriahkan Jurasik




Sanggar Longtong Opor (SLOP) dan band beraliran  Punk Rock Alternatif asal Boja yanng bernamakan Lowsaider Boja PunkRock dihadirkan dalam Jurasik edisi 26 yang diselenggarakan di Balai Kesenian Remaja Kendal, jumat 21 September 2018.

Acara jurasik ke-26 ini dimulai dengan penampilan Lowsaider Boja PunkRock. Mereka membawakan lagu ciptaan mereka sendiri yang berjudul Suara Kami. Setelah itu dilanjutkan dengan sharing session dengan Sanggar Lontong Opor dan Lowsaider Boja Punk Rock.
Lowsider Boja Punk Rock merupakan komunitas band punk rock alternatif asal Boja. Band dengan beranggotakan Heru Hermawan (Vocal+Guitar), Ficki (Bass), dan Winkan (Drum) ini telah merilis 5 lagu. “Sejak terbentuk pada 26 Desember 2017 lalu, kami sudah rilis 5 lagu yaitu Suara Kami, Boja Punk Rock, Kausa, Goresan Mimpi, Tresnomu As” kata Heru Hermawan, Vokalis Lowsider Boja Punk Rock.

Setelah Lowsider Boja Punk Rock selesasi, dilanjut sesi berikutnya yaitu Sanggar Lontong Opor yang merupakan komunitas seni rupa yang ada di Kendal. Komunitas ini merupakan metamorfosa dari Kendal Sketcher(KS). “KS dibentuk awal 2012 setelah proses perkenalan dari perupa ketika momen pameran Seni Adalah Senjata pada Desember 2011. Sampe pada akhirnya Idul Fitri 2017 kami merubah nama komunitas menjadi SLOP seperti sekarang ini”. Kata Dante Abdul Muis, Ketua SLOP.

Perihal nama. Dante menambahkan bahwa momen idul fitri mempunyai andil besar atas pergantian nama komunitas ini. “Kami merubah nama komunitas bertepatan dengan momen idul fitri. Maka dari itu kami namai Sanggar Lontong Opor, karena Idul Fitri identik dengan Lontong Opor hehe..”. Dalam kirahnya, SLOP beberapa mengadakan kegiatan berkaitan dengan seni rupa. Diantaranya yaitu Pameran Kelompok dan Wokshop Seni Cukil.
Acara Jurasik malam itu ditutup oleh penampilan kembali dari Lowsider Boja Punk Rock. (JRS/CDR)